Archive for Oktober 2012
My bestfriend, my true love
Sebelumnya, aku tidak pernah tahu makna cinta, karena menurutku yang
lebih indah dari semua itu adalah persahabatan. Persahabatan lebih dari
apapun, karena mencari sahabat sejati begitu susahnya, seperti mencari
sebatang jarum diantara tumpukan jerami. Bersama seorang sahabat kita
dapat berbagi cerita tentang kebahagiaan dan kesedihan, bahkan sampai ke
hal-hal yang pribadi. Aku sendiri mempunyai seorang sahabat yang sangat
kupercaya yang kukenal sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.
Sorot matanya yang teduh bagaikan cahaya yang menerangi disaat gelap,
senyumnya seperti embun pagi yang menyejukkan hati, serta sikapnya yang
lembut namun juga mampu tegas dan bijaksana membuat siapapun merasa
dekat dengannya. Tapi jangan salah sangka dulu, ia bukan tipe orang yang
sangat serius. Ia juga bisa bercanda, dan hanya saat bersamanyalah aku
bisa melupakan kesedihan hatiku, walaupun hanya untuk sejenak. Aku
banyak belajar dari dirinya, begitupun sebaliknya. Aku merasa sangat
nyaman bersahabat dengan seseorang yang kupercayai. Ia selalu ada disaat
aku senang, menghibur disaat sedih, dan mengingatkan disaatku lalai.
Dulunya aku adalah seorang yang procrastinator alias sering
menunda-nunda waktu. Kemudian ia datang dan mengajariku mengenai
pentingnya mengatur waktu karena fokus dan tujuan hidupnya selalu
berorientasi pada waktu. Ia mampu mengatur, mengelola dan mengorganisir
waktunya dengan baik .
“Udah bikin tugas, belom?” tanyanya disaat kami masih berseragam putih abu-abu, tetapi aku hanya menggeleng sambil menatapnya penuh harap.
“Kenapa? Ada materi yang belum dimengerti, ya, Fi?” tanyanya lagi yang membuat senyumku mengembang.
“Ya udah, sini aku ajarin,” lalu dengan sabarnya ia mengajariku tentang tips-tips menguasai rumus hidrokarbon mata pelajaran Kimia. Aku seringkali merasa rendah diri bila mengingat kemampuanku yang belum seberapa kemampuannya bila dibandingkan dengannya.
“Udah bikin tugas, belom?” tanyanya disaat kami masih berseragam putih abu-abu, tetapi aku hanya menggeleng sambil menatapnya penuh harap.
“Kenapa? Ada materi yang belum dimengerti, ya, Fi?” tanyanya lagi yang membuat senyumku mengembang.
“Ya udah, sini aku ajarin,” lalu dengan sabarnya ia mengajariku tentang tips-tips menguasai rumus hidrokarbon mata pelajaran Kimia. Aku seringkali merasa rendah diri bila mengingat kemampuanku yang belum seberapa kemampuannya bila dibandingkan dengannya.
Beberapa waktu lalu ia mengunjungi rumahku, dan seperti biasanya ia
menceritakan banyak hal yang membuatku lupa waktu. Penampilannya
sederhana, dan sikapnya terhadapku juga sama seperti biasanya, tak ada
yang berubah. Tetapi suasana hatiku yang terlalu bahagia saat itu
membuatku bertanya padanya,”Ehem…, tumben rapi banget? Janjian dengan
doi, ya?”
Dan saat itulah ia bersemangat menceritakan seseorang yang berhasil mencuri hatinya. Ia mengatakan padaku bahwa ini adalah cinta pertamanya. Aku sangat berharap ia sedang menceritakan diriku, tetapi….
“Kalau kamu sendiri gimana, Fia? Udah punya gebetan juga?”
Hatiku langsung ciut saat ia malah balik bertanya padaku, tetapi aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, bahwa Ayyas, sahabatku itu pasti sedang menguji hatiku. Sementara itu, aku hanya menggeleng sambil berusaha tetap tersenyum, meskipun didalam hati aku merasakan perih yang teramat dalam.
Untuk memastikan siapa gerangan yang sedang ia ceritakan, akupun memberanikan diri untuk bertanya,”Memangnya siapa dia, Yas? Cantik, ya?”
Aku melihatnya hanya tersenyum simpul, seperti orang yang sedang kasmaran. Matanya yang teduh menerawang ke langit-langit ruang tamu rumahku,”dia cantik, dan sifatnya secantik wajahnya. Namanya Bella, teman satu kampus denganku,”
Ayyaspun bercerita mengenai Bella secara detail. Bella adalah tipe wanita yang jauh lebih unggul dibandingku. Secara akademis ia berhasil membawa nama baik sekolahnya saat SMA setelah memenangkan medali emas dalam ajang olimpiade Matematika se-provinsi. Selain itu, ia juga sungguh mempesona karena keanggunan dan kepribadiannya yang sholehah. Aku dapat merasakan panas didalam hatiku, tapi aku berusaha menutupinya. Aku hanya tak ingin dia mengetahui perasaanku, setidaknya sampai beberapa hari.
“Oh….,”hanya itu yang keluar dari mulutku, aku tak dapat berkata apapun lagi.
“Kok itu doang, Fia? Kasih selamat dong, atau apa kek, gitu….?”tanya Ayyas membuyarkan lamunanku.
Dan saat itulah ia bersemangat menceritakan seseorang yang berhasil mencuri hatinya. Ia mengatakan padaku bahwa ini adalah cinta pertamanya. Aku sangat berharap ia sedang menceritakan diriku, tetapi….
“Kalau kamu sendiri gimana, Fia? Udah punya gebetan juga?”
Hatiku langsung ciut saat ia malah balik bertanya padaku, tetapi aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, bahwa Ayyas, sahabatku itu pasti sedang menguji hatiku. Sementara itu, aku hanya menggeleng sambil berusaha tetap tersenyum, meskipun didalam hati aku merasakan perih yang teramat dalam.
Untuk memastikan siapa gerangan yang sedang ia ceritakan, akupun memberanikan diri untuk bertanya,”Memangnya siapa dia, Yas? Cantik, ya?”
Aku melihatnya hanya tersenyum simpul, seperti orang yang sedang kasmaran. Matanya yang teduh menerawang ke langit-langit ruang tamu rumahku,”dia cantik, dan sifatnya secantik wajahnya. Namanya Bella, teman satu kampus denganku,”
Ayyaspun bercerita mengenai Bella secara detail. Bella adalah tipe wanita yang jauh lebih unggul dibandingku. Secara akademis ia berhasil membawa nama baik sekolahnya saat SMA setelah memenangkan medali emas dalam ajang olimpiade Matematika se-provinsi. Selain itu, ia juga sungguh mempesona karena keanggunan dan kepribadiannya yang sholehah. Aku dapat merasakan panas didalam hatiku, tapi aku berusaha menutupinya. Aku hanya tak ingin dia mengetahui perasaanku, setidaknya sampai beberapa hari.
“Oh….,”hanya itu yang keluar dari mulutku, aku tak dapat berkata apapun lagi.
“Kok itu doang, Fia? Kasih selamat dong, atau apa kek, gitu….?”tanya Ayyas membuyarkan lamunanku.
Kemudian ia menatap mataku, dalam waktu yang relatif lama kami beradu pandang. Ada satu hal yang membedakan kami yaitu ia menatapku penuh tanda tanya, sedangkan aku menatapnya tajam. Herannya, Ayyas sama sekali tidak marah, ia malah mengeluarkan jurus andalannya yaitu tersenyum manis sambil memasang wajah lucu. Akhirnya kali ini aku menyerah, dengan setengah hati aku menuruti permintaannya,”Selamat ya, Yas. Mudah-mudahan jadi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah…,”
“Hahahaha!!! Hari gini kamu masih sempet-sempetnya bercanda, ya, Fi.., kami kan belum married, hahaha….!” tawanya.
Aku manyun. Sementara itu ia bingung melihat perubahan sikapku yang boleh dikatakan drastis.
“Hmmm…, tadi ketawa, sekarang kok manyun?”
“Gak tau…,”sahutku ketus.
“Jangan gitu donk, sobat…., ntar kesambet, lho….,”kilahnya sambil memasang wajah lucu yang membuatku tak dapat lagi menahaan tawa.
“Nah, gitu dong. Senyum dikit…, kan keliatan cantiknya,”ia mulai merayuku lagi. Aku sendiri tidak mengerti apa yang harus kulakukan. Sejujurnya aku ingin marah, tetapi aku tak ingin memarahinya hanya karena perasaanku, karena itu berarti aku ingin menang sendiri. Namun anehnya, di hatiku terbersit sebuah rasa senang yang sulit kuungkapkan saat ia berujar seperti tadi. Aku tak ingin menghancurkan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun hanya karena rasa ‘aneh’ ini.
“Anyway, gimana kuliahmu, Fi? Kapan ujian semesteran?”
“Dua minggu lagi,”jawabku singkat.
“Gak nanya balik? Biasanya kamu nanya balik ke aku…?” tanyanya.
“Ok…, kalau kamu?” tanyaku sambil memandangnya sekilas.
“Kalau aku seminggu lagi. Doakan ya, semoga lancar,”
“Aamiin,”jawabku singkat. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi didalam hatiku, seolah ada rasa yang ingin memberontak, tetapi aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya.
Ia melirik jam tangannya, saat itu memang sudah sore. Iapun pamit.
“Fi, aku pulang dulu, ya, Insya Allah kalau ada waktu aku kesini lagi. Masih ada banyak hal yang belum sempat aku ceritakan. Assalamu’alaikum,” pamitnya sambil melangkah keluar.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku pelan. Didalam hati aku benar-benar gusar. Untuk apa dia menceritakan ‘seseorang spesial’nya itu kepadaku? Untuk memanas-manasi hatiku? Atau untuk memamerkan padaku? Aku sungguh tak mengerti, aku merasa ia telah berubah dan tak lagi seperti Ayyas yang dulu kukenal.
Dan sejak saat itulah aku tak lagi bertemu dengannya. Janji hanya tinggal janji. Dulu ia mengatakan padaku masih banyak hal yang ingin ia ceritakan, tetapi sampai sekarang ia tak pernah menepatinya. Malam ini tepat tiga bulan setelah kejadian tersebut, dan sejak itulah kami tak lagi saling berkomunikasi. Hari-hariku menjadi sepi tanpanya, namun aku mencoba kuat. Ingin rasanya aku kembali menghubunginya, tetapi aku tahu hal tersebut akan menjadi sia-sia. Ia tidak pernah sekalipun peduli mengenai perasaanku, ia tidak pernah tahu, bahkan tidak pernah mempedulikan arti sebuah rasa yang telah lama tersimpan di hatiku. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku menjatuhkan pilihanku padanya, jujur aku tidak pernah memimpikannya menjadi pangeranku. Tetapi entah mengapa tiba-tiba saja rasa itu hadir ditengah seringnya intensitas kebersamaan kami. Ia menjelma menjadi seseorang yang menghapus luka disaat diriku sedih, menolongku untuk bangkit disaat aku terjatuh, dan mendukungku disaat senang, aku tahu seharusnya aku mengabaikan saja semua ini, karena aku tahu dia dan aku berbeda.
Ya, berbeda. Ia jauh lebih unggul dibandingkan aku. Ia memiliki segalanya, sedangkan aku? Aku ini bukan siapa-siapa, hanya seorang mahasiswi biasa yang tidak sepopuler dia. Dalam bidang akademis, aku juga harus mengaku kalah. Ia menjadi tumpuan harapan teman-temannya disaat ujian. Biasa deh, jadi sesepuh, hehe. Namun bukan itu hal yang membuat aku mengaguminya. Menurutku ia lebih dari sekedar seseorang yang baik. Sama seperti yang kujelaskan tadi, Ayyas adalah orang yang bijaksana dan bertanggungjawab. Aku merasa ada medan magnet yang tak mampu kutarik dari hatinya. Sebuah asa yang nyaris kugapai ternyata harus pupus begitu aku mendengar cerita darinya.
Satu hal yang masih tidak bisa kupahami adalah, mengapa aku menjatuhkan pilihan padanya? Padahal sudah begitu banyak lelaki yang menyatakan perasaannya padaku, mulai dari yang malu-malu tapi mau, hingga menyatakan langsung alias to the point. Mulai dari seseorang yang biasa saja hingga yang luar biasa dan bertalenta. Tetapi itu semua masih saja belum cukup untuk memudarkan perasaanku padanya. Aku tidak tahu entah magnet apa yang ada didalam hatinya, sebuah magnet yang berhasil menarik hatiku. Aku tidak tahu hal apa lagi yang hendak disampaikannya padaku, mungkin saja ia sudah lupa, bahkan mungkin saja sama sekali ia sudah tidak mengingatku lagi.
Nggak, nggak mungkin, aku yakin pasti dia sedang mengingatku juga disana, walaupun hanya sekilas. Dalam keheningan malam ini aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Allah memberikan jalan yang terbaik untukku, apapun itu.
Berbicara mengenai Bella, aku memang belum mengenalnya, apalagi melihat wajahnya. Tetapi setelah mendengar cerita Ayyas itu, aku mengambil kesimpulan bahwa aku memang bukanlah orang yang tepat untuknya. Mulai saat ini aku tak ingin mengingatnya lagi. Tak ada gunanya mengharapkan seseorang yang tidak pernah mempedulikan diriku. Biarlah ia bahagia bersama pilihan hatinya, dan aku juga akan bahagia untuk itu. Setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing. Aku yakin tulang rusuk tidak akan pernah tertukar dengan pemiliknya dan akan dipertemukan kembali pada saat yang tepat. Aku akan sangat bersyukur bila ia adalah jodoh yang ditakdirkan Allah swt untukku, namun bila kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, aku akan berusaha ikhlas dan mendoakan yang terbaik untuknya. Terkadang hal yang kita inginkan dan harapkan berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Setiap fase kehidupan yang kita lalui di dunia ini pasti ada hikmahnya. Dibalik semua kejadian yang terjadi saat kita lahir, dewasa, hingga ajal menjemput memiliki hikmah tersendiri. Aku sendiri baru saja melewati fase kehidupan mengenal arti cinta. Aku mengerti cinta itu adalah sebuah rasa yang tak dapat dipaksakan. Kita tidak dapat melarang atau memaksakan seseorang untuk menjatuhkan pilihan hatinya kepada kita, hanya saja tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Pada dasarnya cinta terbagi dua, cinta karena mengharap ridho Allah dan cinta berlandaskan nafsu semata. Aku berharap semoga aku tidak menjatuhkan pilihan hati kepada seseorang hanya karena fisik dan hartanya, karena yang lebih kekal daripada itu adalah hati dan keimanannya.
Aku melirik ponselku yang terletak diatas meja, dan ternyata hasilnya masih sama seperti hari-hari kemarin sejak kejadian itu. Tidak ada BBM yang biasanya membangunkan aku saat dini hari untuk mengingatkan tahajud, dan juga tidak ada missedcall darinya yang terkadang membuatku kesal sekaligus senang. Kesal karena ia berhasil mengerjaiku ditengah malam sekaligus senang karena ia mengingatkanku untuk bertahajud cinta.
Kini semua itu hanya tinggal kenangan. Disaat aku sedang online di akun YM, Gtalk atau Skype pun hasilnya akan nihil. Ia benar-benar sudah melupakan aku. Itulah kenyataan yang menghujam perasaanku.
***
Pagi ini mentari bersinar cerah. Aku ingin seperti mentari yang tak pernah ingkar janji untuk selalu menghangatkan bumi dengan sinarnya. Kini aku telah terbiasa tanpa kabar darinya. Sambil bersenandung kecil, aku mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah. Aku ingin menjadi seperti Fia yang dulu, menjadi seseorang yang periang dan bersemangat menjalani hari-hari. . Aku tidak ingin dia tahu tentang perasaanku ini, perasaanku padanya cukup kusimpan dan kututup rapat-rapat di relung hatiku yang terdalam. Sekarang aku berusaha untuk tidak menodai persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun, walau terkadang batin ini sering bertentangan dengan ucapanku.
Ponselku tiba-tiba berdering. Sebenarnya aku malas untuk mengangkatnya, tetapi firasat hati ini membuatku melangkah mengambil ponsel yang terletak diatas meja. Kulihat nama yang tertera dilayar ponsel. Sebuah nama yang sudah tiga bulan ini tidak pernah muncur di layar ponselku. Perasaanku langsung berubah tak menentu begitu membaca nama yang tertera. Ada apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa tiba-tiba Ayyas menghubungiku?
“Halo, assalamu’alaikum….,” sapa Ayyas.
Aku terdiam cukup lama untuk membalasnya,”Wa…, wa’alaikumsalam,”
“Heiii…, apa kabar, Fia? Udah kelar, kan, ujian semesterannya?”
Tanpa merasa bersalah sedikitpun ia menanyakan pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban.
“Sekarang ini aku sudah mid semester selanjutnya, mengapa masih menanyakan ‘ujian semesteran’ lagi? Memangnya dia belum mid semester, apa?” gumamku dalam hati.
“Fia, aku mau curhat lagi nih, boleh, kan….?” tanyanya santai.
Aku membalasnya dingin,”Boleh. Tanyain aja,”
“Lho, kok ketus gitu sih jawabannya…? Kemana Fia-ku yang dulu? Yang lembut, manis, penuh ceria dan optimis?”
“Fia yang dulu udah meninggal!”
“Astaghfirullah, Fia.., pamali ngomong gitu…, jadi ngambek nih, ceritanya….?”
Aku hanya diam seribu bahasa.
“Hm…, ok, ok, aku ngaku salah. Aku minta maaf banget ya, Fia, karena udah tiga bulan ini nggak menghubungimu. Maklum, sindrom mahasiswa, apalagi mahasiswa tingkat akhir kan banyak galaunya. Yah sekalian juga sibuk sama si doi…, hehehehe….,”
Mendengar kata-kata itu aku berusaha mencairkan suasana,”Ok, aku maklum kok. Iya deh, orang penting pasti sibuk banget, ya? Sampai-sampai untuk menghubungi akupun nggak sempat,”
“Ya…, kan aku udah minta maaf…? Forgive me, please, Fia….,”
Ayyas mulai mengeluarkan jurus yang cukup ampuh untuk meredam emosiku.
“Ok…, katanya kamu mau curhat? Curhat apa, Yas?” tanyaku.
“Ng…, ini bukan curhat sih, Fi. Sebenarnya aku ingin meminta penilaianmu sebelum aku melangkah lebih serius lagi dengan Bella. Kapan kita bisa ketemuan? Kan kamu udah lama nggak jumpa denganku?”
Aku berpikir sejenak, dan teringat besok aku tidak ada jadwal kuliah,”gimana kalo besok aja, Yas? Besok aku free, jadi kita bisa ketemuan,”
“Wah, sama dong, Fi. Besok aku juga free. Gimana kalo di tempat biasa? Tempat yang sering kita kunjungi dulu bareng teman-teman se-gank?”
“Ok. Besok ba’da Ashar kita ketemuan di tempat biasa,” tutupku.
Batinku menjadi tak menentu, aku mencoba menerka-nerka, kira-kira apa yang hendak disampaikan Ayyas.
Setelah menutup pembicaraan, akupun bersiap-siap berangkat ke kampus. Sekarang sudah jam 8 pagi, namun tiba-tiba langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung, seakan-akan ikut merasakan kesedihan yang ada di hatiku. Ya Allah, kuatkan hatiku. Aku tak ingin dia tahu perasaanku yang sebenarnya, cukup hanya Engkau yang Maha Mengetahui isi hati yang tersirat dan tersurat ini.
Aku bahkan ragu untuk menyetir menuju ke kampus karena aku tak yakin mampu menyetir dalam cuaca dan hatiku yang tak menentu seperti ini. Lalu bagaimana dengan presentasiku pagi ini? Sekarang adalah giliran kelompokku untuk mempresentasikan perbandingan software aplikasi, sejak jauh-jauh hari aku mengunduh beberapa software aplikasi yang menurutku menarik untuk ditinjau kelebihan dan kekurangannya. Bila aku tidak datang, tentu saja itu merugikan aku dan juga teman-temanku sesama anggota kelompok.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi aku berangkat ke kampus, lalu mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja. Di tengah perjalanan aku masih mengingat dengan jelas saat-saat kebersamaan kami di SMA dulu.
Aku memutuskan untuk melewati jalan pintas agar cepat sampai di kampus. Aku melewati sebuah gang kecil yang hanya cukup untuk satu arah. Disaat aku berbelok ke kiri menuju jalan utama yang memiliki satu jalur dua arah, tiba-tiba dari arah depan aku melihat sebuah truk yang melaju kearahku. Truk itu keluar dari jalur yang seharusnya, entah apa penyebabnya aku tidak tahu. Akupun tidak tahu apa-apa lagi karena semuanya berubah gelap….
***
“Fia kemana sih? Kok lama banget datangnya?” tanya seorang mahasiswi kepada teman disebelahnya. Mahasiswi yang duduk disebelahnya menggeleng,”gak tau juga, Mel. Biasanya kan dia yang lebih duluan datang ketimbang kita…, kenapa nggak ditelepon aja?” usul mahasiswi tersebut. Mahasiswi yang ternyata bernama Mela itupun berinisiatif menghubungi ponsel Fia. Sesaat kemudian ia menyerah karena sudah tiga kali ia mencoba untuk menghubungi, tetapi panggilannya tak kunjung dijawab. Mela memandang sahabat yang duduk disebelahnya,”Gak dijawab, Fan. Apa mungkin masih di jalan?” gumamnya pelan.
“Tapi ini sudah duapuluh menit, Mel. Nggak biasa-biasanya Fia itu telat,” ujar Fany, khawatir.
“Santai aja, Fan, Insya Allah ntar lagi dia sampai, kok. Kita kan mau presentasi…, tahu sendiri Fia itu tipe orang perfeksionis? Dia pasti ingin menampilkan yang terbaik untuk kelompok kita….,” hibur Mela.
“Hmm., ya udah deh, kalo gitu kita tunggu aja. Tapi kalo dia nggak datang, gimana nasib presentasi kita hari ini?”
Mela menatap Fany agak lama. Ia berpikir sejenak lalu berujar,”terpaksa deh, minggu depan,”
Ternyata dugaan mereka benar. Fia tidak datang. Kedua sahabatnyapun bertanya-tanya, apakah mungkin Fia sakit? Atau karena cuaca yang sedang tidak bersahabat membuatnya malas datang ke kampus? Hingga jam kuliah usai, kedua bersahabat itu bergantian menghubungi Fia. Saat Mela mencoba menghubungi untuk yang kesekian kalinya, akhirnya ponselpun dijawab, namun suara yang terdengar bukanlah orang yang mereka cari, melainkan petugas rumah sakit yang memberitahukan bahwa Fia sedang berada disalah satu rumah sakit dalam keadaan kritis. Mela menutup ponselnya dengan perasaan yang tak menentu.
“Fia di rumah sakit….,”gumamnya.
“Siapa yang sakit? Orangtuanya, Mel?” tanya Fany, cemas. Mela menggeleng,”Sebaiknya kita kesana…,”
Mereka berdua lalu menuju ke sebuah rumah sakit tempat Fia dirawat dan ternyata ia berada di UGD. Didalam ruangan itu tampak seorang dokter bersama perawat sedang menangani Fia. Mela dan Fany hanya bisa menahan sedih dibalik jendela. Beberapa menit kemudian, Ayyas datang.
“Maaf, apakah kalian berdua temannya Fia?” tanya Ayyas. Mela dan Fany mengangguk.
“Bagaimana keadaan Fia? Dd…., dia kenapa…???” tanya Ayyas.
“Masih belum tau juga. Kamu sendiri siapanya Fia?” tanya Mela yang membuat Ayyas gelagapan,”Ng…, saya teman sekolah Fia….,”
Suasana kembali hening. Sesaat kemudian dokter keluar dari UGD. Dengan wajah yang terlihat agak tegang dokter tersebut berujar,” Fia kehilangan cukup banyak darah. Ia membutuhkan donor. Ada yang bergolongan B positif?”
