Nil Maizar, Luis Manuel Blanco dan Ketidakjelasan Program PSSI
Posted by : Unknown Sabtu, 23 Maret 2013

Indonesia menderita kekalahan dari tuan rumah Irak pada pertandingan perdana Pra Piala Asia 2015. Banyak yang beranggapan kekalahan 0-1 dari Irak adalah pencapaian bagus karena skuat Garuda memiliki keterbatasan pemain dan ada banyak kendala menjelang pertandingan, termasuk Raphael Maitimo yang tidak diperkenankan bermain lantaran masalah administrasi yang tidak terurus dengan baik oleh manajemen timnas.

Secara keseluruhan pertandingan melawan Irak memiliki satu nilai positif penting bagi timnas, kedisiplinan pemain meningkat. Bermain bertahan hampir sepanjang pertandingan, seluruh pemain timnas memainkan perannya dengan baik. Hanya keteledoran Hamdi Ramdhan dan Wahyu Wijiastanto yang menyebabkan Younis Mahmoud mencetak gol. Selebihnya, skuat timnas bermain disiplin.

Sayangnya sehari setelah pertandingan, media massa bukannya dipenuhi analisis pertandingan namun malah kabar penunjukkan pelatih berkebangsaan Argentina, Luis Manuel Blanco sebagai pelatih timnas senior sekaligus U-23. Konferensi pers yang dihadiri pula oleh Djohar Arifin Husin dan duta besar Argentina untuk Indonesia, Javier Sanz de Urquiza, ini menyebutkan pula biaya gaji Blanco akan ditanggung oleh pihak ketiga. Ada sponsor yang akan mendanai sehingga tidak akan memberatkan keuangan PSSI. Penunjukkan ini sendiri diyakini merupakan buah pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Argentina Cristina Fernandez de Kischner Januari 2013 lalu.

Nil Maizar memang belum berprestasi bagus selama menangani timnas. Catatan statistik Nil Maizar bersama timnas Garuda tidak terlalu memuaskan. Nil sudah memainkan 20 pertandingan baik laga persahabatan maupun turnamen dengan hanya meraih 5 kali kemenangan, 7 hasil imbang, dan menderita 8 kekalahan. Itu berarti persentase kemenangan Nil hanya 25 persen. Dari catatan statistik, Nil wajar saja diganti.

Namun, cara penggantian dan penunjukkan pelatih baru yang perlu dipertanyakan. Nil tidak dipecat ketika ditunjuk pelatih baru. Bob Hippy pun mempertanyakan keputusan menunjuk Blanco karena Djohar sebelumnya tidak membahasnya di rapat Exco, yang merupakan satu tahapan untuk penunujukkan pelatih timnas. Belakangan, Djohar pun menegaskan kalau Nil Maizar dan staf kepelatihannya tidak dipecat. Kehadiran Blanco bersama dua asistennya, Jorge Di Gregorio dan Marcos Conenna akan digabung dengan staf kepelatihan yang sudah ada. ada pula versi lain yang mengatakan Blanco akan duduk sebagai direktur teknik.

Apapun nantinya jabatan untuk Blanco merupakan bukti kalau PSSI tidak bekerja dengan baik. Program pembinaan sepak bola nasional yang dilakukan oleh PSSI tidak jelas dan lebih sering menimbulkan polemik dibandingkan mampu menerbitkan optimisme di mata pecinta sepak bola Indonesia.

Kehadiran Blanco akan menambah keruwetan pembagian kerja di tubuh timnas Indonesia. Gajinya yang dibayari oleh pihak ketiga akan menambah masalah pula bagi PSSI, terlebih bagi fans. Tidak adanya transparansi mengenai nilai kontrak dan siapa yang menanggung biaya hanya menunjukkan kalau PSSI semakin bernuansa politis. Kampanye “kick politics out from football” hanya dianggap sebagai slogan penyemarak saja, tidak lebih dari itu.

