- Back to Home »
- Atiqah dan Rio, Pilih FTV Atau Film?
Pasangan Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto akhirnya bermain bersama dalam
satu film lewat sebuah karya garapan sutradara Titin Watimena "Hello
Goodbye". Film yang mengambil latar kota Busan, Korea Selatan ini pun
turut dibintangi artis Korea, Eru.
Berkat film ini, Atiqah dan
Rio pergi menghadiri festival film terbesar di Asia, Festival Film
Internasional Busan pada 4-13 Oktober 2012 di Busan, Korea Selatan.
“Hello Goodbye” mendapat kesempatan diputar tiga kali dalam festival
tersebut — pada 6, 9, dan 12 Oktober.
Di tengah kesibukan mereka,
Atiqah dan Rio menyempatkan diri untuk mampir ke kantor Yahoo!
Indonesia di kawasan Senayan pada Senin (22/10) siang. Kira-kira mana
yang lebih disukai Atiqah dan Rio, bermain FTV atau film?
Atiqah berperan jadi Indah di "Hello Goodbye", cerita dong tentang karaktermu di film ini?
Indah
itu seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di kota Busan, Korea
Selatan. Dia perempuan yang ambisius. Saking ambisiusnya, dia tidak
bisa menikmati cara menikmati hidup saat ini, dan lupa bagaimana cara
menikmatinya.
Kalau karakter Rio?
Saya di
"Hello Goodbye" jadi Abi. Dia seorang anak buah kapal yang bekerja di
sebuah perusahaan kontainer Singapura. Saya sedang mau mengirim barang
ke Korea Selatan. Sampai di sana, saya terkena serangan jantung. Karena
saya warga negara Indonesia, jadi saya diurus oleh Indah. Abi memiliki
karakter menyerupai Indah, tapi bedanya Abi lebih bisa menikmati hidup
saat ini. Abi lebih tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan dia tidak
suka hal yang bersifat kewajiban.
Pas jadi anak buah kapal, Rio lakukan riset dulu?
Kebetulan...
tidak sih. Hehehe. Saya hanya lebih berkonsultasi dengan Mbak Titin
sang sutradara saja sih. Maunya dia apa. Karena kan Mbak Titin
penulisnya, jadi dia lebih tahu seperti apa Abi ini. Sebenarnya sih saya
lebih mencari tahu mengenai orang yang memiliki penyakit jantung,
seperti apa saja hal yang suka dia lakukan, kemudian saat dia terkena
serangan jantung tuh seperti apa.
Apa sih yang menggemaskan dari “Hello Goodbye”?
ATIQAH:
Film ini tuh tipikal cerita yang bikin orang yang menonton geregetan.
"Hiii, apa sih maunya dua orang ini." Dua-duanya sama punya ego yang
tinggi.
FTV dan film, mana yang lebih seru?
ATIQAH:
Saya sih lebih menikmati proses pembuatan film. Film kan prosesnya
lebih lama ya. Lebih serius pembuatannya, mulai dari diskusi dengan
sutradara, latihan akting. Kalau buat saya sih lebih bikin banyak
belajar. Kalau FTV kan lebih cepat ya. Tapi FTV juga ada enaknya. Saya
juga tidak mengerti bagaimana cara menjelaskannya, mungkin karena
tekanannya tidak seberat di film, berakting jadi lebih menyenangkan.
RIO:
Kurang lebih saya sama seperti Atiqah. Saya memang memulai dari FTV
baru ke film. FTV membuat saya bisa introspeksi diri, melihat sejauh
mana perkembangan kemampuan akting saya karena kan jarak dari syuting ke
penayangannya cepat. Kalau film lama. Ini saja syuting tahun lalu, baru
tayang tahun ini.
Berapa lama waktu itu syuting "Hello Goodbye"?
Tiga minggu, kurang lebih 18 hari lah.
Kalian datang ke Festival Film Internasional Busan ya?
RIO: Iya
karena diundang kan tidak enak kalau tidak datang. Kami datang,
berjalan di karpet merah, dan itu merupakan kesempatan besar banget.
Saya baru pertama kali ke acara sebesar itu.
ATIQAH:
Kami orang-orang norak deh pokoknya. Hahaha. Kami datang di karpet
merah sebenarnya sebagai ajang promosi juga, karena ini kan ajang besar.
Kalau kami tidak berjalan di karpet merah mungkin tidak akan ada yang
menyadari.
Proyek selanjutnya?
ATIQAH: Ada
beberapa sih, sudah selesai syuting, tinggal tunggu dirilis. Ada "Java
Heat", main bareng Rio juga. Ada satu lagi film bersama Falcon juga.
RIO:
Sekarang saya mulai main sinetron, yang tayang setiap hari. Nonton ya!
Haha. Kalau film ya itu, "Java Heat" dan "Mursala" yang syuting di
Tapanuli.
Main sinetron susah dong mengatur waktunya?
Iya
ini juga agak tidak enak badan. Tiap hari sebenarnya syuting, tapi
karena kemarin selesai syuting pagi, jadi hari ini istirahat dulu.
Jadi yang menarik dari film ini adalah?
Film
ini tentang percintaan yang cara berceritanya klasik. Justru ini
menjadi warna, bisa menjadi tontonan yang segar. Cerita klasik dengan
pengemasan yang modern. Percintaan yang sederhana, tapi lebih pada
perenungan dua manusia. Tidak ada drama-drama berlebihanlah.