“Golongan darah saya juga B positif, Dokter, ambil saja darah saya…,”ucap Ayyas. Beberapa saat kemudian bayangan Fia melintas di pikirannya, semua kenangan yang ada bercampur menjadi satu. Ayyas menjadi merasa sedih. Apakah ia salah bila mengenalkan Bella kepada Fia yang notabene merupakan sahabatnya sendiri? Seingatnya Fia hanya menganggapnya sebagai sahabat dan tidak pernah lebih dari itu, meskipun didalam hati Ayyas pernah tersimpan sebuah rasa yang lebih untuk Fia.
Ayyas mengikuti dokter tersebut untuk menuju ke sebuah ruangan untuk mendonorkan darah. Didalam hatinya, ia berharap dan mendoakan yang terbaik untuk Fia, sahabatnya.
***
Alat pemantau detak jantung yang terletak disamping Fia membuat hati Ayyas menjadi tak menentu. Ayyas yang berdiri diluar ruangan, mengintip dari balik jendela dan mencemaskan keadaan Fia, namun ditutup-tutupinya dengan berusaha tegar. Ayyas tak ingin memperlihatkan kesedihannya. Ia ingin menjadi seseorang yang kuat menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya.
“Maaf, apakah Anda keluarganya Fia?” tanya seorang perawat yang menghampiri Ayyas. Ayyas menoleh kearah perawat tersebut,”Saya temannya….,”
“Di mobil Fia kami menemukan ini…,” perawat itu menyodorkan sebuah komputer tablet kepada Ayyas. Ayyas menerima dengan bimbang.
”permisi,” ujarnya lalu pamit keluar.
Merasa penasaran, Ayyaspun menghidupkan tablet PC tersebut . Tampak wallpaper Fia muncul di home screen layar. Wajah yang membuat Ayyas senang sekaligus sedih. Senang karena bisa melihat wajah itu tersenyum di layar monitor, sekaligus sedih karena Ayyas tak dapat berbuat banyak demi Fia saat ini. Saat sedang melamun, secara tak sengaja jari Ayyas menyentuh Catatan, dan terbukalah sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan.
Ternyata dugaan mereka benar. Fia tidak datang. Kedua sahabatnyapun bertanya-tanya, apakah mungkin Fia sakit? Atau karena cuaca yang sedang tidak bersahabat membuatnya malas datang ke kampus? Hingga jam kuliah usai, kedua bersahabat itu bergantian menghubungi Fia. Saat Mela mencoba menghubungi untuk yang kesekian kalinya, akhirnya ponselpun dijawab, namun suara yang terdengar bukanlah orang yang mereka cari, melainkan petugas rumah sakit yang memberitahukan bahwa Fia sedang berada disalah satu rumah sakit dalam keadaan kritis. Mela menutup ponselnya dengan perasaan yang tak menentu.
“Fia di rumah sakit….,”gumamnya.
“Siapa yang sakit? Orangtuanya, Mel?” tanya Fany, cemas. Mela menggeleng,”Sebaiknya kita kesana…,”
Mereka berdua lalu menuju ke sebuah rumah sakit tempat Fia dirawat dan ternyata ia berada di UGD. Didalam ruangan itu tampak seorang dokter bersama perawat sedang menangani Fia. Mela dan Fany hanya bisa menahan sedih dibalik jendela. Beberapa menit kemudian, Ayyas datang.
“Maaf, apakah kalian berdua temannya Fia?” tanya Ayyas. Mela dan Fany mengangguk.
“Bagaimana keadaan Fia? Dd…., dia kenapa…???” tanya Ayyas.
“Masih belum tau juga. Kamu sendiri siapanya Fia?” tanya Mela yang membuat Ayyas gelagapan,”Ng…, saya teman sekolah Fia….,”
Suasana kembali hening. Sesaat kemudian dokter keluar dari UGD. Dengan wajah yang terlihat agak tegang dokter tersebut berujar,” Fia kehilangan cukup banyak darah. Ia membutuhkan donor. Ada yang bergolongan B positif?”
“Golongan darah saya juga B positif, Dokter, ambil saja darah saya…,”ucap Ayyas. Beberapa saat kemudian bayangan Fia melintas di pikirannya, semua kenangan yang ada bercampur menjadi satu. Ayyas menjadi merasa sedih. Apakah ia salah bila mengenalkan Bella kepada Fia yang notabene merupakan sahabatnya sendiri? Seingatnya Fia hanya menganggapnya sebagai sahabat dan tidak pernah lebih dari itu, meskipun didalam hati Ayyas pernah tersimpan sebuah rasa yang lebih untuk Fia.
Ayyas mengikuti dokter tersebut untuk menuju ke sebuah ruangan untuk mendonorkan darah. Didalam hatinya, ia berharap dan mendoakan yang terbaik untuk Fia, sahabatnya.
***
Alat pemantau detak jantung yang terletak disamping Fia membuat hati Ayyas menjadi tak menentu. Ayyas yang berdiri diluar ruangan, mengintip dari balik jendela dan mencemaskan keadaan Fia, namun ditutup-tutupinya dengan berusaha tegar. Ayyas tak ingin memperlihatkan kesedihannya. Ia ingin menjadi seseorang yang kuat menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya.
“Maaf, apakah Anda keluarganya Fia?” tanya seorang perawat yang menghampiri Ayyas. Ayyas menoleh kearah perawat tersebut,”Saya temannya….,”
“Di mobil Fia kami menemukan ini…,” perawat itu menyodorkan sebuah komputer tablet kepada Ayyas. Ayyas menerima dengan bimbang.
”permisi,” ujarnya lalu pamit keluar.
Merasa penasaran, Ayyaspun menghidupkan tablet PC tersebut . Tampak wallpaper Fia muncul di home screen layar. Wajah yang membuat Ayyas senang sekaligus sedih. Senang karena bisa melihat wajah itu tersenyum di layar monitor, sekaligus sedih karena Ayyas tak dapat berbuat banyak demi Fia saat ini. Saat sedang melamun, secara tak sengaja jari Ayyas menyentuh Catatan, dan terbukalah sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan.
Dear my notes,
Aku tak dapat menjabarkan apa yang sedang kurasa, hanya disinilah aku mengungkapkan semuanya. Semua yang ada di pikiranku, di jiwaku, bahkan di relung hatiku. Aku akan mengatakannya secara harfiah, se-mu-a-nya.
Aku tak dapat menjabarkan apa yang sedang kurasa, hanya disinilah aku mengungkapkan semuanya. Semua yang ada di pikiranku, di jiwaku, bahkan di relung hatiku. Aku akan mengatakannya secara harfiah, se-mu-a-nya.
Dear my notes,
Apa kabar dirinya saat ini? Aku hanya ingin mengetahui keadaannya. Lama tak berjumpa setelah pertemuan terakhir beberapa waktu yang lalu. Ya, mungkin saja itu yang terakhir, walaupun sebenarnya aku tidak menginginkan pertemuan saat itu menjadi yang terakhir. Aku ingin melihatnya lagi, melihat pancaran sinar matanya yang lembut dan meneduhkan dan mendengarkan nasihatnya yang membuatku termotivasi.
Tetapi entah mengapa aku merasa pertemuan beberapa waktu yang lalu adalah pertemuan kami yang terakhir. Ia sudah menemukan seseorang yang tepat, dan itu bukan aku. Aku akan ikut berbahagia untuknya. Aku akan mendoakan yang terbaik baginya karena setiap tulang rusuk telah ditakdirkan untuk bertemu sesuai dengan pemiliknya.
Apa kabar dirinya saat ini? Aku hanya ingin mengetahui keadaannya. Lama tak berjumpa setelah pertemuan terakhir beberapa waktu yang lalu. Ya, mungkin saja itu yang terakhir, walaupun sebenarnya aku tidak menginginkan pertemuan saat itu menjadi yang terakhir. Aku ingin melihatnya lagi, melihat pancaran sinar matanya yang lembut dan meneduhkan dan mendengarkan nasihatnya yang membuatku termotivasi.
Tetapi entah mengapa aku merasa pertemuan beberapa waktu yang lalu adalah pertemuan kami yang terakhir. Ia sudah menemukan seseorang yang tepat, dan itu bukan aku. Aku akan ikut berbahagia untuknya. Aku akan mendoakan yang terbaik baginya karena setiap tulang rusuk telah ditakdirkan untuk bertemu sesuai dengan pemiliknya.
Dear my notes,
Bila ada mentari yang bersinar di langit, pasti akan ada pula hujan yang jatuh membasahi bumi. Bila ada kebahagiaan, pasti juga ada kesedihan yang mengiringi. Kesedihan yang menjadikan diri kita menjadi lebih tegar dan kuat. Kesedihan yang menempa kita menjadi mandiri dan mampu menghadapi hidup.
Bila ada mentari yang bersinar di langit, pasti akan ada pula hujan yang jatuh membasahi bumi. Bila ada kebahagiaan, pasti juga ada kesedihan yang mengiringi. Kesedihan yang menjadikan diri kita menjadi lebih tegar dan kuat. Kesedihan yang menempa kita menjadi mandiri dan mampu menghadapi hidup.
Dear my notes,
Aku ingin menyampaikan pada 'dia', bahwa jika suatu saat ia ingin menangis, hubungi aku, ku berjanji akan membuatnya tersenyum. Jika suatu saat ia tak ingin mendengarkan siapapun, hubungi aku, kuberjanji akan diam menemaninya. Jika suatu saat ia belari untuk menghindar, hubungi aku, maka aku akan menemaninya hingga ia lelah dan berhenti. Tetapi bila suatu saat ia menghubungiku, namun tak pernah ada jawaban, aku berharap ia datang untuk melihatku, karena aku sudah tak ada lagi di dunia ini, dan yang masih tertinggal hanya batu nisanku.
Aku ingin menyampaikan pada 'dia', bahwa jika suatu saat ia ingin menangis, hubungi aku, ku berjanji akan membuatnya tersenyum. Jika suatu saat ia tak ingin mendengarkan siapapun, hubungi aku, kuberjanji akan diam menemaninya. Jika suatu saat ia belari untuk menghindar, hubungi aku, maka aku akan menemaninya hingga ia lelah dan berhenti. Tetapi bila suatu saat ia menghubungiku, namun tak pernah ada jawaban, aku berharap ia datang untuk melihatku, karena aku sudah tak ada lagi di dunia ini, dan yang masih tertinggal hanya batu nisanku.
Dear my notes,
Sungguh aku turut berbahagia dan aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Kali ini aku hanya ingin menyampaikan salam untuknya melalui semilir angin. Namun aku tidak tahu apakah angin membawa salamku sampai ke tujuannya…
Mata Ayyas berkaca-kaca, mengapa Fia begitu tertutup padanya? Khayalannya kembali pada Fia yang kini sedang terbaring lemah. Terbersit sebuah rasa terhadap seseorang yang telah lama berada di hatinya, meskipun ia tak pernah mengungkapkannya.
"Seandainya kamu tahu, Fia..., aku sengaja memperkenalkan Bella kepadamu, aku berharap kamu akan cemburu. Tetapi ternyata kamu terlalu pandai untuk menutupi perasaanmu yang sebenarnya. Aku berharap mungkin dengan cara ini, aku dapat meminta maaf padamu dan masih ada kesempatan untukku menyampaikan perasaanku...,"
Tiba-tiba , dokter membuka pintu ruangan ICU.
"Maaf, apakah Anda keluarga Fia?"
"Ss..., saya temannya, dok...," jawab Ayyas, berbarengan dengan Mela dan Fany.
"Dokter tersebut terdiam sejenak,"Maaf, kami dari tim dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ternyata Sang Pemilik Kehidupan lebih menyayanginya daripada kita. Dia telah pergi....,"
Ayyas terduduk lemas, tanpa disadari butiran bening membasahi pipinya,"Mengapa kamu meninggalkanku begitu cepat, Fia? Disaat aku ingin mengungkapkan semuanya....,"
***
Jika dunia tidak merestui cinta kita, biarlah di alam sana nanti kita bersama,
Tunggu aku di pintu surga,
Sahabatku, Cinta sejatiku....
Sungguh aku turut berbahagia dan aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Kali ini aku hanya ingin menyampaikan salam untuknya melalui semilir angin. Namun aku tidak tahu apakah angin membawa salamku sampai ke tujuannya…
Mata Ayyas berkaca-kaca, mengapa Fia begitu tertutup padanya? Khayalannya kembali pada Fia yang kini sedang terbaring lemah. Terbersit sebuah rasa terhadap seseorang yang telah lama berada di hatinya, meskipun ia tak pernah mengungkapkannya.
"Seandainya kamu tahu, Fia..., aku sengaja memperkenalkan Bella kepadamu, aku berharap kamu akan cemburu. Tetapi ternyata kamu terlalu pandai untuk menutupi perasaanmu yang sebenarnya. Aku berharap mungkin dengan cara ini, aku dapat meminta maaf padamu dan masih ada kesempatan untukku menyampaikan perasaanku...,"
Tiba-tiba , dokter membuka pintu ruangan ICU.
"Maaf, apakah Anda keluarga Fia?"
"Ss..., saya temannya, dok...," jawab Ayyas, berbarengan dengan Mela dan Fany.
"Dokter tersebut terdiam sejenak,"Maaf, kami dari tim dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ternyata Sang Pemilik Kehidupan lebih menyayanginya daripada kita. Dia telah pergi....,"
Ayyas terduduk lemas, tanpa disadari butiran bening membasahi pipinya,"Mengapa kamu meninggalkanku begitu cepat, Fia? Disaat aku ingin mengungkapkan semuanya....,"
***
Jika dunia tidak merestui cinta kita, biarlah di alam sana nanti kita bersama,
Tunggu aku di pintu surga,
Sahabatku, Cinta sejatiku....
broken heart
Titian itu nama panggilanku. Nama
lengkapku sih Gracia titian cahyani. Sebenarnya nama panggilanku banyak
boleh titin, titian, aci, grace ah..terserah kalian mau panggil apa
pokoknya jangan cahya soalnya kalau kamu kerumahku cari aku dengan nama
cahya yang nemui ya masku karena semua saudaraku pasti belakangnya
cahyani hehehe...:D maklum.
Aku tinggal tidak dalam keluarga lengkap, mewah dan serba ada. Aku tinggal di Washington ( Wonosobo, Banyuwangi dekat rumah toton ) . Aku terpaksa transmigrasi dari Jakarta karena aku harus ikut kakaku dan adikku. Aku pindahan dari Jakarta ke Wonosobo sekarang ke Banyuwangi di dekat rumah temanku Toton si cowok keren, berkharisma dan jago sepak bola.
Aku tinggal tidak dalam keluarga lengkap, mewah dan serba ada. Aku tinggal di Washington ( Wonosobo, Banyuwangi dekat rumah toton ) . Aku terpaksa transmigrasi dari Jakarta karena aku harus ikut kakaku dan adikku. Aku pindahan dari Jakarta ke Wonosobo sekarang ke Banyuwangi di dekat rumah temanku Toton si cowok keren, berkharisma dan jago sepak bola.
Di sini aku berteman dengan Toton dan Menik. Kita bersahabat sudah lama 3
tahun. Dan sejak 1 tahun lamanya aku juga memendam rasa luar biasa.
Siapa lagi kalau bukan sama Toton, dia tidak tahu semua ini yang tau
cuma Menik.
“ Nik,...kamu diem looo jangn combe . Ah gk jadi ezt.. “ kata Tititan
“ ha...gj bilang belum udah gk jadi iiihhh kamu hwhwhwh. K’biasaan beud “ kata Menik
“ hem.. begene aku itu sebenere iku ngene lo aku iku saiki lagi tresno neng arek haha.. biasa kamu pasti tau kan maksudku “
“ halah...mulai medokk kowe, emang sapa-sapa ? “ kata Menik dengan jutek
“ Kasih tau gak ya ??? hehehehe emmm gamna ya ? “ dengan menatap2 kedua telunjuk Titian
“ halah...ora ilok ngunu ku dusoooo koe... mlebu neroko koe !! haha “ dengan candaan Menik
“ yaya... emmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm sama tu itu Toton ?? ^_- husssssssssttttttt diem awas kau bilang tak jitak kau nanti hhihi :D
“ soo....apa gue harus bilangg WoOOOoooOOoooOOwwwwwWWWWW gtuhh. woOoow Woow Woow !!! tapi biasa coklat-coklat ?? kata Menik dengan rayu-rayu
“ hemm...biasah !!! yaya “ kata Titian dengan tak ikhlas
Setelah gak lama Toton datang menghampiri mereka dengan maksuud ingin mengajak mereka jalan-jalan nanti hari Sabtu untuk Malming
“ heyyyyyy... “ ujar toton
“ waduuuu...kamu baru datang apa udah lama ton ???????????????? “ kata Titian
“ barusan mang napa ??? , ehhhh kamu kamu mau gak ? “ kata toton
“ oh ya dah syukur. Apa ?? “
“ ayo kita malmingan yuk besok boring plend lburan gnih. Mau yah nik tin ??”
“ okeh2 stuju jam 7 ya.. sekalian mau beli coklat “
Malam minggu sudah datang, merekapun bergegas untuk refreshing. Namun dibalik itu Titian dan Menik punya rencana tersendiri untuk nanti. Titian berencana menembak toton, meskipun dia yakin 80% saja dia tetap antusias dengan rencananya. Meskipun titian beda dari tipe Toton yang cantik, gauul, smart dan tentu humoriz. Titian Cuma 25% dri tipe Toton yah itulah Cuma smart aja. Tapi apa salah untuk mencoba tapi dia juga akan menerima risikonya nanti.
Tepat jam 7 mereka berangkat. 12 menit mereka sudah sampai di Alun-alun Kota Banyuwangi namun Titianyah gitu deh dag dig dug hatinya karena kayaknya saat itu hari Galau / kemerdekaannya yahh
“ Nik, gimana nih bantui lo yah.. gak ada coklat klau gk ada tembak !! “ bisik Titian ke Menik
“ haduuhh..io2 ojo kuwwatir Tin, rebes-rebes hehehe iya-iya tapi jangan salain aku law dditolak loo siap-siap Broken heart heheheh galauuu hahah , cabuttt yuk “ kata Menik
“ ahhhhh..jangan gitu donk nanti law aku jadian aku kasih coklat ma PJ deh... duuuhh q takut nii , ahh Pasrah ae wezt “ kata Titian
Saat mereka duduk di dekat Beringin besarr yang serem , saat itu Titian mulai beraksi tingkahnya yang dari dulu ia tahan dan lega untuk dia ungkapkan. Dan saat itu dia juga masih sempet-sempet untuk bakatnya yah itulah GOMBAL dia memang ahli dalam gombal-gombal biasa untuk merayu hati yang cowok ia sukai. Tapi kali itu gagal karena mungkin Toton lagi gak mood kali ya.
“ eh...Ton kok diAlun-alun rame yah. Wahhh populasi rayap nih hehehe :D ?” kata Titian
“ yayalah secara Malming gitu Tinn ya kalau senin paling” juga secuil orang itu aja untung kalau secuil law 1 gmna. Kuburan itu hwhwhwhw aneh” wae koe “ kata Toton agak judes
“ ihhhh..gak usah serius juga kaleeeeee...iuhhh, Ton kita temenan udah 3 tahun kan dan itu gak lama kan pasti selama ini kita juga mennyimpan rasa i’ll feel atw aplah.” kata Titian
“ iya ya sahabat sejati ya kita semua .. tumben bicara gini dalam rangka apa nih “ tanya Toton
“ kamu jangan marah ya plissss “ mohon Titin
“ mmmmm apa ??? penasaran jadinya nih ?? “ kata Toton
“ sebenarnya itu emmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm sebeneernya emm itu sebenarnya aku emmmm giamana yah plis jangan marah loo ya sebenere itu emmm ICH DICH LIEBEN. Awwwwwww jangan marah !! “ malu Titian
“ haaaa... apa itu ??/” tanya Toton
“ aduuhhh itu bahasa perancis Ton artinya itu Titian cinta kamuuu hehehehey “ saut Menik
“ aduuuuuuwwwwwwwwwww......iiiiiiiihhh malu aku jadiya taooo !!!” kata Titian
“ haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....apa kamu bilang kita sahabat Tin kenapa jadi begini wiihhh sumpah aku gak nyangka tapi sebelumnya maaf aku gak bisa Tin aku sudah punya inceran lain dan besok aku akan tembak temenku dan aku cinta mati ma dia aku gak akan donk berpindah hati ke oraang lain. Plis kamu janga marah kita sahabat dan mungkin kita semua ditakdirin tidak bisa lebih dari sahabat mungki kakak adik aku bisa Tin tapi kalau pacar aaf deh aku gak bisa kali ini “ kata tegas Toton
“ hmm...kamuu kamu udah ngecewain aku Ton kamu gak ngehargaiin aku bbanget sih aku nyimpan rasa ini selama 1 tahun Ton bayangin dong 1 tahun itu lama To bagi perasaan kamu tolong hargai aku setia Cuma suka kamuu namun ini sia-sia memang aku bukan yang terbaikkk...” kata Titian. Dan titian langsung kaburr dan lari sekecang-kencangnya untuk pulang karena dia kecewa
“ Titin,,...kamu mau kemana Titinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn..????? “ teriak Toton
“ udahlah beri waktu ia biarlah nanti dia juga happy kembali “ kata Menik
Penolakan cinta itu membuat Titian jadi galau dia tidak kelar dari kamar selama 1 minggu dia ters memfikirkan Toton. Dia patah hati sekali dia selalu menangis merenung akan apa kekurangannya karena kenapa dia sampai menolaknya padahal ia ingin sekali kalu Toton adalah jodoh abadi hidupnya
“ tok tok tok...”
“ Titin kamu kenapa kamu gak boleh begini . kamu jadi gak sik kamu beda Tin mana Titian yang kukenal dulu yang selalu ceria, masak hanya gara-gara ini kamu seperti ini sih.” Kata Menik
“ apa katamu masalah gini hanya Hanya kamu memang belum ngerasain Nik. Kamu seharusnya ngertiin aku Nik ( sambil menangis ) “ kata Titian
“ udahlah BROKEN HEART only problem. You must always happy Tin. “ kata Menik
“ ahhhh...Menik aku galau aku Broken heart ya ampun kenapa au gini ak gk bleg gni Semangat !!!!!!!!!!!:)))) kata Titian
“ Nik,...kamu diem looo jangn combe . Ah gk jadi ezt.. “ kata Tititan
“ ha...gj bilang belum udah gk jadi iiihhh kamu hwhwhwh. K’biasaan beud “ kata Menik
“ hem.. begene aku itu sebenere iku ngene lo aku iku saiki lagi tresno neng arek haha.. biasa kamu pasti tau kan maksudku “
“ halah...mulai medokk kowe, emang sapa-sapa ? “ kata Menik dengan jutek
“ Kasih tau gak ya ??? hehehehe emmm gamna ya ? “ dengan menatap2 kedua telunjuk Titian
“ halah...ora ilok ngunu ku dusoooo koe... mlebu neroko koe !! haha “ dengan candaan Menik
“ yaya... emmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm sama tu itu Toton ?? ^_- husssssssssttttttt diem awas kau bilang tak jitak kau nanti hhihi :D
“ soo....apa gue harus bilangg WoOOOoooOOoooOOwwwwwWWWWW gtuhh. woOoow Woow Woow !!! tapi biasa coklat-coklat ?? kata Menik dengan rayu-rayu
“ hemm...biasah !!! yaya “ kata Titian dengan tak ikhlas
Setelah gak lama Toton datang menghampiri mereka dengan maksuud ingin mengajak mereka jalan-jalan nanti hari Sabtu untuk Malming
“ heyyyyyy... “ ujar toton
“ waduuuu...kamu baru datang apa udah lama ton ???????????????? “ kata Titian
“ barusan mang napa ??? , ehhhh kamu kamu mau gak ? “ kata toton
“ oh ya dah syukur. Apa ?? “
“ ayo kita malmingan yuk besok boring plend lburan gnih. Mau yah nik tin ??”