Ditinjau dari sisi teknis, kualitas Blanco pun tidak terlalu menjanjikan. Blanco, pria 59 tahun ini belum pernah menangani tim dengan reputasi menawan. Blanco yang mengakhiri karir sebagai pesepakbola di klub asal Bolivia Wilstermann Athletic Club, memulai karir kepelatihannya dengan menangani klub Meksiko, Cobras de Ciudad Jurez. Blanco kemudian melanglang buana untuk melatih klub-klub di Argentina, Meksiko, Costa Rica, Paraguay, hingga melatih Dinamo Tirana klub di Albania. Terakhir, sebelum akhirnya dikontrak oleh PSSI, Blanco menuliskan di halaman pribadinya luismanuelblanco.com melatih timnas U-20 Cina, namun menurut federasi Cina, timnas U-20 ditukangi oleh Jan Olde Riekerink, pria asal Belanda dalam rentang 2011-2012 dan sebelumnya diasuh oleh Su Maozhen yang menangani tim Cina U-20 pada 2009-2011. Blanco diyakini “hanya” melatih tim Beijing U-20 untuk kejuaran nasional sekelas Pekan Olahraga Nasional (PON) di Indonesia.

Di Argentina, Blanco tidak begitu dikenal oleh masyarakat dengan reputasi melatihnya. Blanco hanya dikenal karena mengoorbitkan pemuda bernama David Trezeguet. Ketika melatih Platense Athletic Club  rentang 1993-1996, Blanco berani memainkan Trezeguet yang belum genap berusia 17 tahun untuk bertanding di sebuah pertandingan Divisi Utama Argentina di musim 1994-1995. Di akhir musim, Trezeguet ditransfer ke AS Monaco dan mulai menjalani karir hingga menjadi salah satu penyerang terbaik dunia.

Secara keseluruhan, transfermarket mencatat statistik rasio sukses melatih Blanco adalah 44,44% meraih kemenangan, 22,22% seri, dan 33,33% menderita kekalahan. Bisa dibilang, secara keseluruhan catatan Blanco tidak terlalu baik jika dibebani meloloskan Indonesia ke Piala Asia 2015, meraih medali emas Sea Games 2013 dan memenangkan Piala AFF 2014.

Satu hal yang menarik dari dirinya adalah janjinya untuk melakukan perubahan pelatihan sepak bola di Indonesia mulai dari level dasar. Dan dia yakin mampu mengorbitkan pemain bertubuh mungil asal Indonesia menjadi pemain kelas dunia. Semoga, dia memang benar-benar tahu apa yang dimiliki oleh Indonesia dalam hal pembinaan usia muda.

Pembinaan usia muda yang menjadi fondasi utama dari prestasi sepak bola, sejauh ini tidak digarap dengan benar oleh federasi. PSSI lebih suka dengan proyek mercusuar seperti mengirim satu tim berlatih ke luar negeri, lebih suka memikirkan liga gemerlap yang punya banyak masalah, dan terakhir program pembinaan usia muda yang akan digarap secara nasional dengan Timo Scheunemann sebagai pemimpin program gagal terwujud, bahkan Timo pun akhirnya sudah mengundurkan diri karena program tidak jelas kelanjutannya.

Jadi, masalah sebenarnya bukan ada di Nil ataupun Blanco, masalah ada di PSSI. Ketidakjelasan program pembinaan usia muda merupakan akar dari masalah minimnya prestasi sepak bola nasional. PSSI lebih suka asal tunjuk pelatih asing bergaji mahal demi pencitraan kalau mereka bekerja, padahal sejatinya tidak ada usaha yang serius untuk melakukan perbaikan kualitas sepak bola nasional. Terbaru, PSSI juga menunjuk Paolo Camargo, pelatih asal Brasil sebagai pelatih timnas U-14.

Sepertinya berbagai keputusan penunjukkan pelatih tidak dipertimbangkan dengan masak karena sangat mungkin PSSI memang tak punya rencana matang untuk pembinaan sepak bola untuk negeri ini. Jadi, sebaiknya kita tetap bersabar untuk melihat timnas berjaya di kejuaraan internasional.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Free counters! ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free Ping your blog, website, or RSS feed for Free


Popular Post

Blogger templates

Blog Archive

Total Pageviews

About

Social Icons

Live Visitor's

Menurutkamu

Pasang FREE

ads ads ads ads
Powered By Blogger

Wikipedia

Hasil penelusuran

Followers

Pages - Menu

Transalte

Social Icons

BLOGROLL

www.derilsites.blogspot.com

About Me

Featured Posts

- Copyright © DHAN -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -