- Back to Home »
- Nil Maizar, Luis Manuel Blanco dan Ketidakjelasan Program PSSI
Indonesia
menderita kekalahan dari tuan rumah Irak pada pertandingan perdana Pra
Piala Asia 2015. Banyak yang beranggapan kekalahan 0-1 dari Irak adalah
pencapaian bagus karena skuat Garuda memiliki keterbatasan pemain dan
ada banyak kendala menjelang pertandingan, termasuk Raphael Maitimo yang
tidak diperkenankan bermain lantaran masalah administrasi yang tidak
terurus dengan baik oleh manajemen timnas.
Secara keseluruhan
pertandingan melawan Irak memiliki satu nilai positif penting bagi
timnas, kedisiplinan pemain meningkat. Bermain bertahan hampir sepanjang
pertandingan, seluruh pemain timnas memainkan perannya dengan baik.
Hanya keteledoran Hamdi Ramdhan dan Wahyu Wijiastanto yang menyebabkan
Younis Mahmoud mencetak gol. Selebihnya, skuat timnas bermain disiplin.
Sayangnya
sehari setelah pertandingan, media massa bukannya dipenuhi analisis
pertandingan namun malah kabar penunjukkan pelatih berkebangsaan
Argentina, Luis Manuel Blanco sebagai pelatih timnas senior sekaligus
U-23. Konferensi pers yang dihadiri pula oleh Djohar Arifin Husin dan
duta besar Argentina untuk Indonesia, Javier Sanz de Urquiza, ini
menyebutkan pula biaya gaji Blanco akan ditanggung oleh pihak ketiga.
Ada sponsor yang akan mendanai sehingga tidak akan memberatkan keuangan
PSSI. Penunjukkan ini sendiri diyakini merupakan buah pertemuan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Argentina Cristina Fernandez
de Kischner Januari 2013 lalu.
Nil Maizar memang belum
berprestasi bagus selama menangani timnas. Catatan statistik Nil Maizar
bersama timnas Garuda tidak terlalu memuaskan. Nil sudah memainkan 20
pertandingan baik laga persahabatan maupun turnamen dengan hanya meraih 5
kali kemenangan, 7 hasil imbang, dan menderita 8 kekalahan. Itu berarti
persentase kemenangan Nil hanya 25 persen. Dari catatan statistik, Nil
wajar saja diganti.
Namun, cara penggantian dan penunjukkan
pelatih baru yang perlu dipertanyakan. Nil tidak dipecat ketika ditunjuk
pelatih baru. Bob Hippy pun mempertanyakan keputusan menunjuk Blanco
karena Djohar sebelumnya tidak membahasnya di rapat Exco, yang merupakan
satu tahapan untuk penunujukkan pelatih timnas. Belakangan, Djohar pun
menegaskan kalau Nil Maizar dan staf kepelatihannya tidak dipecat.
Kehadiran Blanco bersama dua asistennya, Jorge Di Gregorio dan Marcos
Conenna akan digabung dengan staf kepelatihan yang sudah ada. ada pula
versi lain yang mengatakan Blanco akan duduk sebagai direktur teknik.
Apapun
nantinya jabatan untuk Blanco merupakan bukti kalau PSSI tidak bekerja
dengan baik. Program pembinaan sepak bola nasional yang dilakukan oleh
PSSI tidak jelas dan lebih sering menimbulkan polemik dibandingkan mampu
menerbitkan optimisme di mata pecinta sepak bola Indonesia.
Kehadiran
Blanco akan menambah keruwetan pembagian kerja di tubuh timnas
Indonesia. Gajinya yang dibayari oleh pihak ketiga akan menambah masalah
pula bagi PSSI, terlebih bagi fans. Tidak adanya transparansi mengenai
nilai kontrak dan siapa yang menanggung biaya hanya menunjukkan kalau
PSSI semakin bernuansa politis. Kampanye “kick politics out from football” hanya dianggap sebagai slogan penyemarak saja, tidak lebih dari itu.
Ditinjau
dari sisi teknis, kualitas Blanco pun tidak terlalu menjanjikan.