“ okeh2 stuju jam 7 ya.. sekalian mau beli coklat “
Malam minggu sudah datang, merekapun bergegas untuk refreshing. Namun dibalik itu Titian dan Menik punya rencana tersendiri untuk nanti. Titian berencana menembak toton, meskipun dia yakin 80% saja dia tetap antusias dengan rencananya. Meskipun titian beda dari tipe Toton yang cantik, gauul, smart dan tentu humoriz. Titian Cuma 25% dri tipe Toton yah itulah Cuma smart aja. Tapi apa salah untuk mencoba tapi dia juga akan menerima risikonya nanti.
Tepat jam 7 mereka berangkat. 12 menit mereka sudah sampai di Alun-alun Kota Banyuwangi namun Titianyah gitu deh dag dig dug hatinya karena kayaknya saat itu hari Galau / kemerdekaannya yahh
“ Nik, gimana nih bantui lo yah.. gak ada coklat klau gk ada tembak !! “ bisik Titian ke Menik
“ haduuhh..io2 ojo kuwwatir Tin, rebes-rebes hehehe iya-iya tapi jangan salain aku law dditolak loo siap-siap Broken heart heheheh galauuu hahah , cabuttt yuk “ kata Menik
“ ahhhhh..jangan gitu donk nanti law aku jadian aku kasih coklat ma PJ deh... duuuhh q takut nii , ahh Pasrah ae wezt “ kata Titian
Saat mereka duduk di dekat Beringin besarr yang serem , saat itu Titian mulai beraksi tingkahnya yang dari dulu ia tahan dan lega untuk dia ungkapkan. Dan saat itu dia juga masih sempet-sempet untuk bakatnya yah itulah GOMBAL dia memang ahli dalam gombal-gombal biasa untuk merayu hati yang cowok ia sukai. Tapi kali itu gagal karena mungkin Toton lagi gak mood kali ya.
“ eh...Ton kok diAlun-alun rame yah. Wahhh populasi rayap nih hehehe :D ?” kata Titian
“ yayalah secara Malming gitu Tinn ya kalau senin paling” juga secuil orang itu aja untung kalau secuil law 1 gmna. Kuburan itu hwhwhwhw aneh” wae koe “ kata Toton agak judes
“ ihhhh..gak usah serius juga kaleeeeee...iuhhh, Ton kita temenan udah 3 tahun kan dan itu gak lama kan pasti selama ini kita juga mennyimpan rasa i’ll feel atw aplah.” kata Titian
“ iya ya sahabat sejati ya kita semua .. tumben bicara gini dalam rangka apa nih “ tanya Toton
“ kamu jangan marah ya plissss “ mohon Titin
“ mmmmm apa ??? penasaran jadinya nih ?? “ kata Toton
“ sebenarnya itu emmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm sebeneernya emm itu sebenarnya aku emmmm giamana yah plis jangan marah loo ya sebenere itu emmm ICH DICH LIEBEN. Awwwwwww jangan marah !! “ malu Titian
“ haaaa... apa itu ??/” tanya Toton
“ aduuhhh itu bahasa perancis Ton artinya itu Titian cinta kamuuu hehehehey “ saut Menik
“ aduuuuuuwwwwwwwwwww......iiiiiiiihhh malu aku jadiya taooo !!!” kata Titian
“ haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....apa kamu bilang kita sahabat Tin kenapa jadi begini wiihhh sumpah aku gak nyangka tapi sebelumnya maaf aku gak bisa Tin aku sudah punya inceran lain dan besok aku akan tembak temenku dan aku cinta mati ma dia aku gak akan donk berpindah hati ke oraang lain. Plis kamu janga marah kita sahabat dan mungkin kita semua ditakdirin tidak bisa lebih dari sahabat mungki kakak adik aku bisa Tin tapi kalau pacar aaf deh aku gak bisa kali ini “ kata tegas Toton
“ hmm...kamuu kamu udah ngecewain aku Ton kamu gak ngehargaiin aku bbanget sih aku nyimpan rasa ini selama 1 tahun Ton bayangin dong 1 tahun itu lama To bagi perasaan kamu tolong hargai aku setia Cuma suka kamuu namun ini sia-sia memang aku bukan yang terbaikkk...” kata Titian. Dan titian langsung kaburr dan lari sekecang-kencangnya untuk pulang karena dia kecewa
“ Titin,,...kamu mau kemana Titinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn..????? “ teriak Toton
“ udahlah beri waktu ia biarlah nanti dia juga happy kembali “ kata Menik
Penolakan cinta itu membuat Titian jadi galau dia tidak kelar dari kamar selama 1 minggu dia ters memfikirkan Toton. Dia patah hati sekali dia selalu menangis merenung akan apa kekurangannya karena kenapa dia sampai menolaknya padahal ia ingin sekali kalu Toton adalah jodoh abadi hidupnya
“ tok tok tok...”
“ Titin kamu kenapa kamu gak boleh begini . kamu jadi gak sik kamu beda Tin mana Titian yang kukenal dulu yang selalu ceria, masak hanya gara-gara ini kamu seperti ini sih.” Kata Menik
“ apa katamu masalah gini hanya Hanya kamu memang belum ngerasain Nik. Kamu seharusnya ngertiin aku Nik ( sambil menangis ) “ kata Titian
“ udahlah BROKEN HEART only problem. You must always happy Tin. “ kata Menik
“ ahhhh...Menik aku galau aku Broken heart ya ampun kenapa au gini ak gk bleg gni Semangat !!!!!!!!!!!:)))) kata Titian
Posted by Unknown
Late
Kau benar. Aku memang telah terjebak
dalam dimensi ukiran cinta yang rumit. Aku bermimpi mencoba meraih cinta
yang dulu pernah aku lukai. Kini, Sekeras apapun aku mencoba bertahan.
Sekeras apapun aku berlari mengejarnya. Sekeras apapun aku memohon maaf
padanya. Semuanya tak kan kembali seperti sedia kala..
#####
Pemandangannya begitu indah. Aku melihat sebuah gunung besar kokoh berdiri di atas hamparan dataran yang luas. Angin berhembus sejuk mengibaskan rambutku yang terurai sepanjang bahu. Kurasakan tiap desiran angin yang bertiup padu mengalun layaknya sebuah irama yang sedang di senandungkan. Langit juga tampak begitu biru melengkapi indahnya panorama kehidupan di sini. Tapi, aku rasa tempat ini mengingatku pada suatu kota yang sangat aku sukai. Kota Batu.
Ku pejamkan kedua mataku. Ku Nyayikan sebuah sebuah lirik lagu yang yang tiba-tiba saja muncul dalam otakku.“ I wake up to your sunset and it’s driving me mad-jetlag.” Perlahan tapi jelas, terdengar suara lain dari arah belakangku. “ I miss you so badly, my heart heart is so jetlag, heart heart heart is so jetlag, so jetlag.”
Cinta itu memang begitu rumit untuk dimengerti. Kadang saat cinta itu ada di samping kita. Kita malah bersantai-santai dan merasa yakin bahwa cinta itu tak akan pernah hilang dari samping kita. Namun, saat cinta itu pergi, kita baru menyadari betapa bodonya kita dulu saat menganggap remeh keberadaan cinta.
Dari pengalaman ini aku belajar bagaimana aku harus lebih menghargai sebuah cinta. Cinta bukanlah hanya sebuah kata-kata bualan yang menarik hati sehingga dapat membuat seseorang terpesona. Cinta bukanlah suatu keindahan seperti yang ditunjukan pada cerita dongeng anak. Cinta juga bukan sebuah permainan yang harus dimenangkan dan didapatkan. Tapi cinta itu adalah sebuah pengorbanan.
Pengorbanan sejati ialah cinta yang sejati.
#####
Pemandangannya begitu indah. Aku melihat sebuah gunung besar kokoh berdiri di atas hamparan dataran yang luas. Angin berhembus sejuk mengibaskan rambutku yang terurai sepanjang bahu. Kurasakan tiap desiran angin yang bertiup padu mengalun layaknya sebuah irama yang sedang di senandungkan. Langit juga tampak begitu biru melengkapi indahnya panorama kehidupan di sini. Tapi, aku rasa tempat ini mengingatku pada suatu kota yang sangat aku sukai. Kota Batu.
Ku pejamkan kedua mataku. Ku Nyayikan sebuah sebuah lirik lagu yang yang tiba-tiba saja muncul dalam otakku.“ I wake up to your sunset and it’s driving me mad-jetlag.” Perlahan tapi jelas, terdengar suara lain dari arah belakangku. “ I miss you so badly, my heart heart is so jetlag, heart heart heart is so jetlag, so jetlag.”
Dengan sigap, aku menoleh ke sumber suara tersebut. Senyum segera
tepancar dari wajahku. Jeremy berdiri disana. Pandangan kami bertemu.
Aku berusaha melangkah untuk mendekatinya. Anehnya, kakiku dan tanganku
serasa membeku. Aku berusaha sekuat tenagaku berniat untuk menggapai
Jeremy dari sini. Namun, apa daya semuanya sia-sia. Wajahnya semakin tak
jelas terlihat. Pandanganku perlahan memudar hingga akhirnya ia
benar-benar menghilang dari hadapanku.
”JEREMY!!!!!”
“Vina. Vin! Ini aku stefy. Bangun Vin!” Stefy berteriak panik, mencoba membangunkanku.”Vin, gak ada Jeremy di sini.” Sampai akhirnya aku terbangun dan tersadar.
“Jeremy. Jeremy dimana ?” tanyaku linglung.
“Vina, kamu mimpi apa tentang Jeremy ?” tanya Stefy bingung.
“E--e –engga kog.” Jawabku seraya mengusap air mata yang sedang menggumpal di sudut mataku.
Sekarang, stefy heran memerhatikanku.“Bener kamu nggak mimpi apa-apa ? soalnya dari tadi kamu tidur, kamu nyebut nama Jeremy terus.”
“Udahlah Stefy, itu nggak penting. Udah berapa lama aku tidur ?” ujarku kesal.
“Sekitar 2 jam yang lalu sebelum aku bermain laptopmu.” Gumam Stefy sambil menggerakkan jarinya lincah di atas keyboard laptopku.
Aku membaringkan tubuhku, melayangkan pandanganku ke langit-langit kamarku. Pikiran kembali berputar pada bunga tidurku barusan tentang Jeremy.
Jeremy adalah sahabatku. Sekaligus satu-satunya pria yang sangat aku cintai. Ia laki-laki yang pernah aku sakiti. meski begitu, Aku mencintainya bukan karena perasaan bersalah tetapi aku mencintainya karena memang hatiku menginginkannya.
Aku bertekad untuk meminta maaf padanya dan berusaha untuk memulai semuanya dari awal.
Esok hari di sekolah, aku duduk menunggu. Perlahan, sosok Jeremy muncul sedang berjalan menggunakan seragam sekolah, dengan jaket sport yang sering ia gunakan bewarna abu-abu putih. Ia melihatku, menatapku dengan pandangan dingin. Kurasakan kebencian yang besar menumpuk dalam dirinya. Aku segera berlari, memanggilnya. “ Jeremy, Jeremy !”
Namun nihil. Ia sama sekali tak menanggapi panggilanku.
Aku tergolek lemas putus asa. Titik-titik air mata pun jatuh membasahi pipiku. Aku tak kuasa menahan tangis. Penyesalan besar mengerogoti hatiku. Betapa bodohnya aku, mengapa dulu aku harus menyakitinya.
Aku berlari sejauh yang aku bisa, kakiku melangkah ke sebuah taman di gereja sekolahku. Angin bertiup pelan. Kutarik nafasku dalam-dalam, kehembuskan senada dengan angin bertiup lembut. Kedua mataku terpejam. Saat itu duniaku beralih pada kenangan lalu.
“Vina, awas kamu ! aku lempar tepung kanji abis gini, lihat aja !” teriak Jeremy kesal.
“Coba kalau bisa :p.” gumamku. “Yang ada aku kabur duluan, wek :p .”
“Awas, kamu ya Vina!” saut jeremy ia mengejarku, melempari aku dengan tepung kanji bekas bahan dari praktek kimia barusan. Kurasakan kebahagiaan yang sangat berarti. Senyum Jeremy saat itu benar-benar membuatku merasa beruntung karena memiliki sahabat sepertinya. Ia menunjukan padaku sebuah cinta dalam persahabatan. Cinta yang akan selalu ada setiap waktu. Indahnya langit biru yang terlihat tak akan bisa mengalahkan indahnya perasaan bahagia yang kurasakan saat itu.
Rok sekolahku dan rambutku dipenuhi dengan tepung kanji, begitu juga dengan Jeremy. Lantai sekolahku terlihat sangat kotor.
“Aghh Jeremy !!!! kotor tau.” Desisku tajam padanya dengan melemparkan pandangan sinis pada Jeremy.
“Ayo bales sini coba, Vin.” Jeremy mulai melempariku lagi dengan tepung. Perang tepung kanji. Benar-benar nama yang menggelikan untuk di ingat.
“Sampai kapan kamu bakal gini, Vin ?” Tiba-tiba Stefy, sahabatku muncul menatapku dengan penuh rasa kasihan.
“ Aku gak sedih.” Ujarku singkat.
“Vin, aku tau masalahmu sama jeremy, jadi jangan coba-coba sembunyiin bebanmu lagi. Aku juga sahabatmu, Vin. Aku gak mau liat sahabatku gini terus.” Ucapan Stefy memberiku sedikit ketenangan. “Kamu harus bangkit Vin, harus !”
“Makasih Stef.” Senyumku kembali terpancar. Aku merasa bersyukur masih memiliki sahabat seperti Stefy. Ia seorang perempuan yang sangat hebat dan luar biasa.
“Temui lagi cintamu, minta maaf sama dia. Lalu belajarnya untuk melepaskannya.” Kata Stefy dengan penuh keyakinan.
“Iya, aku pasti akan minta maaf sama dia.”
Siang itu aku merogoh saku rok—ku, ku kirim sebuah pesan permintaan maaf untuk Jeremy. Dan ku terima pesan balasan dari Jeremy.
“Aku hanya memerlukan waktu untuk menenangkan diriku. Aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf sama aku. Kamu harus belajar nahan ego kamu, rubah sikap buruk kamu. Maaf untuk saat ini, cuman ini yang bisa aku bilang ke kamu. aku lagi gak ada mood untuk sms, maaf.”
Kuhela nafasku pelan. Mungkin Jeremy benar, egois memang telah menguasai aku.
Keesokan harinya aku berjalan menelusuri koridor sekolahku, kucari sosok Jeremy. Ia tak terlihat dimana-mana. Perlahan aku teringat pada tempat kesukaan Jeremy. Aku berlari menuju kesana. Sesaat sesudah itu, aku melihat Eilen berada di sana bersama Jeremy, aku heran apa yang mereka lakukan.
Dan ternyata aku telah ebnar-benar terlambat Jeremy telah menyatakan cintanya pada Eilen. Benar-benar terlambat.
”JEREMY!!!!!”
“Vina. Vin! Ini aku stefy. Bangun Vin!” Stefy berteriak panik, mencoba membangunkanku.”Vin, gak ada Jeremy di sini.” Sampai akhirnya aku terbangun dan tersadar.
“Jeremy. Jeremy dimana ?” tanyaku linglung.
“Vina, kamu mimpi apa tentang Jeremy ?” tanya Stefy bingung.
“E--e –engga kog.” Jawabku seraya mengusap air mata yang sedang menggumpal di sudut mataku.
Sekarang, stefy heran memerhatikanku.“Bener kamu nggak mimpi apa-apa ? soalnya dari tadi kamu tidur, kamu nyebut nama Jeremy terus.”
“Udahlah Stefy, itu nggak penting. Udah berapa lama aku tidur ?” ujarku kesal.
“Sekitar 2 jam yang lalu sebelum aku bermain laptopmu.” Gumam Stefy sambil menggerakkan jarinya lincah di atas keyboard laptopku.
Aku membaringkan tubuhku, melayangkan pandanganku ke langit-langit kamarku. Pikiran kembali berputar pada bunga tidurku barusan tentang Jeremy.
Jeremy adalah sahabatku. Sekaligus satu-satunya pria yang sangat aku cintai. Ia laki-laki yang pernah aku sakiti. meski begitu, Aku mencintainya bukan karena perasaan bersalah tetapi aku mencintainya karena memang hatiku menginginkannya.
Aku bertekad untuk meminta maaf padanya dan berusaha untuk memulai semuanya dari awal.
Esok hari di sekolah, aku duduk menunggu. Perlahan, sosok Jeremy muncul sedang berjalan menggunakan seragam sekolah, dengan jaket sport yang sering ia gunakan bewarna abu-abu putih. Ia melihatku, menatapku dengan pandangan dingin. Kurasakan kebencian yang besar menumpuk dalam dirinya. Aku segera berlari, memanggilnya. “ Jeremy, Jeremy !”
Namun nihil. Ia sama sekali tak menanggapi panggilanku.
Aku tergolek lemas putus asa. Titik-titik air mata pun jatuh membasahi pipiku. Aku tak kuasa menahan tangis. Penyesalan besar mengerogoti hatiku. Betapa bodohnya aku, mengapa dulu aku harus menyakitinya.
Aku berlari sejauh yang aku bisa, kakiku melangkah ke sebuah taman di gereja sekolahku. Angin bertiup pelan. Kutarik nafasku dalam-dalam, kehembuskan senada dengan angin bertiup lembut. Kedua mataku terpejam. Saat itu duniaku beralih pada kenangan lalu.
“Vina, awas kamu ! aku lempar tepung kanji abis gini, lihat aja !” teriak Jeremy kesal.
“Coba kalau bisa :p.” gumamku. “Yang ada aku kabur duluan, wek :p .”
“Awas, kamu ya Vina!” saut jeremy ia mengejarku, melempari aku dengan tepung kanji bekas bahan dari praktek kimia barusan. Kurasakan kebahagiaan yang sangat berarti. Senyum Jeremy saat itu benar-benar membuatku merasa beruntung karena memiliki sahabat sepertinya. Ia menunjukan padaku sebuah cinta dalam persahabatan. Cinta yang akan selalu ada setiap waktu. Indahnya langit biru yang terlihat tak akan bisa mengalahkan indahnya perasaan bahagia yang kurasakan saat itu.
Rok sekolahku dan rambutku dipenuhi dengan tepung kanji, begitu juga dengan Jeremy. Lantai sekolahku terlihat sangat kotor.
“Aghh Jeremy !!!! kotor tau.” Desisku tajam padanya dengan melemparkan pandangan sinis pada Jeremy.
“Ayo bales sini coba, Vin.” Jeremy mulai melempariku lagi dengan tepung. Perang tepung kanji. Benar-benar nama yang menggelikan untuk di ingat.
“Sampai kapan kamu bakal gini, Vin ?” Tiba-tiba Stefy, sahabatku muncul menatapku dengan penuh rasa kasihan.
“ Aku gak sedih.” Ujarku singkat.
“Vin, aku tau masalahmu sama jeremy, jadi jangan coba-coba sembunyiin bebanmu lagi. Aku juga sahabatmu, Vin. Aku gak mau liat sahabatku gini terus.” Ucapan Stefy memberiku sedikit ketenangan. “Kamu harus bangkit Vin, harus !”
“Makasih Stef.” Senyumku kembali terpancar. Aku merasa bersyukur masih memiliki sahabat seperti Stefy. Ia seorang perempuan yang sangat hebat dan luar biasa.
“Temui lagi cintamu, minta maaf sama dia. Lalu belajarnya untuk melepaskannya.” Kata Stefy dengan penuh keyakinan.
“Iya, aku pasti akan minta maaf sama dia.”
Siang itu aku merogoh saku rok—ku, ku kirim sebuah pesan permintaan maaf untuk Jeremy. Dan ku terima pesan balasan dari Jeremy.
“Aku hanya memerlukan waktu untuk menenangkan diriku. Aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf sama aku. Kamu harus belajar nahan ego kamu, rubah sikap buruk kamu. Maaf untuk saat ini, cuman ini yang bisa aku bilang ke kamu. aku lagi gak ada mood untuk sms, maaf.”
Kuhela nafasku pelan. Mungkin Jeremy benar, egois memang telah menguasai aku.
Keesokan harinya aku berjalan menelusuri koridor sekolahku, kucari sosok Jeremy. Ia tak terlihat dimana-mana. Perlahan aku teringat pada tempat kesukaan Jeremy. Aku berlari menuju kesana. Sesaat sesudah itu, aku melihat Eilen berada di sana bersama Jeremy, aku heran apa yang mereka lakukan.
Dan ternyata aku telah ebnar-benar terlambat Jeremy telah menyatakan cintanya pada Eilen. Benar-benar terlambat.
Cinta itu memang begitu rumit untuk dimengerti. Kadang saat cinta itu ada di samping kita. Kita malah bersantai-santai dan merasa yakin bahwa cinta itu tak akan pernah hilang dari samping kita. Namun, saat cinta itu pergi, kita baru menyadari betapa bodonya kita dulu saat menganggap remeh keberadaan cinta.
Dari pengalaman ini aku belajar bagaimana aku harus lebih menghargai sebuah cinta. Cinta bukanlah hanya sebuah kata-kata bualan yang menarik hati sehingga dapat membuat seseorang terpesona. Cinta bukanlah suatu keindahan seperti yang ditunjukan pada cerita dongeng anak. Cinta juga bukan sebuah permainan yang harus dimenangkan dan didapatkan. Tapi cinta itu adalah sebuah pengorbanan.
Pengorbanan sejati ialah cinta yang sejati.
Posted by Unknown
kata-kata mutiara
Hidup tak selalu seperti yang kamu mau. Hal baik dan buruk terjadi selalu, namun semua itu telah diatur Tuhan, dengan akhir yang indah.
Jangan terlalu pikirkan sendirimu, karena ada seseorang di luar sana
yang sedang bertanya-tanya seperti apa rasanya bertemu denganmu.
Jangan tangisi mereka yang meninggalkanmu demi orang lain. Jika mereka cukup bodoh melepasmu, kamu harus cukup pintar melupakannya.
Setiap orang punya masalah. Lebih baik mencari solusi masalahmu dari pada membandingkan masalahmu dengan orang lain.
Kadang kamu bertemu seseorang yang sangat berarti dalam hidupmu hanya tuk menyadari pada akhirnya kamu harus melepaskannya.
Pikirkan apapun yang akan kamu ucapkan. Karena setiap ucapan yang keluar dari mulutmu, tak akan bisa kamu tarik kembali.
Cintai apapun yang ada didunia dengan sewajarnya. Karena apapun yang ada di dunia tak ada yang abadi.
Belajar memahami bahwa tak semua keinginan bisa terpenuhi, barangkali obat terbaik tuk mencegah kecewa dan sakit hati.
Jangan pernah menyepelekan apapun yang telah kamu miliki, karena mungkin yang kamu miliki itu sangat diinginkan oleh orang lain.
Selalu lakukan kebaikan dengan cara terbaik. Karena dengan cara itulah kedamaian akan tercipta.
Ikhlas menerima kesalahan, dan belajar dar setiap kesalahan, karena itu yang akan menjadikanmu kuat dalam menjalani kehidupan.
Lakukan apapun dengan tepat, bukan hanya cepat. Keberhasilan tak bisa dihalangi jika yang kamu lakukan telah tepat.
Hidup tak pernah lepas dari masalah, karena masalah adalah salah satu cara Tuhan menjadikanmu pribadi yg lebih kuat dan dewasa.
Tak ada kata terlambat tuk berubah. Masa lalu hanyalah pendewasaan dirimu. Hidupmu tak ditentukan oleh orang lain tapi kamu!
Ketika kamu jatuh, jangan tetap di bawah. Jatuh bukan berarti kalah, itu hanya berarti kamu harus bangkit dan kembali mencoba.
Jangan salahkan dirimu atas keputusan yg salah. Setiap orang membuatnya. Jadikan mereka pelajaran tuk keputusanmu selanjutnya.
Didalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yg menahan bibirnya, berakal budi.
Menertawakan masalah org lain itu mudah. Menertawakan masalah diri sendiri? Hanya org hebat yg bisa.
Jika kamu membiarkan rasa takut tumbuh lebih besar dari imanmu, maka kamu menghalangi impianmu menjadi kenyataan.
Tak perlu iri pada orang lain. Lihat apa yang kamu miliki sekarang,
pikirkan apa yang telah dilakukan tuk dapatkannya. Bersyukurlah.
Hanya karena orang lain berbuat tidak baik kepada kita, bukan berarti kita harus membalasnya dengan cara yang sama.
Membenci hanya merugikan dirimu sendiri, karena sebagian besar orang yg kamu benci tak akan peduli dengan kebencianmu.
Untuk setiap manusia di dunia ini, Tuhan telah memberikan sesuatu yang mulia dan baik ke dalam hatinya. Selalu jaga hatimu.
Jangan berhenti berharap tuk yg terbaik. Persiapkan diri tuk yg terburuk. Dan terima apapun yang Tuhan berikan.
Doaku hari ini: Tuhan, maafkan semua kesalahan yang telah ku lakukan. Berkahilah mereka yang selalu mengingatkanku.
Hidup ini terlalu berharga tuk habiskan waktumu memikirkan dia yang tak
memperlakukanmu dengan baik, dan tak pernah menganggapmu ada.
Salah satu hal terbaik dalam hidup adalah melihat senyum di wajah orang tuamu, dan menyadari bahwa kamulah alasannya.
Ketika seseorang berusaha menjauhi hidupmu, biarkanlah. Kepergian dia
hanya membuka pintu bagi seseorang yg lebih baik tuk masuk.
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
Jangan membenci mereka yg mengatakan hal buruk tuk menjatuhkanmu, karena merekalah yang buatmu semakin kuat setiap hari.
Terkadang, kamu berpikir seseorang telah berubah tanpa kamu menyadari hal itu terjadi karena dia mulai bersikap dewasa.
Hidup terlalu singkat jika hanya menyesal. Hidup hanya sekali, namun jika digunakan dengan baik, sekali saja cukup!
Posted by Unknown
ketika cinta itu benar-benar ada
Hay,aku gina aulia. Aku bersekolah di
salah satu SMA terbaik bandung. Sekarang aku baru kelas 1 SMA,pengalaman
aku tentang cowok masih sangat sedikit waktu SMP. Namun semua berubah
ketika aku mulai merasakan suasana di SMA.
”perkenalkan nama saya gina aulia,panggil aja gina” ujarku ketika berkenalan di depan kelas. Semua murid pagi ini maju kedepan dan memperkenalkan dirinya masing-masing. Setelah memperkenalkan diri,kami pun mengatur tempat duduk. Akhirnya aku duduk di no.3,lumayan lahh pas di tengah-tengah hehe.namun bangku di sebelahku masih kosong,tiba-tiba “eh kosong ya? Aku duduk disini boleh kan?” seorang cowok menggunakan jaket abu-abu duduk di sebelahku. Aku hanya bengong melihatnya,”duh rambut gue acak-acakan lagi” dia lantas langsung merapikan rambutnya,waaww it’s so cool. “kok gitu banget lihatnya?” sontak pertanyaan itu membuat pandanganku buyar. “mmh gak ada” jawabku singkat,”eh kenalin,gue dhani” ujarnya sambil tersenyum ramah padaku. “. “ohh..gue gii” belum selesai aku berbicara seorang cewek datang kearah meja kami dan menarik lengan dhani,”kamu duduk ma aku aja” ketus cewek itu pada dhani. Aku hanya diam saja melihatnya seperti itu,ku lihat tak ada rasa mengelak dari dhani.akhirnya aku hanya duduk sendiri karna jumlah murid kelas kami yang ganji,”ya what ever laahh yang penting disini gue pengen belajar..” gumamku dalam hati.
“huffttt kak vano mana sihh???” gerutuku sambil melihat kearah jam tangan ku. Murid-murid lain sudah pada meninggalkan sekolah,akhirnya aku mengeluarkan earphone-ku sambil menunggu kak vano. “masih lama dijemputnya?” Tanya seorang cewek padaku.”kenalin,gue neisha” sapanya padaku,”hay,gue gina. Iya nih,kakak gue paling lagi kena macet” ujarku pada neisha. “oh iya,elo kelas berapa?” tanyaku padanya,”kelas 1E” ujarnya singkat bersamaan dengan datangnya kak vano. “eh gue udah di jemput,mau barengan gak?” tanyaku pada neisha.”gak ah,maksih. Gue pulang sama kakak gue juga,cuman dia lagi ada urusan di dalem,bentar lagi juga kelar. Loe pulang aja duluan.”jawabnya ramah. “okee…”.
Ketika sampai dirumah tubuhku benar-benar ingin rubuh. Setelah aku masuk kamar,aku langsung menyalakan komputerku dan membuka e-mail.
Ternyata neisha membelikan ku tiket untuk film insidious. Aku kira filmya tentang robot,atau detektif. Ternyata filmnya tentang hantu. Berkali-kali aku tutup mukaku dengan task u,dan berkali-kali pula rasha menakutiku. “ihh resek,jangan gitu. Aku takut!!” jeritku pada rasha,namun dia seolah tak peduli dia malah semakin menjadi-jadi. Akhirnya karna ketakutan aku pun menangis dan keluar dari bioskop. Rasya menyusulku “maaf ya” ujarnya sambil menatapku. “lepasin. Gue mau pulang”. Aku pun pulang dengan menggunakan taxi padahal rasya menawarkan ingin mengantarku pulang. Sesampainya dirumah,mataku masih sembab kak vano melihat ke arahku. “pasti nonton film hantu.” Cetus kakak ku sambil menunjuk ke arahku. Aku tak peduli,aku langsung meuju kamarku dan membanting diriku ke kasur.
@gin-gin : sumpah gue benci ama loe sha!!!
@rarascobby : benci kenapa? Emang dia salah apa?
@gin-gin : dia udah bikin gue nangis,masang muka terpaksa. Pokoknya gue benci dia!!!
Kulihat hp ku ada sms masuk dari neisha. “gin,gue minta maaf ya.”,”bukan slah kalian,ini slah gue yang penakut.” Setelah membalas sms neisha,aku pun tidur.
Ketika aku duduk di kantin bersama neisha,tiba-tiba rasha datang dan berdiri di sebelahku. “gue minta maaf soal kemaren.”,”ya” jawbku singkat sambil menuju ke kelas.
“anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari jakarta.silahkan kamu duduk di sebelah gina” cowok baru itu berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku. “daffa” sapanya sambil tersenyum manis,”gina”jawabku dengan muka datar.
Ketika tengah menunggu kak vano di parkiran,tiba-tiba rasha dating bersama neisha. “loe masih marah?” Tanya rasha padaku,aku hanya diam pura-pura tidak mendengar. “gin,kak rasha minta maaf” ujar neisha sambil menarik lenganku,”iya nes,lagian bukan salah dia. Ini salah gue yang terlalu ketakutan” jawabku datar yang hanya menatap neisha. “gue pulang dulu ya nes,kakak gue udah jemput” ujarku sambil berjalan ke arah mobil kak vano.
@gin-gin : gue cuman kesel sama kakaknya,bukan adiknya..
@rarascooby : coba aja maafin dia,ingat MANUSIA GAK ADA YANG SEMPURNA…
Aku menarik nafas panjang ketika membaca balasan dari rara. Bener juga kata dia,gak sepantesnya aku bersikap kekanak-kanakan gini. “besok aku harus maafin rasha!” ujarku sambil menutup aplikasi e-mailku.
Aku menunggu rasha di dalam perpustakaan,namun keliatannya gak ada tanda-tanda bahwa rasha akan kesini. Akhirnya aku coba mencarinya di gedung lain,ketika tiba di lorong kulihat seorang cowok tengah memeluk seorang cewek yang tengah menangis. “rasha?” ujarku pelan ketika melihatnya dari kejauhan. Siapa cewek itu? Apa mungkin pacarnya? Kenapa aku mesti tau? Aku kan cuman mau minta maaf. Ingin rasanya aku menghampirinya dan langsung meminta maaf,namun rasanya ada yang menahan kaki ini untuk melangkah ke arahnya. Hati ini mendadak sakit,ada yang ingin mengalir dari pelupuk mata ini melihat kemesraan mereka.
Aku menunggu daffa mengeluarkan mobilnya,ketika itu rasha lewat di depanku. “sha,gue minta maaf. Sory kemarin gue terlalu egois”,”iya” jawabnya singkat dibarengi dengan munculnya seorang cewek di belakang rasha yang kulihat tadi di lorong bersamanya. “siapa sayang?” Tanya cewek itu sambil bergayut di punggung rasha,”temen adek aku” jawabnya dengan muka datar.
Akhirnya aku pulang diantar oleh daffa. Sepanjang perjalanan daffa menceritakan semua tentang pengalaman cintanya di smp,ternyata dia sudah sangat tau banyak tentang cinta.
@gin-gin : hari ini aku lihat dia di lorong dengan seorang cewek. Mungkin itu pacarnya,tapi yang lebih anehnya lagi aku nangis karna liat kejadian itu.
@rarascooby : itu jatuh cinta namanya.
@gin-gin : iya? Maybe,tapi aku belum begitu yakin. Kalaupun iya,aku belum siap dengan cinta itu…
@rarascooby : kenapa gitu?
@gin-gin : karna aku gak kuat ngeliat dia tiap hari di sekolah mesra-mesraan dengan pacarnya
@rarascooby : kalau kamu benar-benar sayang sama dia,aku yakin kamu pasti kuat..
Aku terhenyak dengan kata-kata rara ini,siapa dia sebenarnya? Dia sepertinya sangat paham dengan masalahku.
*****
“kak vano mana nih?” gerutuku ketika menunggu kak vano yang sangat lama menjemputku. “argh,hujann!!” ketusku ketika tiba-tiba hujan turun,aku pun menunggu dengan rasa jengkel yang memenuhi kepalaku. “belum pulang?” suara seorang cowok terdengar dari belakang ku,karna kukira dia tidak bertanya padaku maka aku acuhkan saja pertanyaannya. “gina,elo belum pulang?” ternyata cowok itu rasha yang tengah bertanya padaku,”ohh sory,gue kira nanya sama yang lain…” ujarku sambil cengengesan “belum,elo kok belum pulang? Neisha mana?” ujarku sambil celingukan mencari neisha di belakangnya. “neisha udah pulang duluan,tadi gue ada rapat osis” jawabnya sambil mengeluarkan motornya dari parkiran, “masih lama dijemputnya? Bareng gue aja mau? Tapi ntar elo hujan-hujan,gimana?” tawarnya ketika akan pergi dari parkiran. “aman kan?” tanyaku takut,”hahaha iya-iya,tenang aja” ujarnya sambil tersenyum. “hah?rasha tersenyum?karna aku? Ya ALLAH apa aku mimpi?” gumamku sambil memandanginya penuh arti. “heyy,kok malah ngelamun..”,”hah?iya hehe”. Aku pun naik dan duduk di motornya. “pegangan” ujarnya sambil memasang helm. Motornya pun melaju di bawah hujan,seakan mengelak dari setiap tetesan air dari langit. “bolehkah aku berharap sesuatu yang indah untuk besok?” gumamku sambil memeluk erat pinggang rasha dari belakang. “kuharap ini tak akan berakhir,aku sayang kamu sha”.
“gin,maaf ya gue gak bisa jemput tadi. Mobil masuk bengkel” ujar kak vano ketika mengetahui aku sudah sampai dirumah,”gak apa-apa kok kak,malahan gue pengen berterimakasih sama loe karna gak jemput gue hehehe…” aku langsung memeluk kakak ku dengan baju basah. Kakak ku heran dengan tingkah laku ku sore ini.
@gin-gin : kejadian hari ini bener-bener gak bisa di gambarkan hohoho :D
@rarascooby : waahh lagi seneng yak?
@gin-gin : iya nih :D hkhkhk
@rarascooby : seneng kenapa? Cerita dongg…
@gin-gin : aku tadi hujan-hujanan sama dia gara-gara kakak aku gak jemput
@rarascooby : wahh asikk tuh :D
@gin-gin : iyaa,eh aku boleh tau kamu siapa gak? Atau setidaknya nama kamu aja.. :/
@rarascooby : nanti kamu bakal tau kok sabar yaa
(offline)
“nanti aku bakal tau? Maksudnya apaan coba?” ujarku bingung. Tiba-tiba ada sms dari nomor baru di Hp ku “jangan lupa mandi yaa *rasha ” ya ampun rasha?? Aaaaa aku seneng banget. Seketika itu aku langsung lompat-lompat dan.. “aww” lututku mengenai lemari,”gara-gara terlalu senang,aku sampai kayak gini hahaha” ucapku sambil mendekap hp itu di dadaku.
Besoknya ketika aku di sekolah, aku bersifat biasa saja pada rasha seolah kemaren itu hanya kebetulan saja. “gak sampe sakit kan?” Tanya rasha ketika berpapasan denganku di lorong,”haha gak lah,biasa aja kali” ujarku sambil tertawa,”oh baguslah” ucapnya sambil tersenyum. Kami pun saling bertatapan,entah apa yang tengah rasha fikirkan tentangku. Aku benar-benar tak mampu untuk membaca tatapannya itu,”ngerti?” ujarnya di tengah-tengah tatapannya. Aku hanya menggeleng tanda aku benar-benar tidak tau dengan maksudnya,”rashaa” teriak seorang cewek dari ujung lorong. Cewek itu berlari ke arah rasha dan memeluknya erat,”kalian ngapain disini?” tanyanya di sela-sela tangisannya. “kami cuman ngobrol doang” ujar rasha dingin,”aku balik dulu ya sha”. Aku segera berlalu di depan mereka tanpa menoleh lagi.
Daffa bercerita tentang pacarnya yang dulu,pacarnya meninggal karna kanker darah. Daffa sangat frustasi karna dia sangat mencintai pacarnya,mereka berpacaran kurang lebih 2 tahun. Daffa sangat menyayangi mia,seorang cewek sederhana yang sangat berharga bagi dirinya. Tak terasa air mataku menitik mendengar kisahnya yang begitu kehilangan akan sosok seseorang yang ia cintai. “jadi elo gak boleh putus asa karna cinta elo yang gak bersambut,cinta elo masih ada di dunia ini. Sedangkan gue harus menunggu kehidupan kedua untuk merasakannya lagi” ujar daffa lirih. Ku lihat matanya berkaca-kaca seakan aka nada yang pecah di dalam matanya,”gue yakin elo kuat gin” daffa memelukku. Suaranya begitu menggetarkan hatiku,aku benar-benar ikut merasakan sedihnya. “daffa,elo jangan nangis. Iya,gue janji gue bakal tegar”. Dadaku benar-benar terasa sesak melihat daffa yang menangis sambil memeluk ku,cinta ini mulai hilang arah.
@gin-gin : banyak hal aneh yang bikin aku pusing hari ini :’( bad day!!!
@rarascooby : kenapa? About love again?
@gin-gin : yess.. aku rasa cinta aku mulai tersesat
@rarascooby : kenapa gitu?
@gin-gin : hari ini aku liat 2 cowok yang berbeda. Mereka sama-sama bikin hati aku sakit
@rarascooby : yg pertama kenapa?
@gin-gin : dia natap aku seakan-akan matanya tuh bilang sesuatu sama aku,tapi aku gak ngertii
@rarascooby : asik ya,berarti dia nyuruh kamu untuk membaca isi hatinya. Dia cinta sama kamu..
@gin-gin : seneng sih seneng tapi gara-gara lihat cowok ke 2 nangis,aku jadi bingung
@rarascooby: kenapa gitu?
@gin-gin : karna pas dia nangis hati aku berdenyut,aku benar-benar menghayati tangisannya :’(
@rarascooby: wah ribet yaa,kalau aku sih punya cowok yang selalu sayang sama aku. Tapi tadi aku liat dia sama cewek lain di lorong sekolah. :’( aku takut dia mencintai cewek itu,karna akhir-khir ini dia berubah sama aku
@gin-gin: percaya aja sama cintanya dia
@rarascooby : thanks yaa :D
Aku pun menutup chattingku dengan rara malam itu. Dan tertidur lelap hingga esok paginya.
“gina,,, tolong ambilkan fotocopyan yang ada di perpus sekarang ya” ujar pak tio padaku. Berhubung aku ketua kelas dikelas jadi semua tugas ambil mengambil dilimpahkan dengan senang hati oleh guru-guru kepadaku. Aku pun berjalan sambil bersenandung ria. Ketika melintasi lorong menuju perpus… “rasha?” lagi-lagi aku melihatnya dengan cewek itu. Dan cewek itu kali ini tetap menangis, rasya mencoba menenangkannya. “sha,jangan…” cegahku lirih saat melihat rasha mengecup kening cewek itu. Mereka berpelukan. Badanku langsung dingin, badan ini serasa tak bertulang melihat ini. Hati ini sungguh terkoyak. Tiba-tiba aku teringat pesan pak tio, ya aku harus mengambil fotocopy itu dan melewati mereka tanpa menoleh. Aku berjalan kaku kea rah mereka yang masih berpelukan. “misi…” ujarku lirih di hadapan mereka. Aku berhasil melewati mereka tanpa menoleh dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku masih diam selama di sekolah. Kali ini melihatnya berpelukan bersama cewek lain, terasa lebih dan sangat sangat menyakitkan. Aku menahan air mata ini agar tidak terjatuh di sekolah. Agar tak malu di depannya. “gin” suara seorang cowok memanggilku dari belakang. Namun aku tak mau menoleh, karna aku tau suara siapa itu. “gin,plis balik dan liat gue!” aku tetap diam dan seolah tak mendengar apapun. Cowok itu akhirnya memelukku dari belakang, suaranya bergetar dipundakku “gue tau loe terluka. Tapi gue gak…”, “lepasin gue.” Perintahku singkat pada rasha. “gin,” , “lepasin gue ah!!” akhirnya pelukan itu terlepas dan aku berlari sejauh-jauhnya dari tempat itu.
@gin-gin : aku gak akan pernah menoleh ke kamu lagi.
@rarascooby : kamu kenapa?
@gin-gin : kali ini aku benar-benar terluka parah karna dia
@rarascooby : emang dia ngapain kamu?
@gin-gin : dia ngecup kening cewek lain dan meluk cewek itu erat banget! Hati aku sakit ngeliat itu!!!
@rarascooby : dia ada mau jelasin sesuatu ke kamu?
@gin-gin : ada
@rarascooby : itu artinya dia gak mau kamu salah paham tentang cewek itu.
@gin-gin : gak tau deh
Akhirnya karna hal itu, akupun jatuh sakit. Mag aku kambuh berat sehingga aku harus dirawat di rumah sakit. Belum lagi suhu badanku yang tiba-tiba naik. “segitunyakah aku sama rasha?”. Aku segera menelvon neisha agar dia memberi tau guru piket bahwa hari ini sku sedang sakit dan tidak bisa masuk sekolah. “halo nes,hari ini gue gak bisa dateng ke sekolah. Tolong bilangin ke guru piket ya. Makasih.” Akupun kembali berbaring diatas tempat tidur. Tak lama kemudian akupun terlelap dalam heningnya ruangan rumah sakit ini.
“sha,gue sayang sama loe” rasha tersenyum rapuh,sekejap kemudian dia hilang ntah kemana. Ternyata hanya mimpi. Kulihat ruangan di sekitarku, samar-samar aku dengar pembicaraan mama di depan pintu ruang rawatku. “boleh saya masuk tan?”,”oh ya silahkan,tante tinggal bentar ya” seketika ganggang pintu ruang rawatku dibuka oleh orang itu,lalu akupun pura-pura tertidur pulas. “kamu cantik” ujarnya ketika melihatku tertidur,suara itu sangat familiar sekali dengan telingaku. Namun aku tidak mau membuka mataku,aku ingin tau apa yang akan dilakukannya selanjutnya.”gue tau ini salah gue. Gue tau lo liat kejadian gue sama rara dilorong kemaren gin,gue pengen meluk elo saat itu juga. Gue terluka gin tau elo jatuh sakit karna gue. Gue sayang sama loe gin. Meskipun gue selalu cuek sama elo. Gin,plis sembuhlah buat gue.
”perkenalkan nama saya gina aulia,panggil aja gina” ujarku ketika berkenalan di depan kelas. Semua murid pagi ini maju kedepan dan memperkenalkan dirinya masing-masing. Setelah memperkenalkan diri,kami pun mengatur tempat duduk. Akhirnya aku duduk di no.3,lumayan lahh pas di tengah-tengah hehe.namun bangku di sebelahku masih kosong,tiba-tiba “eh kosong ya? Aku duduk disini boleh kan?” seorang cowok menggunakan jaket abu-abu duduk di sebelahku. Aku hanya bengong melihatnya,”duh rambut gue acak-acakan lagi” dia lantas langsung merapikan rambutnya,waaww it’s so cool. “kok gitu banget lihatnya?” sontak pertanyaan itu membuat pandanganku buyar. “mmh gak ada” jawabku singkat,”eh kenalin,gue dhani” ujarnya sambil tersenyum ramah padaku. “. “ohh..gue gii” belum selesai aku berbicara seorang cewek datang kearah meja kami dan menarik lengan dhani,”kamu duduk ma aku aja” ketus cewek itu pada dhani. Aku hanya diam saja melihatnya seperti itu,ku lihat tak ada rasa mengelak dari dhani.akhirnya aku hanya duduk sendiri karna jumlah murid kelas kami yang ganji,”ya what ever laahh yang penting disini gue pengen belajar..” gumamku dalam hati.
“huffttt kak vano mana sihh???” gerutuku sambil melihat kearah jam tangan ku. Murid-murid lain sudah pada meninggalkan sekolah,akhirnya aku mengeluarkan earphone-ku sambil menunggu kak vano. “masih lama dijemputnya?” Tanya seorang cewek padaku.”kenalin,gue neisha” sapanya padaku,”hay,gue gina. Iya nih,kakak gue paling lagi kena macet” ujarku pada neisha. “oh iya,elo kelas berapa?” tanyaku padanya,”kelas 1E” ujarnya singkat bersamaan dengan datangnya kak vano. “eh gue udah di jemput,mau barengan gak?” tanyaku pada neisha.”gak ah,maksih. Gue pulang sama kakak gue juga,cuman dia lagi ada urusan di dalem,bentar lagi juga kelar. Loe pulang aja duluan.”jawabnya ramah. “okee…”.
Ketika sampai dirumah tubuhku benar-benar ingin rubuh. Setelah aku masuk kamar,aku langsung menyalakan komputerku dan membuka e-mail.
Hari ini bener-bener parah,baru 1 hari di sekolah,rasanya gue udah K.O.!!!
Tak berapa lama,dating sebuah balasan dari pengguna yang bernama @rarascobby
@rarascobby :Capek gimana? Bukannya seru ?
@gin-gin : seru apaan juga? Baru hari pertama udah dikasih pr -,-
@rarascobby : hahahaha,murid baru ya? Welcome to senior high school :D
@gin-gin : beehh iya deh maksih.. :p ,gue out dulu yaa,couse mesti mandi,makan,dan ngerjain tugasss, bye rarascobby
Akhirnya setelah chat dengan rarascobby,aku pun tertidur dengan pulasnya.
Ketika tengah tertidur,aku pun terbangun karna terkejut. Kulihat kea rah jam,”hah?jam 2 malam? Duhh pr belum ngerjain lagii” segera aku bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Setelah mataku segar langsung aku duduk di kursi dan mengerjakan tugasku di meja beajar,”humhhh gimana nih caranya?” gumamku ketika melihat soal yang sulit untuk ku kerjakan. Karna bingung,aku pun langsung membuka laptop,berharap ada yang mau mebantuku mengerjakan soal.
@gin-gin : duhh ada yang belum tidur gak? Bisa bantuin gue bikin pr?
11 menit aku menunggu balasan,namun sepertinya semua orang tengah asik terlelap Dallam mimpinya masing-masing.
@rarascobby :coba kirimin soalnya,siapa tau gue bisa ngerjain
@gin-gin : okee…
Setelah aku kirim soal yang sulit untuk aku kerjakan aku pun menunggu balasan darinya. Dan dia pun mengirimkan jawabannya..
@gin-gin : alhamdulillaahh ya allah,thanks yaa :’)
@rarascobby : haha iya,sama-sama. Ntar kalau udah selesai prnya,buruan tidur ya
@gin-gin : oke rara :D
Paginya aku berangkat sekolah dengan senang. “fiuhh untung gue kenal ama aloe ra,hehehe “ gumamku dalam hati sambil sedikit tersenyum. “hai gin..” sapa dhani padaku di depan gerbang sekolah, “hai juga…” jawabku singkat. “maaf ya soal kemaren itu…”,”oh iya gak apa-apa. Lagian dia pacar loe kan?”,”eh diaa”. Belum selesai dhani bicara aku langsung pergi karna neisha melambaikan tangannya padaku.”kenapa si dhani?” Tanya neisha yang heran melihatku ngobrol dengan dhani tadi,”haha gak ada,biasa tebar pesona pagi-pagi “ ujarku pada neisha.kami pun cekikikan.
“tumben banget gue mau ke perpus,ahh bodo yang penting gue ikutin kata hati gue..” aku pun masuk dan mulai berkeliling mencari buku yang tidak membuatku bosan. Ketika aku menjumpai buku yang aku inginkan,ternyata letaknya jauh dari jangkauan tanganku. “mau ngambil ini?” Tanya seorang cowok padaku.”iya,tapi tangan gue gak nyampe. Bisa tolongin gak?” ujarku seperempat memohon,”haha iya” jawabnya sambil mengambilkan buku tersebut. “thanks yaa” jawabku yang langsung berbalik dan menuju meja di dekatku. Ketika tengah asik membaca buku “rasha” cowok yang menolongku mengambil buku tadi memperkenalkan dirinya, “ohh…gina” jawabku sambil tersenyum. “kelas berapa?”tanyanku lagi,”kelas 2 ipa” ujarnya sambil menghidupkan computer di sebelahku. “. “kamu pasti murid baru kan?” ujarnya sambil tetap focus melihat kearah computer. “hehe iya”.”video yang asik ditonton tuh apaan?” tanyanya,”kalau gue sih sukanya maddy jane” ujarku sambil mengetikkan nama videonya. Dia memasang earphone dan mendengarkan music tersebut dengan enjoynya.
*****
Hari ini aku sudah janji dengan neisha akan pergi jalan ke mall. Katanya aku harus menunggu di dekat taman di komplek rumahku,nanti dia dan kakaknya yang akan menjemputku. Tak lama aku menunggu mobil neisha pun dating. “hay gin,masuk yuk…’ ujar neisha padaku, “ lama ya?” tanyanya di dalam mobil. “gak kok” jawabku singkat. “oohh bagus deh,soalnya aku ma kak rasha tadi kena macet dijalan” jawabnya sambil mengunyah permen karet. “hah? Rasha? Bukannyaa…” gumamku dalam kebingungan,mungkinkah rasha yang dimaksud neisha adalah cowok yang menolongku mengambil buku kemarin di perpus?. “kok kalian gak ngomong?” Tanya neisha bingung padaku dan rasha. “kalian udah saling kenal kan?” Tanya neisha pada kami,”ngg udah kok”,”gue lagi nyetir. Ngerti!” ketus rasha pada neisha. Seketika mobil ini terasa seperti goa kosong.
Puas memilih barang-barang neisha pun mengajak ku untuk foto box. “kak rasha ikutan sekalian” ujar neisha sambil menarik lengan kakaknya. “iihh apa-apaan sih males gue.kalian aja.”,”gak mauu,kakak harus ikutan..”. akhirnya dengan raut muka jengkel rasha pun mau ikut foto box,karna yang muat hanya untuk 2 orang kami terpaksa ganti-gantian. Pertama aku dan neisha,lalu neisha dan kakaknya.”eh kalian berdua harus foto juga…” ujar neisha yang tengah melihat hasil foto.dengan tampang sangat terpaksa rasha pun mengikuti kemauan adiknya. Gaya ku sungguh kaku sekali,gak kuat rasanya untuk bergaya di depan rasha dengan muka yang seperti itu. “gue simpen satu.” Ujarnya padaku sambil memasukkan foto aku dengannya ke dalam dompet.”sadis banget mukanya,gue kayak mau disantet pake tuh foto” gumamku sambil menatap dengan muka kengerian.
“nah,kita nonton yaa”. Selesai berkata tiba-tiba hp neisha bunyi,dia pun mengangkatnya sambil agak menjauh dari kebisingan di loket pembelian. “kak,pacar gue ngajak jalan. Kalian berdua tetep nonton ya. Daa” neisha pergi dengan cepatnya tanpa menoleh ke belakang lagi. Meninggalkan aku dengan rasha yang wajahnya msih menunjukkan ketidak senangan.
Tak berapa lama,dating sebuah balasan dari pengguna yang bernama @rarascobby
@rarascobby :Capek gimana? Bukannya seru ?
@gin-gin : seru apaan juga? Baru hari pertama udah dikasih pr -,-
@rarascobby : hahahaha,murid baru ya? Welcome to senior high school :D
@gin-gin : beehh iya deh maksih.. :p ,gue out dulu yaa,couse mesti mandi,makan,dan ngerjain tugasss, bye rarascobby
Akhirnya setelah chat dengan rarascobby,aku pun tertidur dengan pulasnya.
Ketika tengah tertidur,aku pun terbangun karna terkejut. Kulihat kea rah jam,”hah?jam 2 malam? Duhh pr belum ngerjain lagii” segera aku bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Setelah mataku segar langsung aku duduk di kursi dan mengerjakan tugasku di meja beajar,”humhhh gimana nih caranya?” gumamku ketika melihat soal yang sulit untuk ku kerjakan. Karna bingung,aku pun langsung membuka laptop,berharap ada yang mau mebantuku mengerjakan soal.
@gin-gin : duhh ada yang belum tidur gak? Bisa bantuin gue bikin pr?
11 menit aku menunggu balasan,namun sepertinya semua orang tengah asik terlelap Dallam mimpinya masing-masing.
@rarascobby :coba kirimin soalnya,siapa tau gue bisa ngerjain
@gin-gin : okee…
Setelah aku kirim soal yang sulit untuk aku kerjakan aku pun menunggu balasan darinya. Dan dia pun mengirimkan jawabannya..
@gin-gin : alhamdulillaahh ya allah,thanks yaa :’)
@rarascobby : haha iya,sama-sama. Ntar kalau udah selesai prnya,buruan tidur ya
@gin-gin : oke rara :D
Paginya aku berangkat sekolah dengan senang. “fiuhh untung gue kenal ama aloe ra,hehehe “ gumamku dalam hati sambil sedikit tersenyum. “hai gin..” sapa dhani padaku di depan gerbang sekolah, “hai juga…” jawabku singkat. “maaf ya soal kemaren itu…”,”oh iya gak apa-apa. Lagian dia pacar loe kan?”,”eh diaa”. Belum selesai dhani bicara aku langsung pergi karna neisha melambaikan tangannya padaku.”kenapa si dhani?” Tanya neisha yang heran melihatku ngobrol dengan dhani tadi,”haha gak ada,biasa tebar pesona pagi-pagi “ ujarku pada neisha.kami pun cekikikan.
“tumben banget gue mau ke perpus,ahh bodo yang penting gue ikutin kata hati gue..” aku pun masuk dan mulai berkeliling mencari buku yang tidak membuatku bosan. Ketika aku menjumpai buku yang aku inginkan,ternyata letaknya jauh dari jangkauan tanganku. “mau ngambil ini?” Tanya seorang cowok padaku.”iya,tapi tangan gue gak nyampe. Bisa tolongin gak?” ujarku seperempat memohon,”haha iya” jawabnya sambil mengambilkan buku tersebut. “thanks yaa” jawabku yang langsung berbalik dan menuju meja di dekatku. Ketika tengah asik membaca buku “rasha” cowok yang menolongku mengambil buku tadi memperkenalkan dirinya, “ohh…gina” jawabku sambil tersenyum. “kelas berapa?”tanyanku lagi,”kelas 2 ipa” ujarnya sambil menghidupkan computer di sebelahku. “. “kamu pasti murid baru kan?” ujarnya sambil tetap focus melihat kearah computer. “hehe iya”.”video yang asik ditonton tuh apaan?” tanyanya,”kalau gue sih sukanya maddy jane” ujarku sambil mengetikkan nama videonya. Dia memasang earphone dan mendengarkan music tersebut dengan enjoynya.
*****
Hari ini aku sudah janji dengan neisha akan pergi jalan ke mall. Katanya aku harus menunggu di dekat taman di komplek rumahku,nanti dia dan kakaknya yang akan menjemputku. Tak lama aku menunggu mobil neisha pun dating. “hay gin,masuk yuk…’ ujar neisha padaku, “ lama ya?” tanyanya di dalam mobil. “gak kok” jawabku singkat. “oohh bagus deh,soalnya aku ma kak rasha tadi kena macet dijalan” jawabnya sambil mengunyah permen karet. “hah? Rasha? Bukannyaa…” gumamku dalam kebingungan,mungkinkah rasha yang dimaksud neisha adalah cowok yang menolongku mengambil buku kemarin di perpus?. “kok kalian gak ngomong?” Tanya neisha bingung padaku dan rasha. “kalian udah saling kenal kan?” Tanya neisha pada kami,”ngg udah kok”,”gue lagi nyetir. Ngerti!” ketus rasha pada neisha. Seketika mobil ini terasa seperti goa kosong.
Puas memilih barang-barang neisha pun mengajak ku untuk foto box. “kak rasha ikutan sekalian” ujar neisha sambil menarik lengan kakaknya. “iihh apa-apaan sih males gue.kalian aja.”,”gak mauu,kakak harus ikutan..”. akhirnya dengan raut muka jengkel rasha pun mau ikut foto box,karna yang muat hanya untuk 2 orang kami terpaksa ganti-gantian. Pertama aku dan neisha,lalu neisha dan kakaknya.”eh kalian berdua harus foto juga…” ujar neisha yang tengah melihat hasil foto.dengan tampang sangat terpaksa rasha pun mengikuti kemauan adiknya. Gaya ku sungguh kaku sekali,gak kuat rasanya untuk bergaya di depan rasha dengan muka yang seperti itu. “gue simpen satu.” Ujarnya padaku sambil memasukkan foto aku dengannya ke dalam dompet.”sadis banget mukanya,gue kayak mau disantet pake tuh foto” gumamku sambil menatap dengan muka kengerian.
“nah,kita nonton yaa”. Selesai berkata tiba-tiba hp neisha bunyi,dia pun mengangkatnya sambil agak menjauh dari kebisingan di loket pembelian. “kak,pacar gue ngajak jalan. Kalian berdua tetep nonton ya. Daa” neisha pergi dengan cepatnya tanpa menoleh ke belakang lagi. Meninggalkan aku dengan rasha yang wajahnya msih menunjukkan ketidak senangan.
Ternyata neisha membelikan ku tiket untuk film insidious. Aku kira filmya tentang robot,atau detektif. Ternyata filmnya tentang hantu. Berkali-kali aku tutup mukaku dengan task u,dan berkali-kali pula rasha menakutiku. “ihh resek,jangan gitu. Aku takut!!” jeritku pada rasha,namun dia seolah tak peduli dia malah semakin menjadi-jadi. Akhirnya karna ketakutan aku pun menangis dan keluar dari bioskop. Rasya menyusulku “maaf ya” ujarnya sambil menatapku. “lepasin. Gue mau pulang”. Aku pun pulang dengan menggunakan taxi padahal rasya menawarkan ingin mengantarku pulang. Sesampainya dirumah,mataku masih sembab kak vano melihat ke arahku. “pasti nonton film hantu.” Cetus kakak ku sambil menunjuk ke arahku. Aku tak peduli,aku langsung meuju kamarku dan membanting diriku ke kasur.
@gin-gin : sumpah gue benci ama loe sha!!!
@rarascobby : benci kenapa? Emang dia salah apa?
@gin-gin : dia udah bikin gue nangis,masang muka terpaksa. Pokoknya gue benci dia!!!
Kulihat hp ku ada sms masuk dari neisha. “gin,gue minta maaf ya.”,”bukan slah kalian,ini slah gue yang penakut.” Setelah membalas sms neisha,aku pun tidur.
Ketika aku duduk di kantin bersama neisha,tiba-tiba rasha datang dan berdiri di sebelahku. “gue minta maaf soal kemaren.”,”ya” jawbku singkat sambil menuju ke kelas.
“anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari jakarta.silahkan kamu duduk di sebelah gina” cowok baru itu berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku. “daffa” sapanya sambil tersenyum manis,”gina”jawabku dengan muka datar.
Ketika tengah menunggu kak vano di parkiran,tiba-tiba rasha dating bersama neisha. “loe masih marah?” Tanya rasha padaku,aku hanya diam pura-pura tidak mendengar. “gin,kak rasha minta maaf” ujar neisha sambil menarik lenganku,”iya nes,lagian bukan salah dia. Ini salah gue yang terlalu ketakutan” jawabku datar yang hanya menatap neisha. “gue pulang dulu ya nes,kakak gue udah jemput” ujarku sambil berjalan ke arah mobil kak vano.
@gin-gin : gue cuman kesel sama kakaknya,bukan adiknya..
@rarascooby : coba aja maafin dia,ingat MANUSIA GAK ADA YANG SEMPURNA…
Aku menarik nafas panjang ketika membaca balasan dari rara. Bener juga kata dia,gak sepantesnya aku bersikap kekanak-kanakan gini. “besok aku harus maafin rasha!” ujarku sambil menutup aplikasi e-mailku.
Aku menunggu rasha di dalam perpustakaan,namun keliatannya gak ada tanda-tanda bahwa rasha akan kesini. Akhirnya aku coba mencarinya di gedung lain,ketika tiba di lorong kulihat seorang cowok tengah memeluk seorang cewek yang tengah menangis. “rasha?” ujarku pelan ketika melihatnya dari kejauhan. Siapa cewek itu? Apa mungkin pacarnya? Kenapa aku mesti tau? Aku kan cuman mau minta maaf. Ingin rasanya aku menghampirinya dan langsung meminta maaf,namun rasanya ada yang menahan kaki ini untuk melangkah ke arahnya. Hati ini mendadak sakit,ada yang ingin mengalir dari pelupuk mata ini melihat kemesraan mereka.
Aku bergegas meninggalkan tempat itu dan langsung menuju ke kelas,ketika
sampai di kelas aku langsung menutup wajahku dengan lenganku dan
membiarkan air mata ini mengalir sejadi-jadinya. “elo kenapa?” Tanya
daffa yang duduk di sampingku,aku mengangkat kepalaku dan melihat ke
arahnya sejenak. “elo nangis?” tanyanya heran,”daffaaa gue kenapa sih??”
aku menyandar di bahunya sambil tetap menangis dengan kuatnya. “emang
loe kenapa? Kok bisa nangis kayak gini? Coba cerita ama gue…” aku
menceritakan apa yang aku lihat di lorong tadi dan penyebab aku
menangis. Daffa seakan mengerti dengan semua ceritaku,dia menenangkan
aku dengan kata-katanya. Dia menatapku lalu berkata “cinta itu,terkadang
datang dari sebuah rasa sakit dan kecewa…”,aku menatap matanya
lekat-lekat. Kata-katanya benar-benar sebuah jawaban untuk masalahku.
Meskipun daffa murid baru,namun untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan tak butuh waktu lama baginya. “jangan nangis lagi ya,elo
mesti kuat dengan perasaan loe sekarang “ ujarnya sambil mengusap
kepalaku. “pulang yuk?” ajaknya padaku,aku menganggukkan kepala tanda
setuju dengan ajakannya.
Aku menunggu daffa mengeluarkan mobilnya,ketika itu rasha lewat di depanku. “sha,gue minta maaf. Sory kemarin gue terlalu egois”,”iya” jawabnya singkat dibarengi dengan munculnya seorang cewek di belakang rasha yang kulihat tadi di lorong bersamanya. “siapa sayang?” Tanya cewek itu sambil bergayut di punggung rasha,”temen adek aku” jawabnya dengan muka datar.
Akhirnya aku pulang diantar oleh daffa. Sepanjang perjalanan daffa menceritakan semua tentang pengalaman cintanya di smp,ternyata dia sudah sangat tau banyak tentang cinta.
@gin-gin : hari ini aku lihat dia di lorong dengan seorang cewek. Mungkin itu pacarnya,tapi yang lebih anehnya lagi aku nangis karna liat kejadian itu.
@rarascooby : itu jatuh cinta namanya.
@gin-gin : iya? Maybe,tapi aku belum begitu yakin. Kalaupun iya,aku belum siap dengan cinta itu…
@rarascooby : kenapa gitu?
@gin-gin : karna aku gak kuat ngeliat dia tiap hari di sekolah mesra-mesraan dengan pacarnya
@rarascooby : kalau kamu benar-benar sayang sama dia,aku yakin kamu pasti kuat..
Aku terhenyak dengan kata-kata rara ini,siapa dia sebenarnya? Dia sepertinya sangat paham dengan masalahku.
*****
“kak vano mana nih?” gerutuku ketika menunggu kak vano yang sangat lama menjemputku. “argh,hujann!!” ketusku ketika tiba-tiba hujan turun,aku pun menunggu dengan rasa jengkel yang memenuhi kepalaku. “belum pulang?” suara seorang cowok terdengar dari belakang ku,karna kukira dia tidak bertanya padaku maka aku acuhkan saja pertanyaannya. “gina,elo belum pulang?” ternyata cowok itu rasha yang tengah bertanya padaku,”ohh sory,gue kira nanya sama yang lain…” ujarku sambil cengengesan “belum,elo kok belum pulang? Neisha mana?” ujarku sambil celingukan mencari neisha di belakangnya. “neisha udah pulang duluan,tadi gue ada rapat osis” jawabnya sambil mengeluarkan motornya dari parkiran, “masih lama dijemputnya? Bareng gue aja mau? Tapi ntar elo hujan-hujan,gimana?” tawarnya ketika akan pergi dari parkiran. “aman kan?” tanyaku takut,”hahaha iya-iya,tenang aja” ujarnya sambil tersenyum. “hah?rasha tersenyum?karna aku? Ya ALLAH apa aku mimpi?” gumamku sambil memandanginya penuh arti. “heyy,kok malah ngelamun..”,”hah?iya hehe”. Aku pun naik dan duduk di motornya. “pegangan” ujarnya sambil memasang helm. Motornya pun melaju di bawah hujan,seakan mengelak dari setiap tetesan air dari langit. “bolehkah aku berharap sesuatu yang indah untuk besok?” gumamku sambil memeluk erat pinggang rasha dari belakang. “kuharap ini tak akan berakhir,aku sayang kamu sha”.
“gin,maaf ya gue gak bisa jemput tadi. Mobil masuk bengkel” ujar kak vano ketika mengetahui aku sudah sampai dirumah,”gak apa-apa kok kak,malahan gue pengen berterimakasih sama loe karna gak jemput gue hehehe…” aku langsung memeluk kakak ku dengan baju basah. Kakak ku heran dengan tingkah laku ku sore ini.
@gin-gin : kejadian hari ini bener-bener gak bisa di gambarkan hohoho :D
@rarascooby : waahh lagi seneng yak?
@gin-gin : iya nih :D hkhkhk
@rarascooby : seneng kenapa? Cerita dongg…
@gin-gin : aku tadi hujan-hujanan sama dia gara-gara kakak aku gak jemput
@rarascooby : wahh asikk tuh :D
@gin-gin : iyaa,eh aku boleh tau kamu siapa gak? Atau setidaknya nama kamu aja.. :/
@rarascooby : nanti kamu bakal tau kok sabar yaa
(offline)
“nanti aku bakal tau? Maksudnya apaan coba?” ujarku bingung. Tiba-tiba ada sms dari nomor baru di Hp ku “jangan lupa mandi yaa *rasha ” ya ampun rasha?? Aaaaa aku seneng banget. Seketika itu aku langsung lompat-lompat dan.. “aww” lututku mengenai lemari,”gara-gara terlalu senang,aku sampai kayak gini hahaha” ucapku sambil mendekap hp itu di dadaku.
Besoknya ketika aku di sekolah, aku bersifat biasa saja pada rasha seolah kemaren itu hanya kebetulan saja. “gak sampe sakit kan?” Tanya rasha ketika berpapasan denganku di lorong,”haha gak lah,biasa aja kali” ujarku sambil tertawa,”oh baguslah” ucapnya sambil tersenyum. Kami pun saling bertatapan,entah apa yang tengah rasha fikirkan tentangku. Aku benar-benar tak mampu untuk membaca tatapannya itu,”ngerti?” ujarnya di tengah-tengah tatapannya. Aku hanya menggeleng tanda aku benar-benar tidak tau dengan maksudnya,”rashaa” teriak seorang cewek dari ujung lorong. Cewek itu berlari ke arah rasha dan memeluknya erat,”kalian ngapain disini?” tanyanya di sela-sela tangisannya. “kami cuman ngobrol doang” ujar rasha dingin,”aku balik dulu ya sha”. Aku segera berlalu di depan mereka tanpa menoleh lagi.
Daffa bercerita tentang pacarnya yang dulu,pacarnya meninggal karna kanker darah. Daffa sangat frustasi karna dia sangat mencintai pacarnya,mereka berpacaran kurang lebih 2 tahun. Daffa sangat menyayangi mia,seorang cewek sederhana yang sangat berharga bagi dirinya. Tak terasa air mataku menitik mendengar kisahnya yang begitu kehilangan akan sosok seseorang yang ia cintai. “jadi elo gak boleh putus asa karna cinta elo yang gak bersambut,cinta elo masih ada di dunia ini. Sedangkan gue harus menunggu kehidupan kedua untuk merasakannya lagi” ujar daffa lirih. Ku lihat matanya berkaca-kaca seakan aka nada yang pecah di dalam matanya,”gue yakin elo kuat gin” daffa memelukku. Suaranya begitu menggetarkan hatiku,aku benar-benar ikut merasakan sedihnya. “daffa,elo jangan nangis. Iya,gue janji gue bakal tegar”. Dadaku benar-benar terasa sesak melihat daffa yang menangis sambil memeluk ku,cinta ini mulai hilang arah.
@gin-gin : banyak hal aneh yang bikin aku pusing hari ini :’( bad day!!!
@rarascooby : kenapa? About love again?
@gin-gin : yess.. aku rasa cinta aku mulai tersesat
@rarascooby : kenapa gitu?
@gin-gin : hari ini aku liat 2 cowok yang berbeda. Mereka sama-sama bikin hati aku sakit
@rarascooby : yg pertama kenapa?
@gin-gin : dia natap aku seakan-akan matanya tuh bilang sesuatu sama aku,tapi aku gak ngertii
@rarascooby : asik ya,berarti dia nyuruh kamu untuk membaca isi hatinya. Dia cinta sama kamu..
@gin-gin : seneng sih seneng tapi gara-gara lihat cowok ke 2 nangis,aku jadi bingung
@rarascooby: kenapa gitu?
@gin-gin : karna pas dia nangis hati aku berdenyut,aku benar-benar menghayati tangisannya :’(
@rarascooby: wah ribet yaa,kalau aku sih punya cowok yang selalu sayang sama aku. Tapi tadi aku liat dia sama cewek lain di lorong sekolah. :’( aku takut dia mencintai cewek itu,karna akhir-khir ini dia berubah sama aku
@gin-gin: percaya aja sama cintanya dia
@rarascooby : thanks yaa :D
Aku pun menutup chattingku dengan rara malam itu. Dan tertidur lelap hingga esok paginya.
“gina,,, tolong ambilkan fotocopyan yang ada di perpus sekarang ya” ujar pak tio padaku. Berhubung aku ketua kelas dikelas jadi semua tugas ambil mengambil dilimpahkan dengan senang hati oleh guru-guru kepadaku. Aku pun berjalan sambil bersenandung ria. Ketika melintasi lorong menuju perpus… “rasha?” lagi-lagi aku melihatnya dengan cewek itu. Dan cewek itu kali ini tetap menangis, rasya mencoba menenangkannya. “sha,jangan…” cegahku lirih saat melihat rasha mengecup kening cewek itu. Mereka berpelukan. Badanku langsung dingin, badan ini serasa tak bertulang melihat ini. Hati ini sungguh terkoyak. Tiba-tiba aku teringat pesan pak tio, ya aku harus mengambil fotocopy itu dan melewati mereka tanpa menoleh. Aku berjalan kaku kea rah mereka yang masih berpelukan. “misi…” ujarku lirih di hadapan mereka. Aku berhasil melewati mereka tanpa menoleh dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku masih diam selama di sekolah. Kali ini melihatnya berpelukan bersama cewek lain, terasa lebih dan sangat sangat menyakitkan. Aku menahan air mata ini agar tidak terjatuh di sekolah. Agar tak malu di depannya. “gin” suara seorang cowok memanggilku dari belakang. Namun aku tak mau menoleh, karna aku tau suara siapa itu. “gin,plis balik dan liat gue!” aku tetap diam dan seolah tak mendengar apapun. Cowok itu akhirnya memelukku dari belakang, suaranya bergetar dipundakku “gue tau loe terluka. Tapi gue gak…”, “lepasin gue.” Perintahku singkat pada rasha. “gin,” , “lepasin gue ah!!” akhirnya pelukan itu terlepas dan aku berlari sejauh-jauhnya dari tempat itu.
@gin-gin : aku gak akan pernah menoleh ke kamu lagi.
@rarascooby : kamu kenapa?
@gin-gin : kali ini aku benar-benar terluka parah karna dia
@rarascooby : emang dia ngapain kamu?
@gin-gin : dia ngecup kening cewek lain dan meluk cewek itu erat banget! Hati aku sakit ngeliat itu!!!
@rarascooby : dia ada mau jelasin sesuatu ke kamu?
@gin-gin : ada
@rarascooby : itu artinya dia gak mau kamu salah paham tentang cewek itu.
@gin-gin : gak tau deh
Akhirnya karna hal itu, akupun jatuh sakit. Mag aku kambuh berat sehingga aku harus dirawat di rumah sakit. Belum lagi suhu badanku yang tiba-tiba naik. “segitunyakah aku sama rasha?”. Aku segera menelvon neisha agar dia memberi tau guru piket bahwa hari ini sku sedang sakit dan tidak bisa masuk sekolah. “halo nes,hari ini gue gak bisa dateng ke sekolah. Tolong bilangin ke guru piket ya. Makasih.” Akupun kembali berbaring diatas tempat tidur. Tak lama kemudian akupun terlelap dalam heningnya ruangan rumah sakit ini.
“sha,gue sayang sama loe” rasha tersenyum rapuh,sekejap kemudian dia hilang ntah kemana. Ternyata hanya mimpi. Kulihat ruangan di sekitarku, samar-samar aku dengar pembicaraan mama di depan pintu ruang rawatku. “boleh saya masuk tan?”,”oh ya silahkan,tante tinggal bentar ya” seketika ganggang pintu ruang rawatku dibuka oleh orang itu,lalu akupun pura-pura tertidur pulas. “kamu cantik” ujarnya ketika melihatku tertidur,suara itu sangat familiar sekali dengan telingaku. Namun aku tidak mau membuka mataku,aku ingin tau apa yang akan dilakukannya selanjutnya.”gue tau ini salah gue. Gue tau lo liat kejadian gue sama rara dilorong kemaren gin,gue pengen meluk elo saat itu juga. Gue terluka gin tau elo jatuh sakit karna gue. Gue sayang sama loe gin. Meskipun gue selalu cuek sama elo. Gin,plis sembuhlah buat gue.
Buat cinta kita. Gue sayang sama loe gin. Tersenyumlah lagi di depan
gue” orang tersebut menangis,ternyata benar dugaanku,dia rasha. Tak kuat
aku menahan air mata ini. Aku benar-benar terpukul dengan ini. Kudengar
orang tersebut akan beranjak pergi dari ruanganku ini. “jangan peergi
lagi sha” pintaku sambil menangis,rasha berbalik dan datang memelukku.
Pelukan yang selama ini aku impikan. “gue sayang sama loe gin. Jangan
sakit lagi ya” rasha mendekapku dengan tubuhnya. Mungkinkah ini
mimpi?,tidak. Ini kenyataan,dan akan selalu jadi nyata di hari-hariku
berikutnya. “loe pantes dapetin dia gin” tiba-tiba seorang cewek muncul
di dalam ruanganku. Aku terkejut ternyat dialah cewek yang sering
bersama rasha kala itu dan dialah rara. Orang yang selalu menasihati aku
ketika jatuh dan terpuruk dalam kepahitan cinta. Kini semua telah nyata
dan tak akan ada lagi yang menjadi misteri. Jadi berharaplah selama
kamu masih merasakannya dan berjuanglah selama kamu masih
mengharapkannya.
Posted by Unknown
Shila Amzah-Patah Seribu
Walau kau tiada di sini
Ku tetap ingat semua pesanmu
Ku hidup seolah-olah kau masih ada
Bisikan kata kepadaku
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Bilakah kau akan utuskan surat buatku
Aku terus menunggu tibanya kata cintamu
Oh.. patah seribu hatiku
Bila mengenangkan segala yang kita bina bersama
Haruskah ku lupa kerna engkau telah pergi
Biar pergimu tanpa relamu
Namun hatiku tetap rasa
Kejamnya kau meninggalkanku dengan nota-nota
Cinta buat kita berdua bila kan ku bisa menerima ketiadaanmu
Kan ku bakar semua hapuskan semua kenangan
Patah seribu hatiku
Bila mengenangkan segala yang kita bina bersama
Haruskah ku lupa kerna engkau telah pergi
Sayangku mohon padamu
Segera tinggalkanku
Pergilah kau ke tempat yang kau tuju
Pasti ada hikmah buatmu dan juga buat diriku
Pergilah
Posted by Unknown
Ayah, Aku Sangat Merindukanmu
Sedih rasanya jika mengingat masa
sedih ku, ketika Ayahku harus di bawa kerumah sakit. menahan rasa sakit
yang ada dikepalanya. sekarang aku sudah naik kekelas 1 SMP. aku tidah
menyangka, sudah 1 tahun lebih Ayah berada disana, terlebih jelasnya
berada di sisi tuhan YME. aku sedikit menyesal tidak bisa menunjukkan
yang terbaik untuknya. suka membantah printahnya, suka membohonginya,
dan membentaknya jika dia tak menuruti permintaanku. jika diingat
sekarang, aku sangat sedih sekali. aku juga belum berkata maaf padanya
di masa terakhirnya.
- Febuari 22 2011
Aku terbangun dari tidurku. aku melihat ke jendela, lagit masih gelap. tiba-tiba terdengar suara dari luar. aku keluar dari kamarku ternyata Ayah, Ibu, Om dan budeh Supri sedang beres2. aku baru ingat kalau hari ini Ayah akan di bawa kerumah sakit. ayah ku mengidap penyakit kanker otak setadium 4 dan ingin segera di operasi. sebelum Ayah pergi menuju RS Polri, Ayah mencium pipi kanan, kiri dan dahi ku, lalu berpesan
"jangan nakal ya, dek" ucap ayah ku tersenyum. aku membalas senyumannya.
lalu Ayah, Ibu, Om dan budeh supri pergi menuju RS polri. dengan terpaksa aku harus dititipkan di rumah budhe Nani karena aku harus bersekolah.
- Febuari 22 2011
Aku terbangun dari tidurku. aku melihat ke jendela, lagit masih gelap. tiba-tiba terdengar suara dari luar. aku keluar dari kamarku ternyata Ayah, Ibu, Om dan budeh Supri sedang beres2. aku baru ingat kalau hari ini Ayah akan di bawa kerumah sakit. ayah ku mengidap penyakit kanker otak setadium 4 dan ingin segera di operasi. sebelum Ayah pergi menuju RS Polri, Ayah mencium pipi kanan, kiri dan dahi ku, lalu berpesan
"jangan nakal ya, dek" ucap ayah ku tersenyum. aku membalas senyumannya.
lalu Ayah, Ibu, Om dan budeh supri pergi menuju RS polri. dengan terpaksa aku harus dititipkan di rumah budhe Nani karena aku harus bersekolah.
- Maret 1 2011
Setelah seminggu aku dititipkan dirumah Budhe Nani. rencananya makam ini aku bersama Budhe Nani akan menjenguknya, diantar oleh Om ku. aku tidak sabar ingin melihat bagaimana keadaan ayahku kini. Aku segera mandi dan bersiap-siap bersama Budhe Nani. Om ku telah tiba di depan rumah Budhe Nani. Aku dan Budhe Nani segera naik ke mobil menuju RS polri. dan di dalam mobil ternyata ada Rani, saudaraku. dia anak Om ku. ternyata dia juga ikut.
"kamu ikut, Ni?" tanyaku.
"iya. soalnya dirumah aku sendirian,Mbak" ucapnya. dia memanggil ku dengan sebutan "mbak" karena aku lebih tua darinya 4 tahun.
"lah? Ibu mu memang dimana?" tanya ku.
"Ibu kan udah ada di rumah sakit bareng Ibu mbak Sindi" ucapnya.
"ohh. yaudah kamu di rumah aja bareng hantu hahahaha" ledek ku membuat Rani mencubit pinggangku.
"ihh nakutin aja nihh" ucapnya kesal. aku hanya tertawa.
Sesampainya aku di RS Polri. aku, Rani dan Budhe Nani segera menuju ruang rawat Ayahku. sedangkan Om ku. ia menuju warung untuk merokok sejenak. aku berjalan menuju lift bersama Rani dan Budhe Nani, karena ruang rawat Ayahku ada di lantai 2. setelah di lantai 2, aku segera berjalan menuju kamar rawat Ayahku. aku membuka pintu kamar rawat Ayahku. ternyata Ayah ku sedang tertidur. Aku masuk kedalam kamarnya. aku berpelukan dengan Ibuku, aku sangat rindu padanya.
"Ibu, aku kangen banget ama Ibu. kapan Ibu pulang?" tanya ku menangis.
"iyah. nanti Ibu juga gatau kapan" ucap Ibuku sambil membelai rambut ku.
kata ibu. Ayah tidah mau makan, setiap makan Ayahku akan memuntahkannya, walau sesuap saja. kata suster Ayah ku harus makan karena besok Ayahku harus dioperasi. aku mencium keningnya. aku harus pulang.
"cepat sembuh ya, Yah. aku menyayangi mu" ucap ku. lalu segera pulang ke rumah Budhe Nani. bersama Rani, Budhe Nani dan Ibu Rani yang bisa aku panggil Mbak Rita. sebenarnya aku tidak mau pulang. aku mau disana, menunggu Ayah ku sampai besok, sampai hari dia akan di operasi. tapi aku harus sekolah besok, besok juga aku ada ulangan Matematika di sekolah. aku dan saudaraku bergegas pulang menuju rumah.
- Maret 3 2011.
1 hari setelah operasi. aku menjenguk ayahku bersama Budhe Nani yang diantar oleh Kakakku yang ke2, Afan. aku bergegas ke RS Polri bersama Budhe. sebenarnya Mbak putri (anak dari Budhe Nani) ingin ikut. tapi dia harus belajar karena ia harus menghadapi UAS, dia sudah kelas 3 SMA. walau berbeda 6 tahun dengan ku, tapi dia sangat akrab dengan ku. aku menanti sampainya menuju RS Polri.
"semoga saja Ayah baikan, Amin ya Allah" ucap ku dalam hati.
Sesampainya aku di RS Polri. aku menuju ke ruang ICU. karena setelah kemarin di operasi Ayah ku dirawat disana. Ibu berada di ruang tunggu ICU. aku bertanya pada ibu ku.
"Bu, aku mau liat dong. dimana Ayah di rawat sekalian ngobrol" ucap ku.
"jam besuknya udah abis dek. liat di jendela samping aja sana" suruh Ibu.
"yaudah" aku bersama Mas Afan, kakakku melihat lewat jendela.
"jendelanya tinggi, Mas" ucapku.
"yaudah lu naik ke pundak gua aja" ucap Mas Afan sambil merendahkan tubuhnya. aku agak takut, tapi aku sangat ingin melihat gimana Ayah. lalu aku menaiki pundaknya. Mas Afan mengangkat tubuhnya keatas.
"eh cepetan, Sin. udah ga kuat. badan lo berat amat si" ucap Mas Afan mengeluh.
"tunggu dong. bentar lagi ya" ucap ku sambil berpegangan di jendela. karena Mas Afan tidak kuat lagi, ia menjatuhkan tubuhnya.
BRUKKK!
"aduhh gimana sih lu, Mas?" tanya ku kesal sambil memegangi pergelangan kaki ku.
"gua ga kuat tau! badan lo berat banget!" ucap Mas Afan juga kesal sambil memegangi pantatnya. akhirnya aku hanya bisa menunggu esok untuk menjenguk lagi di ICU. karena hari ini aku menginap semalam.
- Maret 4 2011
Aku terbangun dari tidurku. aku segera mandi di kamar mandi umum bersama Rani. tiba-tiba suster datang membawa kan kabar kalau Ayahku drop. aku kaget, sangat kaget. lalu aku segera berjalan menuju ruang ICU bersama Budhe, Rani dan Mbak rita. dan benar! Ayah ku drop. mungkin karena semalam ada suara berteriak karena seorang pasien meninggal. aku menangis memeluk Mbak Rita.
"ayahh..." ucap ku menangis tersedu-sedu. baru saja aku ingin mengobrol, ternyata! aku mendengar kalau Ayahku drop.
"udah-udah. mendingan kamu doain Ayah Sindi. semoga cepat sembuh" ucap Mbak RIta menghiburku. Aku hanya mengangguk, lalu menghapus air mataku. kata dokter Ayah ku harus dioperasi lagi. keluarga ku setuju.
Ayah ku segera dibawa keruang Operasi. Ibuku menelpon saudara-saudaraku, untuk memberi tahukan kabar buruk ini. aku berjalan menuju Ayahku. disana ada Mas afan, berada di samping Ayah dan pade sartono (suami Budhe Nani) di sebelah Ayah juga. aku segera mendekat. berulang kali ayah ingin melepas selang oksigen yang di hidungnya dan infus yang berda di tangannya. tapi di jegah oleh ku, Mas Afan dan Pade Sartono.
"jangan, Yah" ucap ku mencegah. aku hanya bisa menangis. "Ayah, kenapa nasib seperti ini?" ucap ku dalam hati.
Operasi segera di mulai aku menunggu diluar. disana ada saudaraku, Yudha, Arin, dan Tegar. mereka mengajakku berkeliling, mungkin agar aku melupakan kesedihanku. setelah 6 jam berlalu. Ayahku segera keluar dari ruang operasi. aku mengiringnya bersama keluarga besarku dan beberapa perawat dan 1 dokter. Ayah ku dibawa ke ruang ICU lagi. aku hanya berdoa agar Ayahku baik-baik saja.
"ya Allah. jika engkau ingin mengambilnya. aku ikhlas. jika engkau ingin menyembuhkannya, sembuhkanlah ya Allah, Amin" doa ku untuk Tuhan YME. ketika malam aku bergegas pulang. karena besok aku harus masuk. semenjak Ayah sakit, aku jadi banyak membolos karena menjenguk Ayah.
- Maret 10 2011
Aku sering menghubungi ibu, menanyakan hal yang sama "apakah Ayah sudah sadar?" jawabannya tetap sama "belum, Dek".
Pagi ini budhe membangunkan ku untuk bergegas mandi dan sekolah.
"Sin, cepet bangun udah siang" ucap budhe.
"iya. itukan Mbak putri masih mandi" ucap ku mengeles.
Tiba-tiba HP budhe berdering.
"innalillahi" ucap budhe lalu mematikan HPnya. awalnya aku santai saja mungkin orang lain. tapi..
"Sin, Ayah meninggal" ucap budhe sambil menangis. aku terlonjak kaget, aku langsung terduduk di kasur. Mbak putri yang kaget tidak jadi mandi, dia segera memakai baju nya lagi. dan segera keluar.
"Apa?!?" ucap ku dan mbak putri berbarengan. Mbak putri menangis memelukku. awalnya aku belum mengeluarkan air mata. tapi tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja, semakin lama semakin menderas.
"AYAHHH!!!! huhuhu!! jangan tinggalin aku, Yah" ucap ku memeluk erat tubuh mbak putri. aku segera mandi dan bergegas ke sana. tapi mbak putri tidak ikut karena hari ini ia UAS. aku berjalan memasuki taksi bersama Budhe dan mbak Rina (anak kedua budhe sekaligus kakak mbak putri)
Sesampainya aku di sana aku menunggu Ambulance yang membawa Ayah ku datang. aku masuk menuju kamar ku. mengganti baju, menjadi baju muslim coklat. aku menghampiri kakakku, Faris (kakak pertama ku) aku makan bersamanya di lantai atas. lalu Mas Faris berpesan.
"nanti lo jangan nangis ya, Sin. kasian Ayah" ucap Mas Faris lirih. aku hanya mengangguk.
Mobil Ambulance Ayahku pun datang aku menghampirinya. masih dengan rasa tak menyangka. "apakah aku bermimpi? apakah aku bermimpi buruk hari ini? jika mimpi, sadarkan aku" ucap ku dalam hati lirih. Ibu menghampiriku, matanya tergenangi air, dia memeluk ku. Mas Afan juga memeluk ku. aku menangis, padahal aku tak memintanya. air mataku begitu saja mengalir. aku masuk kedalam ruang tamu. di sana berbaring Ayah ku di atas karpet. seperti tidur. tapi tidak seperti biasa, ia sudah di baluti oleh kain batik. aku dan saudara, warga dan lainnya membacakan surat Yasin untuk Ayahku. aku membaca sambil menangis, sampai-sampai buku Yasin yang kupegang basah perhalaman. tiba-tiba pundak ku tersentuh seseorang. ohhh dia adalah saudara ku juga Mbak budi (ibu dari yudha, Arin, Tegar dan Indi)
"Sindi yang sabar ya" ucapnya mengusap-usap pundak ku. aku hanya mengangguk. Ayahku segera dimandikan. lalu dibalut kain kafan dan segera di makamkan. hujan membasahi perjalanan ku dan keluarga besarku juga tetangga-tetangga ku. aku mengangkat jemariku, menatap langit. hujan jatuh di tanganku, perlahan makin banyak. wajah ku juga terbasahi air hujan. "Tuhan, semoga air hujan ini akan menghilangkan sedikit beban dalam hati ku. setelah memakamkan dan mendoakan Ayah ku. kami segera pulang kerumah. aku segera masuk kedalam, ternyata ada Mbak putri dan Yales (pacar Mbak Putri) dia mengucapkan bela sungkawa pada ku dan keluarga ku. aku berjalan mendekati Yudha.
"Yud, main benteng yuk" canda ku.
"yee" ucapnya pada ku. aku hanya tertawa, tawa yang ku paksakan.
- Juli 12 2012
Kini aku menerimanya apa adanya, ikhlas. apalagi aku di kelilingi keluarga, saudara dan sahabat yang siap menemaniku. yang pasti aku ingin membahagiakan Ibuku, harta terakhir yang kumiliki sekarang ini. aku juga sudah memasuki smp yang ku inginkan, tapi tak 1 sekolah dengan Yudha. semoga saja Ayah tersenyum melihatku disini :)
Setelah seminggu aku dititipkan dirumah Budhe Nani. rencananya makam ini aku bersama Budhe Nani akan menjenguknya, diantar oleh Om ku. aku tidak sabar ingin melihat bagaimana keadaan ayahku kini. Aku segera mandi dan bersiap-siap bersama Budhe Nani. Om ku telah tiba di depan rumah Budhe Nani. Aku dan Budhe Nani segera naik ke mobil menuju RS polri. dan di dalam mobil ternyata ada Rani, saudaraku. dia anak Om ku. ternyata dia juga ikut.
"kamu ikut, Ni?" tanyaku.
"iya. soalnya dirumah aku sendirian,Mbak" ucapnya. dia memanggil ku dengan sebutan "mbak" karena aku lebih tua darinya 4 tahun.
"lah? Ibu mu memang dimana?" tanya ku.
"Ibu kan udah ada di rumah sakit bareng Ibu mbak Sindi" ucapnya.
"ohh. yaudah kamu di rumah aja bareng hantu hahahaha" ledek ku membuat Rani mencubit pinggangku.
"ihh nakutin aja nihh" ucapnya kesal. aku hanya tertawa.
Sesampainya aku di RS Polri. aku, Rani dan Budhe Nani segera menuju ruang rawat Ayahku. sedangkan Om ku. ia menuju warung untuk merokok sejenak. aku berjalan menuju lift bersama Rani dan Budhe Nani, karena ruang rawat Ayahku ada di lantai 2. setelah di lantai 2, aku segera berjalan menuju kamar rawat Ayahku. aku membuka pintu kamar rawat Ayahku. ternyata Ayah ku sedang tertidur. Aku masuk kedalam kamarnya. aku berpelukan dengan Ibuku, aku sangat rindu padanya.
"Ibu, aku kangen banget ama Ibu. kapan Ibu pulang?" tanya ku menangis.
"iyah. nanti Ibu juga gatau kapan" ucap Ibuku sambil membelai rambut ku.
kata ibu. Ayah tidah mau makan, setiap makan Ayahku akan memuntahkannya, walau sesuap saja. kata suster Ayah ku harus makan karena besok Ayahku harus dioperasi. aku mencium keningnya. aku harus pulang.
"cepat sembuh ya, Yah. aku menyayangi mu" ucap ku. lalu segera pulang ke rumah Budhe Nani. bersama Rani, Budhe Nani dan Ibu Rani yang bisa aku panggil Mbak Rita. sebenarnya aku tidak mau pulang. aku mau disana, menunggu Ayah ku sampai besok, sampai hari dia akan di operasi. tapi aku harus sekolah besok, besok juga aku ada ulangan Matematika di sekolah. aku dan saudaraku bergegas pulang menuju rumah.
- Maret 3 2011.
1 hari setelah operasi. aku menjenguk ayahku bersama Budhe Nani yang diantar oleh Kakakku yang ke2, Afan. aku bergegas ke RS Polri bersama Budhe. sebenarnya Mbak putri (anak dari Budhe Nani) ingin ikut. tapi dia harus belajar karena ia harus menghadapi UAS, dia sudah kelas 3 SMA. walau berbeda 6 tahun dengan ku, tapi dia sangat akrab dengan ku. aku menanti sampainya menuju RS Polri.
"semoga saja Ayah baikan, Amin ya Allah" ucap ku dalam hati.
Sesampainya aku di RS Polri. aku menuju ke ruang ICU. karena setelah kemarin di operasi Ayah ku dirawat disana. Ibu berada di ruang tunggu ICU. aku bertanya pada ibu ku.
"Bu, aku mau liat dong. dimana Ayah di rawat sekalian ngobrol" ucap ku.
"jam besuknya udah abis dek. liat di jendela samping aja sana" suruh Ibu.
"yaudah" aku bersama Mas Afan, kakakku melihat lewat jendela.
"jendelanya tinggi, Mas" ucapku.
"yaudah lu naik ke pundak gua aja" ucap Mas Afan sambil merendahkan tubuhnya. aku agak takut, tapi aku sangat ingin melihat gimana Ayah. lalu aku menaiki pundaknya. Mas Afan mengangkat tubuhnya keatas.
"eh cepetan, Sin. udah ga kuat. badan lo berat amat si" ucap Mas Afan mengeluh.
"tunggu dong. bentar lagi ya" ucap ku sambil berpegangan di jendela. karena Mas Afan tidak kuat lagi, ia menjatuhkan tubuhnya.
BRUKKK!
"aduhh gimana sih lu, Mas?" tanya ku kesal sambil memegangi pergelangan kaki ku.
"gua ga kuat tau! badan lo berat banget!" ucap Mas Afan juga kesal sambil memegangi pantatnya. akhirnya aku hanya bisa menunggu esok untuk menjenguk lagi di ICU. karena hari ini aku menginap semalam.
- Maret 4 2011
Aku terbangun dari tidurku. aku segera mandi di kamar mandi umum bersama Rani. tiba-tiba suster datang membawa kan kabar kalau Ayahku drop. aku kaget, sangat kaget. lalu aku segera berjalan menuju ruang ICU bersama Budhe, Rani dan Mbak rita. dan benar! Ayah ku drop. mungkin karena semalam ada suara berteriak karena seorang pasien meninggal. aku menangis memeluk Mbak Rita.
"ayahh..." ucap ku menangis tersedu-sedu. baru saja aku ingin mengobrol, ternyata! aku mendengar kalau Ayahku drop.
"udah-udah. mendingan kamu doain Ayah Sindi. semoga cepat sembuh" ucap Mbak RIta menghiburku. Aku hanya mengangguk, lalu menghapus air mataku. kata dokter Ayah ku harus dioperasi lagi. keluarga ku setuju.
Ayah ku segera dibawa keruang Operasi. Ibuku menelpon saudara-saudaraku, untuk memberi tahukan kabar buruk ini. aku berjalan menuju Ayahku. disana ada Mas afan, berada di samping Ayah dan pade sartono (suami Budhe Nani) di sebelah Ayah juga. aku segera mendekat. berulang kali ayah ingin melepas selang oksigen yang di hidungnya dan infus yang berda di tangannya. tapi di jegah oleh ku, Mas Afan dan Pade Sartono.
"jangan, Yah" ucap ku mencegah. aku hanya bisa menangis. "Ayah, kenapa nasib seperti ini?" ucap ku dalam hati.
Operasi segera di mulai aku menunggu diluar. disana ada saudaraku, Yudha, Arin, dan Tegar. mereka mengajakku berkeliling, mungkin agar aku melupakan kesedihanku. setelah 6 jam berlalu. Ayahku segera keluar dari ruang operasi. aku mengiringnya bersama keluarga besarku dan beberapa perawat dan 1 dokter. Ayah ku dibawa ke ruang ICU lagi. aku hanya berdoa agar Ayahku baik-baik saja.
"ya Allah. jika engkau ingin mengambilnya. aku ikhlas. jika engkau ingin menyembuhkannya, sembuhkanlah ya Allah, Amin" doa ku untuk Tuhan YME. ketika malam aku bergegas pulang. karena besok aku harus masuk. semenjak Ayah sakit, aku jadi banyak membolos karena menjenguk Ayah.
- Maret 10 2011
Aku sering menghubungi ibu, menanyakan hal yang sama "apakah Ayah sudah sadar?" jawabannya tetap sama "belum, Dek".
Pagi ini budhe membangunkan ku untuk bergegas mandi dan sekolah.
"Sin, cepet bangun udah siang" ucap budhe.
"iya. itukan Mbak putri masih mandi" ucap ku mengeles.
Tiba-tiba HP budhe berdering.
"innalillahi" ucap budhe lalu mematikan HPnya. awalnya aku santai saja mungkin orang lain. tapi..
"Sin, Ayah meninggal" ucap budhe sambil menangis. aku terlonjak kaget, aku langsung terduduk di kasur. Mbak putri yang kaget tidak jadi mandi, dia segera memakai baju nya lagi. dan segera keluar.
"Apa?!?" ucap ku dan mbak putri berbarengan. Mbak putri menangis memelukku. awalnya aku belum mengeluarkan air mata. tapi tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja, semakin lama semakin menderas.
"AYAHHH!!!! huhuhu!! jangan tinggalin aku, Yah" ucap ku memeluk erat tubuh mbak putri. aku segera mandi dan bergegas ke sana. tapi mbak putri tidak ikut karena hari ini ia UAS. aku berjalan memasuki taksi bersama Budhe dan mbak Rina (anak kedua budhe sekaligus kakak mbak putri)
Sesampainya aku di sana aku menunggu Ambulance yang membawa Ayah ku datang. aku masuk menuju kamar ku. mengganti baju, menjadi baju muslim coklat. aku menghampiri kakakku, Faris (kakak pertama ku) aku makan bersamanya di lantai atas. lalu Mas Faris berpesan.
"nanti lo jangan nangis ya, Sin. kasian Ayah" ucap Mas Faris lirih. aku hanya mengangguk.
Mobil Ambulance Ayahku pun datang aku menghampirinya. masih dengan rasa tak menyangka. "apakah aku bermimpi? apakah aku bermimpi buruk hari ini? jika mimpi, sadarkan aku" ucap ku dalam hati lirih. Ibu menghampiriku, matanya tergenangi air, dia memeluk ku. Mas Afan juga memeluk ku. aku menangis, padahal aku tak memintanya. air mataku begitu saja mengalir. aku masuk kedalam ruang tamu. di sana berbaring Ayah ku di atas karpet. seperti tidur. tapi tidak seperti biasa, ia sudah di baluti oleh kain batik. aku dan saudara, warga dan lainnya membacakan surat Yasin untuk Ayahku. aku membaca sambil menangis, sampai-sampai buku Yasin yang kupegang basah perhalaman. tiba-tiba pundak ku tersentuh seseorang. ohhh dia adalah saudara ku juga Mbak budi (ibu dari yudha, Arin, Tegar dan Indi)
"Sindi yang sabar ya" ucapnya mengusap-usap pundak ku. aku hanya mengangguk. Ayahku segera dimandikan. lalu dibalut kain kafan dan segera di makamkan. hujan membasahi perjalanan ku dan keluarga besarku juga tetangga-tetangga ku. aku mengangkat jemariku, menatap langit. hujan jatuh di tanganku, perlahan makin banyak. wajah ku juga terbasahi air hujan. "Tuhan, semoga air hujan ini akan menghilangkan sedikit beban dalam hati ku. setelah memakamkan dan mendoakan Ayah ku. kami segera pulang kerumah. aku segera masuk kedalam, ternyata ada Mbak putri dan Yales (pacar Mbak Putri) dia mengucapkan bela sungkawa pada ku dan keluarga ku. aku berjalan mendekati Yudha.
"Yud, main benteng yuk" canda ku.
"yee" ucapnya pada ku. aku hanya tertawa, tawa yang ku paksakan.
- Juli 12 2012
Kini aku menerimanya apa adanya, ikhlas. apalagi aku di kelilingi keluarga, saudara dan sahabat yang siap menemaniku. yang pasti aku ingin membahagiakan Ibuku, harta terakhir yang kumiliki sekarang ini. aku juga sudah memasuki smp yang ku inginkan, tapi tak 1 sekolah dengan Yudha. semoga saja Ayah tersenyum melihatku disini :)
Tak Jodoh
Fajar telah nampak di ufuk timur, sang
surya pun telah mulai menyengat. Diiringi nyanyian burung berkicau ikut
menambah suasana pagi tu. Seperti biasa, tepat pukul 06.30 aku telah
siap melangkah menuju gudang ilmu. Sesampainya di sekolah, saat aku
tengah melintasi taman sekolah. Ku lihat Dika telah nampak di bangku
taman sekolah sendiri. Ingin rasa aku menemaninya. Namun apa daya ku,
tak ada perasaan berani sedikit pun yang membara dalam benak ini.
Dika adalah cowok yang aku kagumi semenjak pertama kali aku masuk SMA ini. Meski dia tak sempurna namun bagiku dia istimewa. Benar-benar istimewa, hingga ia menjabat sebagai wakil OSIS dan kapten tim basket sekolah ini. Sehingga banyak cewek yang naksir dengannya. Maka aku selalu minder bila aku berpapasan dengannya.
Aku, aku hanyalah Vicky Anil Ardani. teman-temanku sering memanggilku Vicky. Tak ada yang istimewa dariku. Maka tak banyak orang tahu tentang aku. Sedikit bakatku di bidang sastra yaitu merangkai bait-bait puisi dan rangkaian cerpen yang iseng-iseng ku kirimkan di majalah-majalah untuk menambahkan pengalaman saja.
Terus aku melintas di depan taman itu, dan sedikit melirik. Ku lihat dia tetap pada posisinya sambil memainkan hp nya. Tak sedikitpun dia hiraukan diriku. Aku pun hanya bisa berharap , suatu saat aku bisa bersamanya, menjadi kekasihnya.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar berita bila Dika akan abroad study di Australia. Hatiku bagai teriris saat mendengar kabar itu. Aku merasa sangat kehilangan sekali. Aku pun segera datang menemui Yutik sahabat baikku untuk meminta solusi. Sia-sia hasilnya, Yutik baru liburan bersama orang tuanya ke Bandung. Aku merasa bingung, semua rasa ku bercampur tak karuan. Hingga keberanian itu pun muncul . Aku memutuskan untuk menumpahkan semua perasaanku pada Dika. Menyatakan bagaimana isi hatiku pada Dika sebelum dia pergi. Daripada aku menyesal nantinya.
Saat tiba di depan rumah Dika, aku mencoba melangkah masuk ke dalam halaman rumah Dika, namun begitu berat rasanya. Terus ku paksakan , meski hati terus memberontak. Aku hanya bisa menanti takdir cinta yang mungkin bisa menuntunku bersama Dika. Namun bila takdir cinta itu tidak bersama Dika, mungkin Dika bukan tercipta untuk, dia bukan Jodohku.
Kutekan tombol bel rumah Dika tiga kali, hingga Dika membukakan pintu. Ku tatap wajah dika, perih begitu menusuk hati.
“Vic, adakah sesuatu yang telah menerbangka loe hingga singgah di istana gue ini?” gurau Dika
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku membisu, tak mampu bicara. Seperti ada sesuatu yang membungkam mulutku. Menatap wajah Dika semakin membuat hatiku perih. Dika merasa heran denganku hingga ia menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya. Namun aku tetap bertahan pada posisi ku sekarang.
“Dika, gue pengen ngomongin sesuatu sama loe ? ku harap kau bisa mengerti” kata ku sambil menunduk
“baiklah. Ada apa sebenarnya??.” Balas Dika
“Dika, apakah loe tahu tentang rasa yang gue miliki? Pernahkah loe mencoba membaca sedikit tentang hati gue? Pekakah loe dengan hal yang pernah kita lalui ?? sesungguh hal-hal yang pernah kita lalui itu adalah ukiran perasaan gue untuk loe. Semenjak pertama gue sekolah di sini, gue udah suka sama loe, jauh sebelum loe menjadi wakil OSIS atau kapten basket. meski loe tak sempurna , namun bagi gue loe istimewa. Gue gak pingin maksain perasaan loe, terserah jawaban apa dari loe gue terima. Gue hanya ingin numpahin perasaan yang sebenarnya dari lubuk hati gue, gue nggak ingin terluka karena terlalu sakit memendam perasaan gue pada loe, Dik? Jelasku dengan mata yang berkaca-kaca.
“eMMmmm ... Vic, gue bisa ngertiin bagaimana perasaan loe dan gue hargai perasaan loe pada gue, namun sepertinya sudah terlambat. Gue udah ... udah jadian sama Tania. Maafin gue Vic, gue yakin loe bakal mendapatkan cowok yang lebih baik dari gue. Percayalah Vic” balas Dika penuh cemas.
“tak apalah Dik, gue bisa ngerti kok. Itu hak loe, gue hanya bisa nunggu jawabannya. Loe mungkin bukan jodoh gue, loe bukan jawaban segala doa gue. Selamat ya, semoga langgeng dengan Tania. Namun gue gak bisa janji buat bisa cepat nglupain loe untuk saat ini. Bagi gue loe lah yag terbaik. tapi gue percaya kok, Tuhan udah nyiapin jodoh yang paling terbaik buat gue. “ kata ku dan meninggalkan Dika.
Hatiku begitu sakit sekali, aku hanya bisa menangis dan menangis. Tak ada tawa sedikitpun menghiasiku , yang ada hanya kenangan masa laluku bersama Dika. Ternyata dia bukan jodohku.
Waktu terus beranjak. Berlalu tanpa henti. Berputar mengikuti alur. Ku coba bangkit dari keterpurukan. Tiada guna ku berlama-lama tenggelam dalam harapan yang tak mungkin bisa kuharapkan lagi. Buka lembaran baru, tanpa Dika. Sekarang ku jalani hidupku seperti air mengalir mengikuti arus.
Dika adalah cowok yang aku kagumi semenjak pertama kali aku masuk SMA ini. Meski dia tak sempurna namun bagiku dia istimewa. Benar-benar istimewa, hingga ia menjabat sebagai wakil OSIS dan kapten tim basket sekolah ini. Sehingga banyak cewek yang naksir dengannya. Maka aku selalu minder bila aku berpapasan dengannya.
Aku, aku hanyalah Vicky Anil Ardani. teman-temanku sering memanggilku Vicky. Tak ada yang istimewa dariku. Maka tak banyak orang tahu tentang aku. Sedikit bakatku di bidang sastra yaitu merangkai bait-bait puisi dan rangkaian cerpen yang iseng-iseng ku kirimkan di majalah-majalah untuk menambahkan pengalaman saja.
Terus aku melintas di depan taman itu, dan sedikit melirik. Ku lihat dia tetap pada posisinya sambil memainkan hp nya. Tak sedikitpun dia hiraukan diriku. Aku pun hanya bisa berharap , suatu saat aku bisa bersamanya, menjadi kekasihnya.
Tak kurasa, akupun sampai di depan kelas. Aku terkejut di saat suara
yang menggelegar bergemuruh dari arah belakang. Suara itu dari Yutik,
teman sejak SMP sampai saat ini sekaligus sahabat terbaikku. Yutik
adalah teman curhatku dan dekatku.
“Vick, .. “ kata dia cengengesan.
“ gue tahu apa yang loe mau” kata ku sinis sambil mengeluarkan buku tugas Matematika
“he.. he.. he... loe memang satu-satunya sahabat yang bisa ngertiin gue yach “ goda Yutik
“siiPPP . “ balasku seraya masuk ke dalam kelas
Kelas dimulai dengan pelajaran Matematika. Hari yang indah buat merefreshkan otak.
Aku termenung bersama laptopku di perpustakaan. Ku rangkai beberapa kata untuk menyambungkan cerpen yang ku buat. Namun langkah tangan yang sedang mengetik itu terhenti di saat Dika duduk di sebelahku.
“ OMG, mimpikah gue ???” pikirku
Terus aku memandang kepadanya. Tak ku sangka, Dika ternyata juga ikut memandangku. Dika merasa tak enak terus aku pandang. Akupun masih tak sadar dari tadi dia juga memperhatikanku yang terus memandangiku sampai dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Hingga aku pun sadar, Dika terus memandangku aneh. Aku malu sekali.
“ maaf, tak ada maksud gue buat itu “ kataku singkat
“ no poblem. Sepertinya cerpennya bagus ?” kata Dika sambil melihat ke arah laptopku.
Aku hanya membalasnya dengan senyum kecil. Perasaanku saat itu begitu terbang melayang, saat dia memujiku. Aku semakin berharap dia akan benar-benar jadi kekasihku. Bukan hanya sekedar mimpi.
“ Nama Loe siapa?” katanya singkat sambil mengulurkan tangannya yang membuatku benar-benar kaget.
“Vicky Anil Ardani XII IPA3” balasku singkat
“ emm.. gue” belum dia melanjutkan kalimatnya, aku pun menyelanya.
“gak usah loe kasih tahu, gue dah tahu kok siapa loe. Sang wakil OSIS sekaligus kapten basket sekolah ini. “ selaku.
“sampai segitunya, ya. Gue benar-benar terkenal ya. “ candanya
Namun pembicaraan kami pun tersendat di saat bel masuk berbunyi.
“ya sudah ya, makasih buat semuanya. Kita sambung kapan-kapan lagi ya” kata Dika singkat seraya meninggalkan perpustakaan.
Hari ini memang hari yang indah buatku. Hari yang sempurna untuk mengukir awal yang baru untuk bisa bersama Dika. Semoga dia benar-benar jodohku.
Sore harinya, jam tepat menunjuk pukul 16.05. di rumah , Kak Reza terus menggerutu mencari- cari barang yang akan dibawanya buat latihan basket bersama teman-temannya di lapangan. Sedang aku hanya terfokus pada majalah yang tengah aku baca.
“dek, dari pada bengong di situ, ikut kakak ajach” kata kak Reza
“ kalo gue ikut kakak, sama ajach bengongnya, gue nanti juga dicuwekin” balasku
“ya udah, aku kan hanya menawari. Dari pada di rumah sendiri” terus menawariku
“Ya udah dech Kak, aku ikut” aku pun menurut pada Kak Reza.
Kami pun sampai di lapangan basket. Aku hanya terdiam di pinggir lapangan. Sambil memanikan hp ku, sekali-kali ku perhatikan permainan Kak Reza. Aku terkejut di saat melihat Kak Reza begitu akrabnya. Hari semakin sore, dan mulai beranjak malam. Matahripun telah mulai tenggelam. Kak Reza dan Dika berjalan beriringan menuju kepadaku.
“ Vicky, loe ke sini juga ya ? memangnya ada acara apa ?” kata Dika
“ EeemMMmm ,...” jawabku gagub
“loe juga kenal adik gue ya, oh.. iya gue lupa . kalian satu sekolah. Ya ampun. “ sela Kak Reza
“ Adik loe. Jadi adik loe yang ini yang loe critain itu. “ kata Dika terheran
Pembicaraan kami pun selesai sampai di situ. Sampai di rumah aku masih dihantui rasa penasaran. Akhirnyan aku temui saja Kak Reza di kamarnya. Di kamar kulihat Kak Reza sedang mengotak-atik gitarnya
“Kak Reza, “ kataku
“apa ? “
“ emmmmMMM ... kok loe bisa kenal sama Dika. “
“ooo ... ya kenal saja. Dia kan juga sering latihan di tempat kakak. Emangnya kenapa ???”
“ gak apa-apa, penasaran saja. Kakak cerita apasaja tentang gue pada Dika ?????”
“crita apa... ??? gue gak crita apa-apa?”
“bo’ong .. lha tadi Dika bilang ??”
“ooooo .. tentang loe ikut lomba cerpen itu lhoo .”
“bener gak tuh “ balasku ragu
“whateverLah dek”
Keesokan harinya aku bergegas berangkat sekolah. Hal yang mengejutkan kembali menghampiriku lagi. Kali ini tentang Dika lagi. Tak aku sangka pagi-pagi sudah memberikan vitamin untukku. Dia datang ke rumah. Dia tahu rumahku. Aku bingung kenapa dia pagi-pagi sudah datang ke sini, pasti ada hal penting dengan Kak Reza, apalagi dong kalo bukan urusan basket. Gak mungkin sekali bila berurusan denganku.
Ternyata semua persangkaku salah. Aku bingung, heran, kaget bercampur satu. Semua terasa seperti mimpi. Aku mencoba mencubit-cubit pipiku, dan aku merasa sakit. Ini benar-benar bukan mimpi.
“ OMG, benarkah ini, mimpikah gue ??? mungkinkah dia ? Tuhan ... jodohkanlah gue dengannya ???” semua anganku itu berterbangan dalam benakku.
Di saat aku masih dalam lamunanku yang masih bingung dengan semua ini, Dika menyadarkanku dengan menggenggam tanganku. Aku semakin terjatuh dalam mimpi saja.
“Vic, ayo naik. Nanti terlambat lho” ajak Dika seraya menarik tanganku menuju motornya.
Kamipun berangkat . Sampai di sekolah ketika aku dan Dika turun di parkiran, banyak siswa yang melihat pada kami. Aku bingung mau ngapain lagi. Tiba-tiba nampak seorang cewek menghampiri aku dan Dika. Ku lihat cewek itu dan Dika sangat akrab sekali. Itu adalah hal yang biasa bila Dika dekat banyak cewek karena memang orang penting.
“ Dika, gue rasa gue harus ke kelas sekarang. Terima Kasih untuk tebengannya. “ kataku berharap dia masih menahanku. Namun hasilnya nihil.
“ ya udah, sorry ya Vic, gue gak bisa ngantar loe sampai di kelas. Gue masih banyak urusan ini.” Balas Dika penuh cemas
“ No poblem. Gue bisa ngertiin loe kok” balasku seraya meninggalkan Dika dan cewek itu.
Hari-hari berlalu begitu indah. Semakin hari semakin dekat aku dengan Dika. Gue sering jalan dengan Dika. Terkadang gue juga nemenin Dika latihan basket. gue pengen tahu banyak tentang Dika. Aku mencoba mencari tahunya dengan mengintrogasi Kak Reza.
“ kak..”
“apaan ..??” balas Kak Reza sambil memainkan gitarnya.
“Loe kan dah kenal lama ma Dika, Dia dah punya Cewek belum ???”
“ Hayoo ada apa nih, sepertinya ada yang lagi falling in love, lagian loe kan yang dekat sama Dika, sampai-sampai gue dicuekin kenapa tanya sama gue ?”
“critanya cemburu nihhh .. ya udah , lagian gak penting tahuuu ...” Akupun meninggalkan Kak reza.
Hari kelulusanpun mulai menjelang. Aku merasa Dika begitu beda . Tak seperti dulu lagi. Kita tak sedekat waktu dulu. Gue semakin jauh dari Dika. Meski awan begitu biru, namun hatiku merasa kelabu. Aku merasa kesepian.
“Vick, .. “ kata dia cengengesan.
“ gue tahu apa yang loe mau” kata ku sinis sambil mengeluarkan buku tugas Matematika
“he.. he.. he... loe memang satu-satunya sahabat yang bisa ngertiin gue yach “ goda Yutik
“siiPPP . “ balasku seraya masuk ke dalam kelas
Kelas dimulai dengan pelajaran Matematika. Hari yang indah buat merefreshkan otak.
Aku termenung bersama laptopku di perpustakaan. Ku rangkai beberapa kata untuk menyambungkan cerpen yang ku buat. Namun langkah tangan yang sedang mengetik itu terhenti di saat Dika duduk di sebelahku.
“ OMG, mimpikah gue ???” pikirku
Terus aku memandang kepadanya. Tak ku sangka, Dika ternyata juga ikut memandangku. Dika merasa tak enak terus aku pandang. Akupun masih tak sadar dari tadi dia juga memperhatikanku yang terus memandangiku sampai dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Hingga aku pun sadar, Dika terus memandangku aneh. Aku malu sekali.
“ maaf, tak ada maksud gue buat itu “ kataku singkat
“ no poblem. Sepertinya cerpennya bagus ?” kata Dika sambil melihat ke arah laptopku.
Aku hanya membalasnya dengan senyum kecil. Perasaanku saat itu begitu terbang melayang, saat dia memujiku. Aku semakin berharap dia akan benar-benar jadi kekasihku. Bukan hanya sekedar mimpi.
“ Nama Loe siapa?” katanya singkat sambil mengulurkan tangannya yang membuatku benar-benar kaget.
“Vicky Anil Ardani XII IPA3” balasku singkat
“ emm.. gue” belum dia melanjutkan kalimatnya, aku pun menyelanya.
“gak usah loe kasih tahu, gue dah tahu kok siapa loe. Sang wakil OSIS sekaligus kapten basket sekolah ini. “ selaku.
“sampai segitunya, ya. Gue benar-benar terkenal ya. “ candanya
Namun pembicaraan kami pun tersendat di saat bel masuk berbunyi.
“ya sudah ya, makasih buat semuanya. Kita sambung kapan-kapan lagi ya” kata Dika singkat seraya meninggalkan perpustakaan.
Hari ini memang hari yang indah buatku. Hari yang sempurna untuk mengukir awal yang baru untuk bisa bersama Dika. Semoga dia benar-benar jodohku.
Sore harinya, jam tepat menunjuk pukul 16.05. di rumah , Kak Reza terus menggerutu mencari- cari barang yang akan dibawanya buat latihan basket bersama teman-temannya di lapangan. Sedang aku hanya terfokus pada majalah yang tengah aku baca.
“dek, dari pada bengong di situ, ikut kakak ajach” kata kak Reza
“ kalo gue ikut kakak, sama ajach bengongnya, gue nanti juga dicuwekin” balasku
“ya udah, aku kan hanya menawari. Dari pada di rumah sendiri” terus menawariku
“Ya udah dech Kak, aku ikut” aku pun menurut pada Kak Reza.
Kami pun sampai di lapangan basket. Aku hanya terdiam di pinggir lapangan. Sambil memanikan hp ku, sekali-kali ku perhatikan permainan Kak Reza. Aku terkejut di saat melihat Kak Reza begitu akrabnya. Hari semakin sore, dan mulai beranjak malam. Matahripun telah mulai tenggelam. Kak Reza dan Dika berjalan beriringan menuju kepadaku.
“ Vicky, loe ke sini juga ya ? memangnya ada acara apa ?” kata Dika
“ EeemMMmm ,...” jawabku gagub
“loe juga kenal adik gue ya, oh.. iya gue lupa . kalian satu sekolah. Ya ampun. “ sela Kak Reza
“ Adik loe. Jadi adik loe yang ini yang loe critain itu. “ kata Dika terheran
Pembicaraan kami pun selesai sampai di situ. Sampai di rumah aku masih dihantui rasa penasaran. Akhirnyan aku temui saja Kak Reza di kamarnya. Di kamar kulihat Kak Reza sedang mengotak-atik gitarnya
“Kak Reza, “ kataku
“apa ? “
“ emmmmMMM ... kok loe bisa kenal sama Dika. “
“ooo ... ya kenal saja. Dia kan juga sering latihan di tempat kakak. Emangnya kenapa ???”
“ gak apa-apa, penasaran saja. Kakak cerita apasaja tentang gue pada Dika ?????”
“crita apa... ??? gue gak crita apa-apa?”
“bo’ong .. lha tadi Dika bilang ??”
“ooooo .. tentang loe ikut lomba cerpen itu lhoo .”
“bener gak tuh “ balasku ragu
“whateverLah dek”
Keesokan harinya aku bergegas berangkat sekolah. Hal yang mengejutkan kembali menghampiriku lagi. Kali ini tentang Dika lagi. Tak aku sangka pagi-pagi sudah memberikan vitamin untukku. Dia datang ke rumah. Dia tahu rumahku. Aku bingung kenapa dia pagi-pagi sudah datang ke sini, pasti ada hal penting dengan Kak Reza, apalagi dong kalo bukan urusan basket. Gak mungkin sekali bila berurusan denganku.
Ternyata semua persangkaku salah. Aku bingung, heran, kaget bercampur satu. Semua terasa seperti mimpi. Aku mencoba mencubit-cubit pipiku, dan aku merasa sakit. Ini benar-benar bukan mimpi.
“ OMG, benarkah ini, mimpikah gue ??? mungkinkah dia ? Tuhan ... jodohkanlah gue dengannya ???” semua anganku itu berterbangan dalam benakku.
Di saat aku masih dalam lamunanku yang masih bingung dengan semua ini, Dika menyadarkanku dengan menggenggam tanganku. Aku semakin terjatuh dalam mimpi saja.
“Vic, ayo naik. Nanti terlambat lho” ajak Dika seraya menarik tanganku menuju motornya.
Kamipun berangkat . Sampai di sekolah ketika aku dan Dika turun di parkiran, banyak siswa yang melihat pada kami. Aku bingung mau ngapain lagi. Tiba-tiba nampak seorang cewek menghampiri aku dan Dika. Ku lihat cewek itu dan Dika sangat akrab sekali. Itu adalah hal yang biasa bila Dika dekat banyak cewek karena memang orang penting.
“ Dika, gue rasa gue harus ke kelas sekarang. Terima Kasih untuk tebengannya. “ kataku berharap dia masih menahanku. Namun hasilnya nihil.
“ ya udah, sorry ya Vic, gue gak bisa ngantar loe sampai di kelas. Gue masih banyak urusan ini.” Balas Dika penuh cemas
“ No poblem. Gue bisa ngertiin loe kok” balasku seraya meninggalkan Dika dan cewek itu.
Hari-hari berlalu begitu indah. Semakin hari semakin dekat aku dengan Dika. Gue sering jalan dengan Dika. Terkadang gue juga nemenin Dika latihan basket. gue pengen tahu banyak tentang Dika. Aku mencoba mencari tahunya dengan mengintrogasi Kak Reza.
“ kak..”
“apaan ..??” balas Kak Reza sambil memainkan gitarnya.
“Loe kan dah kenal lama ma Dika, Dia dah punya Cewek belum ???”
“ Hayoo ada apa nih, sepertinya ada yang lagi falling in love, lagian loe kan yang dekat sama Dika, sampai-sampai gue dicuekin kenapa tanya sama gue ?”
“critanya cemburu nihhh .. ya udah , lagian gak penting tahuuu ...” Akupun meninggalkan Kak reza.
Hari kelulusanpun mulai menjelang. Aku merasa Dika begitu beda . Tak seperti dulu lagi. Kita tak sedekat waktu dulu. Gue semakin jauh dari Dika. Meski awan begitu biru, namun hatiku merasa kelabu. Aku merasa kesepian.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar berita bila Dika akan abroad study di Australia. Hatiku bagai teriris saat mendengar kabar itu. Aku merasa sangat kehilangan sekali. Aku pun segera datang menemui Yutik sahabat baikku untuk meminta solusi. Sia-sia hasilnya, Yutik baru liburan bersama orang tuanya ke Bandung. Aku merasa bingung, semua rasa ku bercampur tak karuan. Hingga keberanian itu pun muncul . Aku memutuskan untuk menumpahkan semua perasaanku pada Dika. Menyatakan bagaimana isi hatiku pada Dika sebelum dia pergi. Daripada aku menyesal nantinya.
Saat tiba di depan rumah Dika, aku mencoba melangkah masuk ke dalam halaman rumah Dika, namun begitu berat rasanya. Terus ku paksakan , meski hati terus memberontak. Aku hanya bisa menanti takdir cinta yang mungkin bisa menuntunku bersama Dika. Namun bila takdir cinta itu tidak bersama Dika, mungkin Dika bukan tercipta untuk, dia bukan Jodohku.
Kutekan tombol bel rumah Dika tiga kali, hingga Dika membukakan pintu. Ku tatap wajah dika, perih begitu menusuk hati.
“Vic, adakah sesuatu yang telah menerbangka loe hingga singgah di istana gue ini?” gurau Dika
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku membisu, tak mampu bicara. Seperti ada sesuatu yang membungkam mulutku. Menatap wajah Dika semakin membuat hatiku perih. Dika merasa heran denganku hingga ia menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya. Namun aku tetap bertahan pada posisi ku sekarang.
“Dika, gue pengen ngomongin sesuatu sama loe ? ku harap kau bisa mengerti” kata ku sambil menunduk
“baiklah. Ada apa sebenarnya??.” Balas Dika
“Dika, apakah loe tahu tentang rasa yang gue miliki? Pernahkah loe mencoba membaca sedikit tentang hati gue? Pekakah loe dengan hal yang pernah kita lalui ?? sesungguh hal-hal yang pernah kita lalui itu adalah ukiran perasaan gue untuk loe. Semenjak pertama gue sekolah di sini, gue udah suka sama loe, jauh sebelum loe menjadi wakil OSIS atau kapten basket. meski loe tak sempurna , namun bagi gue loe istimewa. Gue gak pingin maksain perasaan loe, terserah jawaban apa dari loe gue terima. Gue hanya ingin numpahin perasaan yang sebenarnya dari lubuk hati gue, gue nggak ingin terluka karena terlalu sakit memendam perasaan gue pada loe, Dik? Jelasku dengan mata yang berkaca-kaca.
“eMMmmm ... Vic, gue bisa ngertiin bagaimana perasaan loe dan gue hargai perasaan loe pada gue, namun sepertinya sudah terlambat. Gue udah ... udah jadian sama Tania. Maafin gue Vic, gue yakin loe bakal mendapatkan cowok yang lebih baik dari gue. Percayalah Vic” balas Dika penuh cemas.
“tak apalah Dik, gue bisa ngerti kok. Itu hak loe, gue hanya bisa nunggu jawabannya. Loe mungkin bukan jodoh gue, loe bukan jawaban segala doa gue. Selamat ya, semoga langgeng dengan Tania. Namun gue gak bisa janji buat bisa cepat nglupain loe untuk saat ini. Bagi gue loe lah yag terbaik. tapi gue percaya kok, Tuhan udah nyiapin jodoh yang paling terbaik buat gue. “ kata ku dan meninggalkan Dika.
Hatiku begitu sakit sekali, aku hanya bisa menangis dan menangis. Tak ada tawa sedikitpun menghiasiku , yang ada hanya kenangan masa laluku bersama Dika. Ternyata dia bukan jodohku.
Waktu terus beranjak. Berlalu tanpa henti. Berputar mengikuti alur. Ku coba bangkit dari keterpurukan. Tiada guna ku berlama-lama tenggelam dalam harapan yang tak mungkin bisa kuharapkan lagi. Buka lembaran baru, tanpa Dika. Sekarang ku jalani hidupku seperti air mengalir mengikuti arus.
Posted by Unknown
Berakhir Menyakitkan
Kringgggg...Hp Venti berbunyi terlihat telfon dari Taro pacarnya.
“Hallo bebeh..pagi” kuk udach telfon?? Gag biasanya” tanya Venti
“Aku pengen kita putus Vin”
Tut tut tut tiba” telfon mati. Venti sedieh hancur & merasa hilang sparuh jiwanya. Venti segera berpamitan pada orang tuanya untuk berangkat sekolah dgn hati yang sdieh.
Sesampai disekolah vints langsung dikerubuni sama teman”nya...teman”nya heran kenapa inta terlihat sangat sdieh.
Saat vinta jalan bareng temen temen nya tiba tiba dia dia melihat taro jalan bareng sama salah satu murid yg 1 kelas dengan taro. Vinta hanya berhenti terdiam melihat taro jalan melewatinya & hanya tersenyum sinis.
Vinta hanya terdiam meneteskan air mata .
“ya ampuuun plies dunx vinta gag usah nangis” temen temen vinta lebay sambil mengusap air matanya.
Beberapa hari ini vinta hanya diam,dia selalu pengen sendirian ,taro yg lihat vinta sedieh hnya menghiraaukan nya.
Dari kejauhan temen temen vinta melihat tingkahnya yg duduk ditaman sekolahnya.
“loe kenapa sedieh, kadang kalau kita kehilangan orang yang kita sayang memang terasa sakiet, tapi gag seharusnya kita terus begini, kia harus berusaha melupakannya walau sulit” tiba tiba ada cowok duduk disampingnya.
“ya ampuuuun itukan cowok yang kemaen baru masuk sekolah ini temen temen, dia tu sekarang paling beken disekolah ini” kata ori.
Karena cowok itu merasa tidak diperhatiin dia langsung beranjak pergi dengan santai.
Vinta heran banyak cewek yang langsung mendekatinya, ada juga sahabat”nya vinta,tapi cowok itu cuek saja.
“ich dasar cowok cuek tau ada cewek” mendekati kuk cuek ajah”. Cewek” dengan sebel.
Waktu pulang sekolah sudah tiba vinta segera keparkiran,kali ini vinta sebel “baru kali ini mobil gw macet nie mana lagi temen gw”.
“kenapa mobil loe’’ tanya cowok tadi.
“hemzzz gag tau niech tiba tiba macet”.
“masuk mobil gw ...gw antrin loe pulang” ajak cowok itu. Tiba tiba cowok itu telfon seseorang.
“gampang tar mobil loe ada yg ngurus , cepet masuk” cowok itu meyakinkan, vinta segera masuk mobil dan dududk disamping cowo itu.
“rumah loe mana” tanya cowok itu.
“och rumah gw dijalan merdeka nomer 6 cat warna hijau, och ya nama loe siapa”
“seven”
“gw vinta, nama loe lucu banget’’. Seven hanya aenyum sinis,.
Seven mengajak vinta ke acara syukuran dirumah nya. 1 jam perjalanan kini akhirnya vinta sampai dirumah dan turun obil sambil teriak “makasiiiih...........” seven langsung tncap gas.
Jam 7 vinta sudah dirumahnya seven . beberapa langkah dia berjalan seven langsung menarik tangannya. Vinta terlihat sangat kaget. Vinta kebingungan “ini acara apa sieh” tenoknya kanan kiri. Seven menyanyikan lagu yang romantis bwat vinta. “Semua itu mengingatkan ku pada masa kecil dulu”. Batin vinta.
Hanya terdengar suara petikan gitar dan suara indah seven dipesta itu, semua orang terlihat sangat terharu. Selesai bergitar seven langsung diusap air matanya oleh 2 orang cantik yg bekerja dirumahnya. Seven nerdiri dan menyuruh vinta duduk, seven memegang kedua tangan vinta.
“loe mau gag jadi pacar gw”. Tanya seven. Vinta kebingungan.
“gw dicky vin, cowok yang dlu pernah jadi pacar loe di 4 SD, nama ku di ganti seven saat aku diprancis, tapi aku masih yang dulu”. Vinta segera memeluk erat seven untuk melepas kerinduannya.
Akhirnya karena ada kalung mahnet punya mereka, akhirnya mereka pacaran lagi.Hari hari yang membuwat vinta bisa melupakan taro karena ada sevenmaka vinta selalu tersenyum. Suatu Malam seven menggoreskan kaca ditelapak tangan kirinya dan nama VINTA yang tertulis. Dia terliihat menahan rasa sakit akibat goresan itu.
Disuatu malam vinta jalan sama seven tiba tiba bensinnya habis jadi meraka terpaksa harus cari penginapan didekat situ.
“gw pengen loe tau kalo gw sayang ama loe vin”. Perlahan sevan tidurkan vinta. Lagi NANANINA niec mereka.
Esok harinya mereka herus pulang. Beberapa hari vinta merasa badannya tidak enak. Dia segera ke dokter. Ternyata vinta hamil, dia terlihat sangat kecewa. Dia segera memberi tahu seven saat sepulang sekolah nanti. Sepulang seklah seven segera menjemput nya. Saat dimobil.
“gw hamil” kata vinta pelan. Seven spontan menginjak rem mobilnya kaget.
“vin aku akan tanggung jawab , kamu jaga anak kita ,jaga kesehatan kamu ,biarlah suatu saat dya akan menjagamu “
Mereka berpelukan dan merasa ada kekecewaan sedikit dihati mereka . hari minggu bulan telah berlalu setiap hari seven selalu mendengarkan gerakan bayi perut vinta.mereka terlihat bahagia.
Sudah 6 bulan vinta hamil sedangkan seven kini sudah lulus sekolah ,seven terlihat menyayangi vinta dan bayi di perutnya mereka terlihat bahagia. Saat seven akan kerumah vinta dan merasa kangent dia pergi ke rumah vinta dan bercanda bareng. Vinta merasa ada sesuatu yang akan hilang dari hidupnya.
“adek...jaga ibu kamu ya,vinta gue sayank ama loe “. Kata seven bilang itu sambil memegang perut vinta yang besar itu.
“gw pulang dulu ea vinta sayank “
“ya” kata vinta terasa berat. 6 menit kemudian hp vinta berbunyi “vin segeralah ke rumah sakit, seven kecelakan, dia sekarang di UGD ,parah banget”. Hp vinta terjatuh,dia terasa sangat terpukul. Setiba di rumah sakit perut vinta terasa sakit dan merasa tidak kuat lagi , akhirnya dia harus segera melahirkan bayinya yang sudah 8 bulan itu. Di rumah sakit yang sama vinta dan seven di rawat,sven kritis menjalani operasinya sedangkan vinta harus berusaha menahan sakit. Jeritan vinta sangatlah penuh usaha dan difikirannya hanya ada seven. Bayi itu akhirnya keluar dari rahim vinta. Keringat bercucuran dan rasa cemas dihati vinta. Dia segera membawa bayi itu saat 1 menit kemudian. Vinta menahan rasa sakitnya dan segera berlari membopong bayinya menuju UGD tempat seven dirawat. Dokter keluar ruangan dan merasa kecewa karena merasa detik-detik seven meninggal tak lama lagi. Sedangkan vinta terus berlari menemui seven tuk yang terakhir kalinya. Vinta perlahan masuk UGD dengan bayinya itu. Duduk disamping seven dan menidurkan bayinya ditangan seven. Tangan bayi kecil itu terlihat menggenggam ibu jari seven.
Itu awal dan akhir seorang ayah memeluk bayinya. Meraka bertiga terlihat keluarga bahagia. Dokter heran melihat tragedi itu, tiba-tiba seven meneteskan air mata. Akhinya detak jantung seven berhenti.
“Seven gw akan jaga bayi kita, gw yakin loe bahagia disana ,bayi ini terakhir memeluk mu”.
“Hallo bebeh..pagi” kuk udach telfon?? Gag biasanya” tanya Venti
“Aku pengen kita putus Vin”
Tut tut tut tiba” telfon mati. Venti sedieh hancur & merasa hilang sparuh jiwanya. Venti segera berpamitan pada orang tuanya untuk berangkat sekolah dgn hati yang sdieh.
Sesampai disekolah vints langsung dikerubuni sama teman”nya...teman”nya heran kenapa inta terlihat sangat sdieh.
Saat vinta jalan bareng temen temen nya tiba tiba dia dia melihat taro jalan bareng sama salah satu murid yg 1 kelas dengan taro. Vinta hanya berhenti terdiam melihat taro jalan melewatinya & hanya tersenyum sinis.
Vinta hanya terdiam meneteskan air mata .
“ya ampuuun plies dunx vinta gag usah nangis” temen temen vinta lebay sambil mengusap air matanya.
Beberapa hari ini vinta hanya diam,dia selalu pengen sendirian ,taro yg lihat vinta sedieh hnya menghiraaukan nya.
“loe kenapa sedieh, kadang kalau kita kehilangan orang yang kita sayang memang terasa sakiet, tapi gag seharusnya kita terus begini, kia harus berusaha melupakannya walau sulit” tiba tiba ada cowok duduk disampingnya.
“ya ampuuuun itukan cowok yang kemaen baru masuk sekolah ini temen temen, dia tu sekarang paling beken disekolah ini” kata ori.
Karena cowok itu merasa tidak diperhatiin dia langsung beranjak pergi dengan santai.
Vinta heran banyak cewek yang langsung mendekatinya, ada juga sahabat”nya vinta,tapi cowok itu cuek saja.
“ich dasar cowok cuek tau ada cewek” mendekati kuk cuek ajah”. Cewek” dengan sebel.
Waktu pulang sekolah sudah tiba vinta segera keparkiran,kali ini vinta sebel “baru kali ini mobil gw macet nie mana lagi temen gw”.
“kenapa mobil loe’’ tanya cowok tadi.
“hemzzz gag tau niech tiba tiba macet”.
“masuk mobil gw ...gw antrin loe pulang” ajak cowok itu. Tiba tiba cowok itu telfon seseorang.
“gampang tar mobil loe ada yg ngurus , cepet masuk” cowok itu meyakinkan, vinta segera masuk mobil dan dududk disamping cowo itu.
“rumah loe mana” tanya cowok itu.
“och rumah gw dijalan merdeka nomer 6 cat warna hijau, och ya nama loe siapa”
“seven”
“gw vinta, nama loe lucu banget’’. Seven hanya aenyum sinis,.
Seven mengajak vinta ke acara syukuran dirumah nya. 1 jam perjalanan kini akhirnya vinta sampai dirumah dan turun obil sambil teriak “makasiiiih...........” seven langsung tncap gas.
Jam 7 vinta sudah dirumahnya seven . beberapa langkah dia berjalan seven langsung menarik tangannya. Vinta terlihat sangat kaget. Vinta kebingungan “ini acara apa sieh” tenoknya kanan kiri. Seven menyanyikan lagu yang romantis bwat vinta. “Semua itu mengingatkan ku pada masa kecil dulu”. Batin vinta.
Hanya terdengar suara petikan gitar dan suara indah seven dipesta itu, semua orang terlihat sangat terharu. Selesai bergitar seven langsung diusap air matanya oleh 2 orang cantik yg bekerja dirumahnya. Seven nerdiri dan menyuruh vinta duduk, seven memegang kedua tangan vinta.
“loe mau gag jadi pacar gw”. Tanya seven. Vinta kebingungan.
“gw dicky vin, cowok yang dlu pernah jadi pacar loe di 4 SD, nama ku di ganti seven saat aku diprancis, tapi aku masih yang dulu”. Vinta segera memeluk erat seven untuk melepas kerinduannya.
Akhirnya karena ada kalung mahnet punya mereka, akhirnya mereka pacaran lagi.Hari hari yang membuwat vinta bisa melupakan taro karena ada sevenmaka vinta selalu tersenyum. Suatu Malam seven menggoreskan kaca ditelapak tangan kirinya dan nama VINTA yang tertulis. Dia terliihat menahan rasa sakit akibat goresan itu.
Disuatu malam vinta jalan sama seven tiba tiba bensinnya habis jadi meraka terpaksa harus cari penginapan didekat situ.
“gw pengen loe tau kalo gw sayang ama loe vin”. Perlahan sevan tidurkan vinta. Lagi NANANINA niec mereka.
Esok harinya mereka herus pulang. Beberapa hari vinta merasa badannya tidak enak. Dia segera ke dokter. Ternyata vinta hamil, dia terlihat sangat kecewa. Dia segera memberi tahu seven saat sepulang sekolah nanti. Sepulang seklah seven segera menjemput nya. Saat dimobil.
“gw hamil” kata vinta pelan. Seven spontan menginjak rem mobilnya kaget.
“vin aku akan tanggung jawab , kamu jaga anak kita ,jaga kesehatan kamu ,biarlah suatu saat dya akan menjagamu “
Mereka berpelukan dan merasa ada kekecewaan sedikit dihati mereka . hari minggu bulan telah berlalu setiap hari seven selalu mendengarkan gerakan bayi perut vinta.mereka terlihat bahagia.
Sudah 6 bulan vinta hamil sedangkan seven kini sudah lulus sekolah ,seven terlihat menyayangi vinta dan bayi di perutnya mereka terlihat bahagia. Saat seven akan kerumah vinta dan merasa kangent dia pergi ke rumah vinta dan bercanda bareng. Vinta merasa ada sesuatu yang akan hilang dari hidupnya.
“adek...jaga ibu kamu ya,vinta gue sayank ama loe “. Kata seven bilang itu sambil memegang perut vinta yang besar itu.
“gw pulang dulu ea vinta sayank “
“ya” kata vinta terasa berat. 6 menit kemudian hp vinta berbunyi “vin segeralah ke rumah sakit, seven kecelakan, dia sekarang di UGD ,parah banget”. Hp vinta terjatuh,dia terasa sangat terpukul. Setiba di rumah sakit perut vinta terasa sakit dan merasa tidak kuat lagi , akhirnya dia harus segera melahirkan bayinya yang sudah 8 bulan itu. Di rumah sakit yang sama vinta dan seven di rawat,sven kritis menjalani operasinya sedangkan vinta harus berusaha menahan sakit. Jeritan vinta sangatlah penuh usaha dan difikirannya hanya ada seven. Bayi itu akhirnya keluar dari rahim vinta. Keringat bercucuran dan rasa cemas dihati vinta. Dia segera membawa bayi itu saat 1 menit kemudian. Vinta menahan rasa sakitnya dan segera berlari membopong bayinya menuju UGD tempat seven dirawat. Dokter keluar ruangan dan merasa kecewa karena merasa detik-detik seven meninggal tak lama lagi. Sedangkan vinta terus berlari menemui seven tuk yang terakhir kalinya. Vinta perlahan masuk UGD dengan bayinya itu. Duduk disamping seven dan menidurkan bayinya ditangan seven. Tangan bayi kecil itu terlihat menggenggam ibu jari seven.
Itu awal dan akhir seorang ayah memeluk bayinya. Meraka bertiga terlihat keluarga bahagia. Dokter heran melihat tragedi itu, tiba-tiba seven meneteskan air mata. Akhinya detak jantung seven berhenti.
“Seven gw akan jaga bayi kita, gw yakin loe bahagia disana ,bayi ini terakhir memeluk mu”.
Posted by Unknown