Blanco, pria 59 tahun ini belum pernah menangani tim dengan reputasi
menawan. Blanco yang mengakhiri karir sebagai pesepakbola di klub asal
Bolivia Wilstermann Athletic Club, memulai karir kepelatihannya dengan
menangani klub Meksiko, Cobras de Ciudad Jurez. Blanco kemudian
melanglang buana untuk melatih klub-klub di Argentina, Meksiko, Costa
Rica, Paraguay, hingga melatih Dinamo Tirana klub di Albania. Terakhir,
sebelum akhirnya dikontrak oleh PSSI, Blanco menuliskan di halaman
pribadinya luismanuelblanco.com melatih timnas U-20 Cina, namun menurut
federasi Cina, timnas U-20 ditukangi oleh Jan Olde Riekerink, pria asal
Belanda dalam rentang 2011-2012 dan sebelumnya diasuh oleh Su Maozhen
yang menangani tim Cina U-20 pada 2009-2011. Blanco diyakini “hanya”
melatih tim Beijing U-20 untuk kejuaran nasional sekelas Pekan Olahraga
Nasional (PON) di Indonesia.
Di Argentina, Blanco tidak begitu
dikenal oleh masyarakat dengan reputasi melatihnya. Blanco hanya dikenal
karena mengoorbitkan pemuda bernama David Trezeguet. Ketika melatih
Platense Athletic Club rentang 1993-1996, Blanco berani memainkan
Trezeguet yang belum genap berusia 17 tahun untuk bertanding di sebuah
pertandingan Divisi Utama Argentina di musim 1994-1995. Di akhir musim,
Trezeguet ditransfer ke AS Monaco dan mulai menjalani karir hingga
menjadi salah satu penyerang terbaik dunia.
Secara keseluruhan, transfermarket mencatat
statistik rasio sukses melatih Blanco adalah 44,44% meraih kemenangan,
22,22% seri, dan 33,33% menderita kekalahan. Bisa dibilang, secara
keseluruhan catatan Blanco tidak terlalu baik jika dibebani meloloskan
Indonesia ke Piala Asia 2015, meraih medali emas Sea Games 2013 dan
memenangkan Piala AFF 2014.
Satu hal yang menarik dari dirinya
adalah janjinya untuk melakukan perubahan pelatihan sepak bola di
Indonesia mulai dari level dasar. Dan dia yakin mampu mengorbitkan
pemain bertubuh mungil asal Indonesia menjadi pemain kelas dunia.
Semoga, dia memang benar-benar tahu apa yang dimiliki oleh Indonesia
dalam hal pembinaan usia muda.
Pembinaan usia muda yang menjadi
fondasi utama dari prestasi sepak bola, sejauh ini tidak digarap dengan
benar oleh federasi. PSSI lebih suka dengan proyek mercusuar seperti
mengirim satu tim berlatih ke luar negeri, lebih suka memikirkan liga
gemerlap yang punya banyak masalah, dan terakhir program pembinaan usia
muda yang akan digarap secara nasional dengan Timo Scheunemann sebagai
pemimpin program gagal terwujud, bahkan Timo pun akhirnya sudah
mengundurkan diri karena program tidak jelas kelanjutannya.
Jadi,
masalah sebenarnya bukan ada di Nil ataupun Blanco, masalah ada di
PSSI. Ketidakjelasan program pembinaan usia muda merupakan akar dari
masalah minimnya prestasi sepak bola nasional. PSSI lebih suka asal
tunjuk pelatih asing bergaji mahal demi pencitraan kalau mereka bekerja,
padahal sejatinya tidak ada usaha yang serius untuk melakukan perbaikan
kualitas sepak bola nasional. Terbaru, PSSI juga menunjuk Paolo
Camargo, pelatih asal Brasil sebagai pelatih timnas U-14.
Sepertinya
berbagai keputusan penunjukkan pelatih tidak dipertimbangkan dengan
masak karena sangat mungkin PSSI memang tak punya rencana matang untuk
pembinaan sepak bola untuk negeri ini. Jadi, sebaiknya kita tetap
bersabar untuk melihat timnas berjaya di kejuaraan internasional.




